Monthly Archives: September 2016

Antara Jill, Anies Baswedan dan Pendidikan kita

Jill

Pagi ini Jill, muridku yang berusia 6 tahun, memintaku untuk memandunya dalam mengikat tali sepatu. Dia sungguh kesulitan dalam mengikat tali sepatunya. Saat itu kalau pengen gampang, aku tinggal mengikatkantali sepatu itu agar waktuku tidak terbuang percuma mengajarkan sesuatu yang sepele. Aku juga bisa saja menuliskan atau bercerita pada ibunya, menyarankan agar dia menggunakan sepatu yang lebih mudah digunakan anak kelas 1 saja. Tapi aku ingat, memandunya dalam mengikat tali sepatu bukan sekedar membantunya menyelesaikan urusannya, tapi ada banyak pelajaran yang harus kami lalui disana. Jill belajar mengikat tali sepatunya, melatih motoriknya serta koordinasi antara tangan dan mata. Akupun belajar untuk lebih sabar di situasi itu, dan terlebih, aku belajar untuk mengingat lagi bahwa Jill adalah seorang anak yang masih sedang belajar. Jill masih berproses dan aku harus membantunya dalam proses itu, bukan memaksanya untuk sesuai menjadi seperti yang aku inginkan.

Pak Anies Baswedan

Sore ini aku mendapat kabar kalau pak anies baswedan dicopot dari jabatannya. Aku –dan aku yakin banyak orang di luar sana- kaget mendengar keputusan pak pres. Bagi aku, usaha pak Anies ini sudah sesuai dengan konsep revolusi mental yang didengungkan pak pres. Betapa tidak, dia menghapuskan UN yang menjadi momok setiap siswa, menerbitkan indeks integritas sekolah, program pendidikan yang peduli pada anak, dan membangun jembatan antara orangtua, anak dan guru. Infografis yang beliau sampaikan juga sangat membantu agar setiap orang dapat memahami maksud dari instruksinya. Beliau punya visi yang sangat jauh ke depan karena beliau tahu bahwa sumber daya terbesar yang dimiliki oleh Indonesia bukanlah terletak pada kekayaan alamnya, tetapi sumber daya manusianya. Dan itulah yang hendak digarap oleh pak Anies.

Terus terang aku sangat mendukung program pak Anies mengenai meningkatkan keterlibatan orangtua pada kegiatan belajar anak, misalnya program mengantarkan anak ke sekolah pada hari pertama. Mengantarkan ke sekolah ini bukan sekedar mengantar sampai ke pintu gerbang lalu meninggalkan anak begitu saja, tetapi diharapkan juga agar orangtua berkomunikasi dengan guru untuk lebih mengenal guru yang akan mendidik putra putri mereka. Dengan begitu kewajiban orangtua tidak berhenti pada teknis pembiayaan juga, tapi orangtua wajib berkomunikasi, bersinergi dengan guru untuk masalah pendidikan anak.

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa pak Anies mengurusi urusan orangtua, yang notabene jauh dari urusan sekolah. Bahkan banyak orang menganggap bahwa itu sangat tidak penting. Mereka lupa pada hal yang paling esensial dalam mendidik anak yaitu keterlibatan semua pihak untuk mendidik anak. Aku melihat bahwa beliau paham betul bahwa mendidik anak bukan hanya tugas guru semata atau orangtua semata, atau lingkungan semata, tetapi harus ada sinergi diantara ketiganya.

Aku masih mengingat lomba yang diselenggarakan kemendikbud yang berjudul “peran Keluarga dalam pendidikan Anak”. Upaya sederhana, namun memiliki dampak yang besar. Beliau paham bahwa jurnalistik warga menjadi sebuah metode yang ampuh untuk mendidik masyarakat mengenai peran penting keluarga. Dari jurnalistik warga inilah diharapkan adanya pencerahan di masyarakat mengenai langkah-langkah mendidik anak-anak.

Berikut kutipan surat pamit pak anies yang aku rasa sangat penting untuk diperhatikan :

  • Di sekolah tampak hadir bukan saja wajah ana-anak tapi juga wajah masa depan indonesia
  • Jadikan pagi belajar pagi yang cerah
  • Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah, tapi mata hati tiap anak, tiap guru yang menjadikannya ceran
  • Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya, memenuhi potensi unik dirinya

Pendidikan kita

Jill adalah salah satu contoh murid yang membutuhkan waktu untuk menjadi ahli dalam mengikat tali sepatunya. Seperti waktu yang dibutuhkan Jill untuk menjadi ahli, demikian juga proses pendidikan di negeri kita. Aku melihat bahwa pola pendidikan yang digarap oleh anies adalah pola pendidikan yang memperhatikan proses belajar anak dan itu adalah sebuah proses yang  tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Butuh waktu sampai benar-benar tercipta keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Namun nampaknya dunia kita lebih menyukai sesuatu yang instan dan besar dengan asumsi proses revolusi mental itu bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Nampaknya pak prespun mengharapkan seperti itu. Mungkin saja ia disana berharap agar pak Anies bisa menciptakan keajaiban, dalam waktu 20 bulan bisa merevolusi mental masyarakat. Atau jangan-jangan, aku saja yang berburuk sangka, jangan-jangan sebenarnya ini bukan masalah proses pendidikan ataupun revolusi mental, tapi masalah politik semata. Ah, lagi lagi politik. Kalau sudah masuk di ranah itu, aku lebih baik membantu Jill memandunya mengikat tali sepatu saja, ga peduli siapapun pemimpinnya.

 

Advertisements

Menciptakan Realitas Mengenai Sistem Pendidikan yang Sedang Kualami

KULIAH UNTUK APA????

This time i really get angry and frustated for my life.

Beberapa saat yang lalu aku memutuskan untuk kuliah. Aku mengambil jurusan yang memang kuminati, psikologi pendidikan. Aku sadar, karena ini memang minatku, maka aku memiliki motivasi yang tinggi untuk berkuliah, dan motivasi itu berjalan beriringan dengan ekspektasi yang tinggi juga. Untuk itu aku memilih kampus yang aku anggap terbaik berdasarkan pertimbangan yang telah kubuat. Akhirnya aku mendaftar di sebuah PTN ternama di surabaya.

Ekspektasiku adalah : kami akan mengikuti perkuliahan yang menarik dengan banyak diskusi dan analisa mengenai proses belajar yang terjadi di Indonesia ditinjau dari sudut pandang psikologi ataupun dilihat dari sudut pandang dunia pendidikan. Aku berharap, proses yang kami jalani akan bisa membantu kami untuk kemudian kami terapkan dalam pekerjaan kami nantinya.

Di awal matrikuliasi, aku menikmati proses kami karena disana aku mendapat materi yang benar-benar baru. Aku bahkan sampai belajar mengenai bagian bagian otak karena aku ingin tahu bagian mana otak yang bekerja untuk ini dan itu. Aku dengan serius mengikuti perkuliahan walau model pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan harapan. Tetapi aku meyakinkan diri sendiri, ini hanyalah matrikulasi, nanti akan berbeda.

Diawal perkuliahan semester 1, ekspektasiku semakin jauh dari kenyataan. Aku harus menerima kenyataan bahwa metode mengajar yang dilakukan oleh dosenku adalah metode yang lama, dimana dosen menjadi pusat dan menjadi pembicara untuk setiap hal. Aku heran, padahal kami belajar di jurusan psikologi, pendidikan pula. Sebuah jurusan yang sempurna untuk belajar mengenai metode mengajar yang baru dengan memperhatikan perkembangan peserta didik (dalam hal ini kami) sehingga kami bisa berefleksi pada proses belajar kami sehingga peserta didik kami menjadi berkembang juga. Tapi itu idealismeku.

Well…. things happend like this. Dosen mengajar dengan tidak mengalami perpindahan lokasi, materi banyak kami dapatkan dari power poin yang tidak menarik, 90% waktu digunakan untuk dosen berbicara, materi lebih banyak berupa pemahaman konsep daripada pengembangan skill dan seperti yang diduga, ujianpun berupa hafalan materi (hanya ada 1 mata kuliah yang berupa  analisa).

Tedx

Aku suka menonton acara tedx terutama di bagian pengembangan diri. Aku suka dengan metode penyampaian pesan mereka yang sederhana, tetapi mengena pada sasaran. Aku suka dengan materi yang disampaikan, aku suka dengan fakta bahwa hidup bukan sekedar hapalan teori, tetapi bagaimana teori itu dibuat dari realita sehari hari dan menjadi teori yang berkembang, seperti spiral yang terus berputar dan saling mempengaruhi. Dan aku berpikir, seandainya kuliah kami menjadi seperti itu, dimana dosen menyampaikan pengajaran, pemahaman dan pengalamannya, dan bukan hanya penyampai pesan dari teori teori besar yang harus kami hafalkan. Tapi kembali lagi, itu ekspektasiku.

Salah satu tayangan tedx yang aku suka adalah tentang menciptakan realitas oleh Gary Whitehill. Saat itu dia tidak berbicara mengenai realitas pendidikan. No, he is not. Dia berbicara tentang realitas yang lain, tentang bagaimana kita membangun realitas kita dan usaha apa saja yang perlu dilakukan. Maka ketika menonton itu, aku berefleksi tentang apa yang seharusnya aku lakukan, dan bukan apa yang terjadi di hidupku. Jadi, ini keadaannya (dan aku menyebut ini realitas luar) :

  1. Dosen mengajar teori dengan cara yang membosankan
  2. Aku kesulitan untuk menghubungkan antara teori besar dengan praktek di sekolah
  3. Pertanyaan : apa manfaat dari semua teori yang dijejalkan di perkuliahan?

Membangun realitasku sendiri

Gary Whitehill menyatakan bahwa kita harus membangun realitas sendiri. Darinya, aku merasa ada tiga hal yang aku pelajari :

  1. Mengapa?

Pertanyaan mengapa ini menjadi landasan yang penting karena mengapa mengacu pada alasan kita untuk melakukan segala sesuatu. Untuk itu, kita harus memikirkan dengan sungguh sungguh alasan kita. Pertanyaan “mengapa” pula yang bisa kita jadikan sebagai mercusuar yang akan membantu kita untuk sampai pada tujuan.

  1. Mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai

Dalam hal ini, pihak luar turut berperan untuk membantu memotivasi diri kita. Kadang, justru hal itu tidak kita dapatkan dari teman dekat, orangtua ato rekan kerja kita melainkan dari luar. Seperti misalnya : kita ingin menjadi seorang pemain basket ternama, maka kita harus bergaul di lingkungan orang yang dapat bermain basket sehingga mereka dapat mengajarkan kita cara bermain basket. Jika kita tetap stuck berada di lingkungan yang tidak memahami basket, mana mungkin kita bisa belajar basket?

  1. Print and post it

Tulis apa yang kita inginkan dan menempelkan pada tempat yang paling sering kita lihat sehingga itu menjadi sugesti yang mendalam.

Realita pendidikan yang ditawarkan di kampusku mungkin sangat jauh dari ekspektasiku. Dan masalahnya adalah, aku percaya bahwa itu realitas pendidikan yang g bisa aku hindari, sehingga itu menjadi realitasku juga. Usaha untuk membangun realitasku sendiri selalu terbentur dengan banyak alasan, alasan-alasan yang sebenarnya dapat kuhindarkan. Untuk itu aku harus membangun realitasku dan menyingkirkan alasan alasan itu (untuk itu aku g berkeberatan dengan setiap emosi yang aku alami, karena itu akan membantuku untuk mencari solusi).

Jadi ini realitas yang ingin kubangun : menciptakan suasana belajar yang membantuku untuk dapat menghubungkan antara teori dengan praktik di sekolah yang sehari hari kuhadapi. Terlepas dari realita luartersebut, aku rasa aku perlu mengambil sudut pandang baru dari perkuliahan yang aku alami. Alih-alih menyebut bahwa proses perkuliahan itu membosankan, maka aku harus memandang itu sebagai sebuah kesempatan belajar individual dengan mencari dan membaca banyak sumber belajar. Mengapa? Karena bagiku PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR MENYAMPAIKAN TEORI, tetapi bagaimana aku bisa menghubungkan teori dan realitas sehingga menciptakan GENERASI YANG BARU, yang berbeda dengan apa yang kujalani saat ini. Maka generasi yang ingin kuciptakan adalah GENERASI YANG MAU BELAJAR DAN MENGEMBANGKAN DIRI DENGAN BERBAGAI PENGETAHUAN DAN SPESIALISASI YANG MEREKA MILIKI, apapun bentuk spesialisasi itu. Sounds so theoritical? Might be yes, tapi sayangnya, teori yang sangat sederhana itulah yang terlupakan, bahkan bagi orang yang memiliki gelar tinggi sekalipun. Langkah selanjutnya adalah mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai. Untuk menciptakan realita itu, maka aku harus berkumpul dengan “sesamaku” untuk membangun ataupun memperkuat pondasi dalam merealisasikan pertanyaan “mengapa” tersebut. Untuk itu saat ini aku bergabung dengan komunitas guru belajar, ataupun belajar dari buku buku di perpustakaan yang aku rasa sangat menarik untuk aku baca, serta mengerjakan portfolioku dengan sungguh-sungguh. So now…. stop making excuses and start the action. Be stupborn to all i believe to create my own reality. I’M A TEACHER AND I WILL CREATE MY REALITY.