Monthly Archives: October 2012

bullying???

Bullying

Kata itu begitu menggema di benakku. Menurut pemahamanku selama ini, bulliying adalah usaha menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal, dilakukan secara intens oleh pelaku dan itu menimbulkan trauma yang mendalam bagi korban.

Di sekolahku ada orangtua yang concern sekali dengan masalah bullying. Dia merasa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bullying karena dia bekerja di lembaga International yang salah satu concernnya adalah anak dan bullying. Bagiku kasus “bullying” ini bagaikan pedang yang bermata dua dan terkadang memiliki batas yang tidak jelas.

Hal itu tentu saja memunculkan kesulitan bagi kami sebagai seorang guru. Suatu saat orangtua ini mendatangiku karena aku adalah guru anaknya. Dia merasa kini anaknya telah berubah menjadi semakin agresif, kini anaknya menjadi lebih sensitive dan kadang berteriak, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.  Si anak bercerita pada mama kalau ia sering ditabrak oleh salah seorang temannya dan terkadang ia diejek oleh temannya. Cerita anaknya itu membuat ia berkesimpulan bahwa anaknya mengalami bullying oleh temannya. Ia berpendapat bahwa temannya ini harus ditindak mungkin dengan diberikan cornering dan sebagainya. Aku menjelaskan kepadanya bahwa kami memiliki sistem reinsforcement negative untuk anak-anak yaitu dengan pengambilan star card mereka setelah di beri reminder sebanyak 3 kali. aku berkata padanya bahwa kami akan menyelidiki kejadian itu dan mengawasi lebih ketat anak-anak kami.

Laporan itu kami terima dan kami tindak lanjuti. Kami mengawasi anak yang dimaksud oleh sang orangtua, namun selama pengawasan kami, kami tidak mendapati adanya indikasi bullying yang dilakukan oleh anak tersebut. Anak yang dimaksud memang memiliki pergerakan yang sangat cepat. Ia cenderung banyak bergerak karena tenaga yang dimilikinya juga cukup banyak. Namun kami melihat ia tidak dengan sengaja menyakiti teman-temannya, secara intens menyakiti seorang anak, sehingga kami merasa itu masih belum dapat masuk pada kategori bullying.

Sementara itu kami juga melihat dari dua sisi. Kami melihat sang “korban” adalah anak yang cukup pasif dan pergerakannya lamban. Sehingga dalam setiap hal, ia akan menjadi yang tertinggal dan terkadang ia memang tanpa sengaja tertabrak oleh beberapa teman yang memiliki tenaga yang extra.

Informasi mengenai bulliying di satu sisi memang membantu kita untuk lebih aware dalam melihat kondisi anak baik secara fisik maupun psikologis, namun terkadang seperti yang aku ungkapkan di awal, batas pemahaman mengenai bullying itu sendiri terkadang sangat kabur. Apakah ketidaksengajaan dalam melakukan sesuatu itu dapat dikategorikan sebagai bullying? Bagi aku tentu tidak dapat serta merta disamaratakan seperti itu. Kami sendiri sebagai guru tidak berhenti-henti mengingatkan agar anak-anak dapat bertindak dengan lebih berhati-hati dan tidak perlu terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu.

Sekolah kami selama ini memang menjanjikan safety and security sebagai salah satu bagian dari promosinya. Safety and security ini melingkupi banyak hal seperti keamanan saat pengantaran maupun penjemputan anak, dan juga security saat berada di sekolah. Bangunan yang kami miliki dibuat dengan perhitungan yang aman anak dalam arti setiap sudut tumpul sedapat mungkin dihindari. Begitu juga dalam pemilihan cat maupun interior sekolah. Semua itu telah dipertimbangkan dengan alasan demi safety dan security dari anak.

Kami juga memiliki peraturan bagi anak yakni dilarang berlari (yang mana itu terkesan cukup aneh buat beberapa orang diantara kami). Peraturan itu dibuat untuk meminimalkan terjadinya tabrakan diantara anak-anak. Buatku pribadi, peraturan itu bagaikan dua sisi yang berlainan. Di satu sisi berusaha untuk melindungi keselamatan anak, tetapi di sisi lain juga berarti mengurangi hak anak untuk bermain.

Back to bullying…

Kata yang ambigu ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi kami sebagai seorang pendidik. Beberapa kali kami mendapati laporan dari orangtua mengenai bullying padahal setelah kami tindaklanjuti, ternyata kejadian yang diungkapkan tidak persis seperti yang mereka ungkapkan. Cerita dari anak terkadang oleh orangtua ditanggapi secara berlebihan, ditambah dengan asumsi adanya tindakan bullying, cukup membuat kami sebagai seorang guru berkutat dengan masalah yang itu-itu saja.

Sebagai informasi :

Bullying may be defined as the activity of repeated, aggressive behavior intended to hurt another person, physically or mentally. Bullying is characterized by an individual behaving in a certain way to gain power over another person.[9]

Norwegian researcher Dan Olweus defines bullying as when a person is

“exposed, repeatedly and over time, to negative actions on the part of one or more other persons”. He defines negative action as “when a person intentionally inflicts injury or discomfort upon another person, through physical contact, through words or in other ways”.[10]

Diambil dari wikipedia

Kalo tindakan dari anak itu dilakukan atas dasar ketidaksengajaan dan bukan atas niatan untuk meningkatkan kekuasaannya atas anak lain, maka itu tidak dapat dikategorikan sebagai bullying. Begitu juga kalau tindakan itu tidak dilakukan secara kontinyu, dengan kesengajaan, itu juga msaih belum masuk category bullying.

Kami pernah membahas ini dalam kegiatan parents meeting yang diadakan oleh sekolah. Dan terjadilah pembicaraan yang hangat mengenai topic ini. di satu sisi, sekolah menyatakan bahwa anak masuk dalam periode bermain dimana saat disekolah ia akan bersosialisasi dengan teman-teman dan tidak semua bagian dari sosialisasi itu merupakan sosialisasi yang menyenangkan. Terkadang anak akan merasakan perasaan negative berupa kesedihan, atau sakit karena tidak sengaja terkena teman-teman. Namun satu yang perlu diingat, itu adalah proses bagi si anak. Yang perlu dilakukan oleh orangtua dan guru adalah memberikan penyadaran mengenai proses yang dijalani oleh anak dan memberikan stimulasi berupa pertanyaan, apa respon terbaik yang dapat kita ambil untuk dapat menanggapi keadaan seperti ini. Respon terbaik bukan berarti menjauhi masalah atau serta merta menarik diri dari keadaan tersebut, tetapi secara bijak melihat keadaan tersebut dari dua sisi dan mencari solusi atas permasalahannya. tapi bagi orangtua ini -menurut penuturannya padaku saat itu, anak yang masih kecil -umur 6 tahun- masih harus banyak dikawal oleh orang yang lebih tua karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk membela diri. mereka masih harus diberi arahan dan secara kontinyu diawasi oleh orang yang lebih tua. mungkin jika sudah berada di kelas 6 di mana logika dan fisik mulai terbentuk, mungkin pada saat itu mereka akan lebih bisa mampu untuk dilepas secara mandiri.

pada dasarnya sekolah sudah mengusahakan yang terbaik untuk setiap anak yang belajar di sana. untuk masalah bullying yang dikemukakan oleh orangtua memang patut mendapat perhatian khusus, tetapi sesungguhnya bagiku yang memiliki latar belakang guru, ada beberapa hal yang kuperhatikan dari kasus ini

1. kita tidak dapat menjustifikasi pendapat kita tentang buliying kalo kita tidak mengamati secara langsung tentang apa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. pengamatan 1-2 hari tentu bukan sebuah pengamatan yang valid. begitu juga dengan kejadian 1-2 kali juga belum bisa dikatakan sebagai tindakan bullying. Sebelum menjustifikasi itu sebagai tindakan bulliying, mungkin ada baiknya kita bertanya, bagaimanakah karakter dari anak yang disebut sebagai pelaku? apakah dia mempunyai kecenderungan untuk melukai orang secara sengaja atau tidak? apakah dia melakukan itu secara intens pada anak tertentu ataukah dia memang melakukannya kepada anak2 lain? apakah hal ini disebabkan oleh keinginan si anak untuk menyakiti secara sengaja atau karena dia memang kurang dapat mengontrol gerakan tubuhnya?

2. begitu juga kita dapat melihat latar belakang karakter anak. Anak yang disebut sebagai “korban” ini adalah seorang anak yang cukup sensitif dan mudah menangis. dia punya perasaan inferior dalam hatinya. pernah suatu ketika dia menangis hanya karena tidak mendapatkan lembar soal dari guru. dan bukannya mengatakan hal itu pada guru, dia malah menangis dalam diamnya.

3. anak usia 6 tahun biasanya akan mengalami masa perubahan dimana dia telah mengenal teman-teman dan lingkungannya. Pada umumnya anak kelas 1 SD akan mulai untuk mencoba untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma untuk mencari tahu apa reaksi dari orang yang lebih dewasa. hal ini bukan sebuah hal yang negatif, tetapi dari hal ini kita bisa belajar untuk lebih konsisten terhadap apa yang kita  berlakukan pada anak. anak2ku di tahun sebelumnya (tahun ajaran 2011-2012) sudah mulai bermain logika dengan kami. mereka akan mengungkapkan beribu alasan untuk membenarkan perilaku mereka. tetapi kami berdua menerapkan konsistensi terhadap kesepakatan yang kami buat, sehingga ketika mereka melanggar kesepakatan itu, mereka akan tetap menerima konsekuensinya.

4. mengenai bahasa verbal yang “pelaku” ucapkan kepad “korban”. aku ingat kepala sekolahku pernah menyatakan bahwa memang cukup wajar bagi anak-anak seusia mereka mendengar sebuah kata yang baru dan belum mereka pahami artinya, lalu mereka tirukan di sekolah. contohnya : anak2ku sekarang mudah sekali berkata “trus harus gue bilang wow gitu”. bagi mereka sendiri, kata ini belum mereka pahami artinya. mungkin mereka dapat menyebutkan arti secara harafiah, tetapi mereka belum dapat memahami kegunaan ataupun waktu penggunaan kata ini. kita tidak dapat memfilter seratus persen bahasa-bahasa yang didengar dan diucapkan oleh sang anak. untuk itu diharapkan orang tua -at least orang yang lebih tua seperti kakak, guru, parents, eyang or siapapun itu- mampu memberikan penjelasan tentang kata2 baru itu, apakah kata-kata itu boleh digunakan atau tidak dan jika dapat digunakan, saat yang tepat untuk menggunakan kata tersebut (sebagai contoh : kata miskin. sebenarnya ini adalah kata yang netral, tetapi artinya tidak lagi menjadi netral manakala digunakan untuk mengejek orang lain seperti “kamu adalah orang miskin”. sebagai orang yang lebih tua, mungkin kita dapat memberikan penjelasan apa arti miskin, mengapa orang disebut miskin, kapan kita boleh menggunakan kata  tersebut, apakah boleh kita menerapkan kata tersebut pada setiap orang dan sebagainya. memang hal ini terkesan ribet tetapi berhubungan dengan anak memang bukan sesuatu hal yang mudah. tetapi jika kita dapat menerapkan didikan baik pada anak kita pasti akan menghasilkan generasi yang berkualitas.

Advertisements