Monthly Archives: April 2015

Sensasi Banjir di Belanda

Penulis : Shanti Yanuarini
Elemen : Air

Air adalah elemen yang sangat penting di dunia ini karena kita tidak akan bisa hidup tanpa air. Memasak, mencuci, minum, adalah sedikit contoh dari aktvitas manusia yang berhubungan dengan air. Tapi bagaimana jika air menjadi bencana? Hal itu pernah terjadi di Belanda, sebuah negeri yang wilayah daratnya berada di bawah level permukaan air laut. Untuk mengatasi hal itu, pembangunan tanggul menjadi prioritas bagi wilayah pinggir pantai mereka dengan tujuan mencegah datangnya banjir. Prof Wim van Leussen menyatakan bahwa ada 3 periode waktu pengendalian banjir di Belanda yakni tahun 1200 – 1798; 1798 – 2000 dan abad ke 21. Pada tahun 1200 – 1798, pengendalian banjir di Belanda masih dilakukan secara lokal. Pada masa itu dibangun banyak tanggul dan bendungan baru. Tetapi persoalan banjir masih belum selesai. Pada periode 1798 -2000, pemerintah Belanda mendirikan Rijkswaterstaat (direktorat khusus yang menangani masalah banjir). Di periode ini banyak inovasi pengendalian banjir yang bermunculan baik dari segi material maupun metode pengendalian banjir. Sampai pada akhirnya tahun 1953 tercatat sebagai tahun terakhir terjadinya banjir di Belanda.
Walau penanganan banjir di Belanda dapat dikatakan telah mencapai sukses, pemerintah Belanda merasa inovasi material dan metode penanganan banjir secara fisik saja tidak cukup. Perlu ada upaya lain untuk mencegah datangnya banjir selain dengan tanggul-tanggul yang dibangun. Untuk itu pemerintah berupaya membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk melakukan usaha bersama memelihara wilayah mereka dari bahaya banjir.
Pemerintah Belanda kemudian mengajak salah seorang inovator terkemuka Belanda bernama Daan Roosergarde untuk menciptakan suatu instalasi berbasis teknologi bernama Waterlicht, sebuah instalasi yang mampu menghasilkan persepsi banjir kepada para pengunjungnya. Waterlicht ini adalah alat pencipta gelombang cahaya yang menyerupai aurora borealis yang ditimbulkan dari LED biru. Untuk dapat menciptakan sensasi gelombang itu maka Daan menempatkan sebuah lensa yang diatur dalam kotak hitam yang diletakkan di sekeliling area tanggul yang menciptakan semacam gelombang cahaya di langit langit. Sinar dari lensa akan bergerak dan membuat pola yang berputar bagai aurora borealis dalam daratan diantara cahaya. Angin yang bertiup di sekitar tanggul memperkuat perasaan timbulnya banjir sehingga pengunjung merasakan pengalaman mengambang.
Yang menarik dari Waterlicht ini adalah ide dasar dari pembuatan instalasi ini. Dewan Perairan Belanda yang mengajak Roosergarde untuk membangun Waterlicht ingin agar mereka dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran air yang dimiliki negeri Belanda. Mengutip dari pernyataan Dewan Perairan Belanda Hein Pieper dalam wawancara dengan media dezeen.com “Di Waterlicht, orang akan dapat merasakan seperti apa rasanya hidup tanpa tanggul di Belanda. Kesadaran itu menjadi penting karena itu adalah pondasi utama untuk melakukan pemeliharaan terhadap lingkungan”

Jadi, alih alih hanya membuat tanggul baru atau menanamkan pengetahuan mengenai banjir melalui seminar atau pertemuan di masyarakat, pemerintah Belanda dan Roosergarde memiliki ide kreatif untuk mengajar masyarakat dalam bentuk yang berbeda. Pembuatan Waterlicht ini menyentuh kesadaran psikologis pengunjung dengan memasukkan sensasi banjir ke dalam pikiran mereka sehingga mereka akan berpikir mengenai solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir itu terjadi pada mereka. Kesadaran di level psikologis ini akan memiliki dampak lebih lama dibandingkan dengan hanya menyajikan informasi tertulis sehingga nantinya masyarakat diharapkan dapat terlibat untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan, terutama mengenai banjir disana.
“The only way forward, if we are going to improve the quality of the environment, is to get everybody involved” ~Richard Rogers~

Refrensi
http://www.dutchdailynews.com/dutch-artists-and-innovators-you-need-to-know/
http://www.fastcodesign.com/3043184/slicker-city/this-eerie-virtual-flood-will-scare-you-into-giving-a-damn-about-climate-change
http://www.dezeen.com/2015/02/25/daan-roosegaardes-waterlicht-installation-northern-lights-netherlands/
http://www.newcitiesfoundation.org/interview-month-daan-roosegaarde-clean-landscapes-techno-poetry-story-telling-cities/
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/05/15/800-tahun-menaklukkan-banjir-457571.html
http://www.google.images.com

Advertisements

PM (Paguyuban Mahasiswa)

Semester lalu aku mulai mendaftar kuliah di salah satu PTN di surabaya. Kalau di perkuliahan sebelumnya aku menjadi seorang perantau, maka kali ini aku kuliah di kotaku sendiri dan tinggal bersama kedua orangtuaku.

Bertahun tahun yang lalu, saat kuliah di jogya, awalnya sempat terbersit kekuatiran karena aku tidak memiliki satu keluargapun disana. Tidak cuma aku, ternyata orangtuaku juga kuatir mengingat hanya aku yang menjadi seorang perantau di keluarga kami.

Tapi ternyata kekuatiran kami segera hilang karena adanya bantuan dari Paguyuban. Sudah menjadi kebiasaan buat mahasiswa teologi yang merantau di luar kotanya untuk membentuk sebuah komunitas, atau dalam hal ini istilahnya adalah paguyuban. Karena aku berasal dari GKJW, maka paguyuban kami disebut PM GKJW atau Paguyuban Mahasiswa GKJW. Tidak hanya GKJW, gereja dari berbagai denominasi juga memiliki paguyubannya sendiri. Masing-masing PM memiliki dosen pengampu yang berasal dari denominasi yang sama untuk membimbing kami.

Selain bertujuan untuk membantu proses adaptasi mahasiswa baru, PM ini juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kolegialitas rekan sekerja, karena setelah lulus, umumnya lulusan teologi akan menjadi Pendeta yang tersebar di berbagai daerah. PM juga berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi dari Gereja pusat ke mahasiswa yang sedang studi. Untuk meningkatkan rasa persaudaraan, maka diadakan pertemuan setiap satu bulan sekali. Karena kami mahasiswa teologi, maka pertemuan ini diisi dengan ibadah yng dipimpin per angkatan, lalu dilanjutkan dengan kegiatan rutin seperti menyampaikan info penting atau saling berbagi kesulitan atau perasaan (curhat gitulah).

Paguyuban ini sangat membantu karena akhirnya kami para perantau g merasa sendirian di kota asing. Aku ingat bahwa salah satu tradisi dari PM GKJW adalah mengkoordinir keberangkatan adik kelas dari Sinode GKJW di Sukun Malang, untuk kemudian dijemput di Terminal untuk tinggal di salah satu kontrakan kakak tingkat selama tes masuk. Hal ini kualami di tahun 2001. Ketika aku mengikuti tes masuk di UKDW, kakak kelas menjemput kami dan mengantar kami di rumah kontrakan mereka (dipusatkan di sana), agar kami tidak kesulitan mencari penginapan selama mengikuti tes masuk. Untuk makanpun, kakak kelas mengajak kami makan bersama di warung warung yang ada agar kami tidak kesulitan mencari makan. Saat tes masuk kami sudah merasakan adanya ikatan kekeluargaan dengan PM dan kami tidak merasa sendirian.

Jika aku ingat ingat lagi, itu adalah pertolongan yang luar biasa besar karena aku, yang tidak mengenal siapapun disana, ternyata memiliki tempat untuk bersandar dan tempat untuk meminta bantuan. Merekalah yang membantuku berdaptasi dan merekalah pulalah yang kemudian menjadi keluargaku. Paguyuban tidak hanya ikatan yang bersifat organisatoris, tetapi PM bagaikan sebuah rumah yang dihuni keluarga dengan berbagai karakter dan saling membantu satu dengan yang lain. Sebagai ungkapan terimakasih kami, maka kamipun melakukan hal yang sama pada adik kelas kami. Alih alih menjadi sebuah beban, menjemput adik kelas baru dan membimbing mereka kini memiliki makna baru, yaitu sebagai ungkapan rasa terimakasih karena kamipun pernah berada dalam posisi mereka.

Kini 10 tahun telah lewat. Aku telah berpisah dengan sedulurku di paguyuban mahasiswa, tetapi kadang kami masih saling melakukan kontak. Walau aku bekerja di ladang yang berbeda, tetapi paseduluran tidak mengenal batas jenis pekerjaan. Aku masih tetap merasakan kehangatan pertemanan yang sama dengan mereka.

Ps : buat kamu yang perantau tanpa ada saudara di kotamu yang baru, aku memahamimu karena aku pernah berada di tempat yang sama denganmu.

Happy Shoping at DEAR Time

We have DEAR TIME in our school. Dear time is a time for student to read. We put Dear time after lunch time and it happend for 15 minutes. Unlike any student that hate to read, most of our students read a lot. They enjoy their Dear Time.

In my class room, most of my students love to read, not only in their Dear time but also  in their free time. From their reading, they create their own imagination and also, some of my students have initivative to make some experiment about science.

This week i make our Dear Time in a different way. This week our math lesson is about money. They learn about the value of money, how to count their grocery etc. In our activity, we also make some real situation where they had to pay to buy something. They kinda enjoy this activity. This week i used our dear time as a part of math learning process. I put price on every book that we have in our mini library and i give them Rp 50.000 for them (off course it used toys money that have same value with the real money). All they had to do is buy the books they want and pay with the money that i gave. I also choose a student to become a cashier. For the student who buy the book, they have to count their money, how much they spend and also the change. And for the chashier, he or she had to give their change with a different nominal. They enjoy this activity very much. Some of my student even lend me their book to be “sold” in my classroom.

Day two become more interesting for me. At day two, they know what to do, so they choose their books and count his or her money before they go to cashier. I have books that unlabbeled yet, and they ask about this book. When i told them that its a free book, they just try to get those free book and share the info  to the other friend. This make me feels like im the owner of a bookstrore and my students are my buyer. I even make a rules for the visitor to keep calm during their visit in my store a.k.a in our class. If someone get too noisy, they got reminder from me. If they did it more than 3 time, i give them a time out. About the price itself, some student are asking about the discount. “ms, do you have discount for this book?’ off course i said no. Sometimes its so funny to think about this. Its just a toys and they make it as a real situation by asking discount. I could even see their happy face when they found a free book. Its not even a real money, but they love to keep their money. This make our math become more enjoyable and exciting.

ps : this happend on our 2nd theme (Oct-Dec 2014)