Monthly Archives: December 2016

Hasil Seminar Disiplin Positif (part 2)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, disiplin positif bertujuan untuk membantu anak untuk dapat mengembangkan kendali diri. Dalam hal ini, anak diajarkan untuk menjadi orang yang percaya diri dan mampu mengambil keputusan yang tepat.

Pak Bukik Setiawan selaku dosen di Kampus Guru Cikal mengajarkan secara lebih spesifik mengenai beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengembangkan disiplin positif dalam diri anak.

Menurut pak Bukik, mengajarkan disiplin positif pada anak bukan berarti mengajarkan kepatuhan pada anak. Baginya, kepatuhan dapat menjadi berbahaya karena kepatuhan akan membuat seseorang untuk tidak mampu berpikir kritis terhadap keputusan yang telah dibuat. Apabila ornag yang membuat keputusan adalah orang yang baik dan benar, tentu tidak menimbulkan masalah, namun bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang tidak baik, dan anak tidak mampu berpikir kritis, melainkan hanya mengikut keputusan itu saja, maka bisa jadi anak akan masuk dalam lingkungan yang salah.

Maka disiplin positif adalah pola disiplin yang memerdekakan anak, menjadikan anak lebih mandiri dan mampu mengembangkan kesadaran untuk berperilaku positif dalam jangka panjang. Bukan kemampuan untuk patuh melainkan kemampuan untuk menahan diri dan tahan terhadap godaan negatif dan tahan terhadap kesulitan.

Disini peran orangtua dan guru menjadi sangat penting bagi pengembangan perilaku disiplin positif bagi anak. Orangtua memiliki peranan yang krusial karena setiap harinya anak-anak akan tinggal bersama orangtuanya yang mana artinya orangtua akan menjadi role model bagi anak. Untuk itu orangtua perlu untuk belajar mengelola emosinya agar dapat berkeyakinan positif pada anak. Orangtua yang memiliki emosi yang meledak-ledak malah akan menyulitkan anak untuk mengembangkan kesadaran diri karena anak hanya akan merespon emosi orangtua bukan karena kemauannya. Selain pengelolaan emosi, hubungan yang baik antara orangtua dan anak perlu untuk makin ditingkatkan. Orangtua perlu untuk dapat mengamati ekspresi dan perilaku anak, mereka juga perlu untuk banyak mendengar dan memiliki komunikasi yang baik dengan anak. Mereka juga perlu untuk dapat memotivasi anak dalam mengekspresikan hal hal yang positif dari dalam dirinya.

Selain orangtua, guru juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Secara personal, guru perlu dapat memahami anak, bertanya pada mereka mengenai kejadian yang terjadi, mendengarkan cerita anak dan membuat kesepakatan bersama (kesepakatan yang benar-benar dibuat oleh guru dan siswa, dan bukan hanya sekedar aturan sekolah. Kesepakatan juga tidak perlu terlalu banyak karena anak akan makin sulit untuk menjalankan). Guru juga perlu memahami tujuan dari perilaku anak, memberikan pilihan pada anak, mengembangkan kemampuan berefleksi anak, memberikan apresiasi berupa pujian dan memberikan anak konsekuensi apabila melakukan pelanggaran

Menjalankan semua ini adalah sebuah idealisme yang hendak dikembangkan dalam menjalin relasi dengan anak. Namun terkadang ada hambatan hambatan tertentu yang menghalangi orangtua atau guru dalam menerapkan disiplin positif. Pengelolaan emosi menjadi salah satu contohnya. Tidak semua orangtua ataupun guru mampu mengelola emosi dengan baik. Ada kalanya kemarahan tiba-tiba muncul dan menguasai pikiran. Untuk itu pak Bukik dan Bu Neny menjelaskan, apabila mulai muncul kemarahan, maka orangtua atau guru dapat mengambil jeda sebentar. Misal dengan bernafas atau relaksasi, atau diam sejenak untuk menenangkan pikiran yang marah. Kita juga perlu dapat menggunakan kemampuan koginitif kita untuk mengendalikan amarah misalnya dengan tetap memiliki kesadaran akan akibat yang muncul dari kemarahan kita. Apabila orangtua ataupun guru sudah terlanjur marah, maka yang dapat dilakukan adalah menetralisir emosi negatif anak dan berkomunikasi pelan-pelan dengan anak.

Permasalahan lain yang dapat muncul dalam penerapan disiplin positif di kelas adalah adanya anak yang suka untuk memprovokasi temannya. Apabila hal ini terjadi, maka ada beberapa teknik yang dapat dilakukan misalnya dengan mengapresiasi perilaku positif anak dan mengabaikan perilaku negatifnya. Teknik lain bisa diwujudkan dengan menciptakan proses belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak yang mendapatkan konsekuensi, maka dia akan rugi karena kehilangan kelas yang menyenangkan. Apabila anak sudah memiliki relasi yang baik dan positif dengan lingkungan kelas, maka akan sulit baginya untuk menjadi provokator karena dia telah merasakan manfaat baiknya.

Selamat mencoba dan selamat berjuang ^_^

Hasil Seminar Disiplin Positif (Part 1)

Bisakah mengajarkan disiplin pada anak usia dini? Bagaimana cara mengajarkan anak untuk menjadi disiplin? Perlukah anak dihukum untuk menjadi disiplin?

Pertanyaan itu banyak berkelebat di benak para peserta seminar. Rata-rata menjawab bahwa mereka menggunakan hukuman ataupun imbalan untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin. Mengenai tingkat efektitas penggunaan hukuman atau imbalan itu, merekapun mengakui bahwa si anak yang diberikan hukuman, sering melakukan kembali kesalahan yang sama. Begitu juga dengan anak yang diberikan imbalan. Seringkali imbalan itu makin bertingkat sehingga menjadi makin memusingkan. Lalu, bagaimana caranya agar anak lebih disiplin? Bu Neny selaku dosen psikologi dan perkembangan di Unair mengajarkan dampak dari hukuman atau imbalan bagi seseorang.

Pada umumnya, hukuman berupa bentakan akan mematikan sinapsis (sambungan syaraf pada neuron anak) sehingga kemampuan untuk berpikirnya akan makin berkurang. Akibatnya, anak tidak akan terbiasa untuk merefleksikan perbuatannya. Anak tidak mengenali secara substasial mengapa ia bersalah, tetapi hanya mengenal kata kata negatif atau bentakan yang ditujukan padanya. Apabila hukuman itu melibatkan hukuman fisik, maka yang ada hanyalah sakit baik secara fisik maupun mental anak. Setelah mendapat hukuman, perilaku negatif itu tidak akan diulang dalam jangka pendek, tetapi akan kembali diulang dalam jangka panjang. Anak tidak akan memahami makna substansial dari hukuman fisik itu.

Hukuman sendiri memiliki dampak jangka panjang yaitu anak akan menjadi kurang percaya diri dan kurang berani untuk berekspresi. Kurang percaya diri juga bisa jadi akan memunculkan dependensi atau ketergantungan pada orang lain, karena si anak merasa bahwa dirinya “tidak bisa apa-apa” sehingga anak akan bergantung pada figur yang dapat mendominasi dirinya. Hal itu bisa terbawa sampai ia menjadi dewasa. Bu Neni memberi contoh kasus mengenai seorang yang terlibat dalam kekerasan dalam rumah tangga dimana si korban tidak berani untuk terlepas dari si pelaku karena si korban sudah bergantung pada si pelaku. Tanpa ada pelaku, korban merasa tidak berdaya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena adanya rasa kurang percaya diri dari korban untuk bisa lepas dari jeratan itu.)

Selain hukuman, ada lagi yang seringkali dilakukan oleh orangtua maupun guru untuk membentuk perilaku anak yaitu dengan memberikan imbalan. Imbalan pada umumnya bertujuan untuk membangun perilaku disiplin misalnya iming-iming hadiah ketika anak bersedia melakukan sesuatu. Pada nyatanya, anak hanya akan mengalami kepuasan sementara. Mereka tidak memahami manfaat dari perilaku positif yang dia kembangkan  melainkan hanya memandang imbalan atau reward saja. Pada akhirnya, frekuensi pemberian imbalan akan membuat anak menjadi jenuh. Akibatnya, orangtua akan berusaha untuk memberi peningkatan intensitas imbalan. Lalu siklus ini tidak akan berhenti apabila anak sudah mulai berorientasi untuk mendapatkan imbalan di setiap perilakunya.

Lalu harus bagaimana?

Disiplin positif dapat dijadikan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs mengajak orangtua untuk memandang anak sebagai subjek dan bukan objek semata. Artinya adalah, orangtua juga memiliki kewajiban untuk menghormati anak tetapi di sisi lain juga bertugas untuk mengingatkan anak. Disiplin positif tidak berarti harus memanjakan anak atau membiarkan anak melakukan apapun yang ia inginkan. Disiplin positif juga bukan berarti tidak ada aturan dalam keluarga ataupun mengalihkan rasa kesal pada orang lain. Alih alih melakukan itu, dalam disiplin positif, yang dibantu adalah mengembangkan kendali diri anak. Untuk itu orangtua dan guru harus mampu berkomunikasi dengan anak secara jelas. Orangtua wajib untuk menghargai anak dan mengajarkan anak untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat. Orangtua juga wajib untuk membangun rasa percaya diri anak dan mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.

 

(bersambung)