Monthly Archives: November 2012

filtrasi kata

Pada blogku  sebelumnya, secara sepintas di bagian akhir  aku membahas tentang kosakata yang mudah sekali berkembang dilingkungan anak-anak. Jika di tahun ajaran sebelumnya kata yang cukup menjadi trend adalah kata “lebay”, maka di tahun ini yang menjadi trend adalah kata “emang sekarang gue harus bilang wow gitu?”

Tidak hanya anak, orang dewasapun mengalami kecenderungan yang sama, mengucapkan kata yang sedang menjadi trend saat ini. Bahkan dari satu kalimat itu, sekarang sudah berkembang banyak sekali bentuk plesetannya seperti “masak gue harus ganti Jokowi jadi Jokowow gitu?”

Aku membaca beberapa artikel mengenai penggunaan bahasa yang berkembang belakangan ini. Mulai dari penggunaan bahasa Indonesia yang tidak lagi menjadi tuan di rumah sendiri (kompas, 31 oktober 2012) yang salah satunya disebabkan oleh munculnya beragam bahasa yang disebut sebagai bahasa “gaul” karena lazim digunakan dalam pergaulan sehari-hari, juga tentang pengaruh media yang memberikan dampak yang besar untuk pergeseran bahasa (kompas.com edisi 2 november 2012). Pergeseran bahasa Indonesia dalam kolom ini ditengarai disebabkan oleh adanya percampuran dengan bahasa asing dan juga pemenggalan huruf, yang diperkuat penyebarannya melalui media seperti social media maupun televisi. Aku pernah membaca artikel yang menyebutkan bahwa beberapa bahasa di dunia sudah punah tak ada jejaknya lagi karena memang tak ada orang yang melestarikannya (sambil membayangkan nasib bahasa Indonesia di 20tahun mendatang).

Penggunaan bahasa gaul, sekarang lebih mendominasi dalam pembicaraan sehari hari. Bahkan ada seorang artis yang menjadi trendsetter sebuah bahasa seperti “sesuatu” ataupun “cetar”. Ada dua hal yang dapat diamati dalam penggunaan bahasa itu, apakah itu digunakan karena memang keterbatasan dia dalam berbahasa ataukah justru dari keterbatasan bahasa itu sendiri sehingga dia merangkum perasaannya dalam satu kata (yang kadang penggunaannya oleh orang lain terasa kurang sesuai karena berbeda tujuan penggunaan)

Back to my kids. Banyaknya bahasa yang berkembang ini tentunya memiliki dampak yang besar bagi anak2ku. Sewaktu training, aku diajarkan bahwa anak bayi masih belum dapat merangkai huruf dalam otaknya. Hal ini dikarenakan saraf sinapsisnya belum terbentuk secara sempurna. Ketika dia mulai beranjak lebih besar, dia akan belajar untuk mengenal huruf – gabungan huruf (suku kata)- kata – kalimat dan menggabungkan kalimat.

Aku ingat sewaktu di preskul dulu, di red class (untuk anak usia 2 tahun) anak di stimulasi dengan bentuk huruf. Pada umur 3 mereka akan belajar untuk mengenali bentuk huruf dengan lebih intens dengan belajar tracing di pasir mengenai salah satu huruf dan menstimulasi dengan flash card berupa gambar dan bentuk kata. Di TK -usia 4 tahun, mereka akan diberi kata sederhana yang terdiri dari 3 huruf sun, car, red dll. Semakin besar, mereka mulai belajar suku kata seperti ba bi bu be bo dan menggabungkan 2 suku kata seperti ba-ba. Untuk mengajarkan suku kata itu sendiri ada urutan seperti ba bi bu be bo, ca ci cu ce co dll. Barulah di SD anak mulai diajarkan untuk membaca sebuah kata dan kalimat yang lengkap yang terdiri dari 2-3 kata dan lebih.

Untuk bahasa verbal, mereka terkadang melampaui bahasa tertulis ataupun bacaan mereka. Mereka dengan cepat menyerap kata-kata yang baru walau masih belum tahu cara penulisannya. Aku ingat di awal tahun ajaran ini anakku berkata “ms… aku cuma tahu cara menulis nama depanku, aku g bisa menulis nama belakangku”.

Anak-anakku sangat lancar berbicara, mereka memiliki kosakata verbal yang cukup banyak yang sayangnya kurang diimbangi dengan kemampuan baca tulis mereka. Seperti yang kusebutkan, mereka banyak menyerap kata-kata yang baru mereka dengar dan terkadang mereka mengungkapkan itu di sekolah seperti ketika menggunakan kata “pacar, lebay, dll”. Salah seorang temanku sesama guru bercerita bahwa anak didiknya mengikuti kata-kata dari sebuah iklan yang biasanya diputar hanya pada malam hari seperti kata “ya..ya..ya..”.

Kata-kata baru ini tidak dapat difilter begitu saja. Yang dapat memfilter itu tentu saja orang dewasa, dalam arti ketika bersama dengan anak tentulah kita coba berbicara dengan bahasa yang baik. Namun terkadang filtrasi itu terasa mustahil manakala kita ajak anak di lingkungan umum seperti mall ataupun tempat-tempat umum lainnya. Mereka akan mendapat kosakata baru yang mungkin belum mereka ungkapkan di depan orangtua tetapi mereka ungkapkan di depan teman-teman. Aku cukup kaget ketika mendengar anakku mengucapkan kata lebay ataupun pacaran, bahkan mereka mengucapkan kata itu sewaktu mereka masih di TK. Ketika ditanya artinyapun mereka belum tahu.

Sebagai orangtua, kitalah yang wajib untuk memberikan penjelasan dan pengarahan kepada mereka. Bukan dengan serta merta melarang mereka menggunakan kata tersebut tapi kita jelaskan apa artinya dan apakah kata tersebut cukup sopan untuk dapat digunakan dalam percakapan ataukah tidak. Kita juga jelaskan pada saat apa kita dapat menggunakan kata tersebut di lingkungan. Bagaimanapun juga tambahan kosakata baru yang diterima oleh anak jangan dianggap sebagai hal yang negatif, tetapi kita usahakan untuk selalu memberi pengertian kepada anak tentang kata tersebut.

Advertisements