Monthly Archives: September 2014

model model belajar

Aku berdiskusi dengan temanku tentang model model yang bisa kuterapkan pada anakku di sekolah. Ada beberapa macam model belajar yang kuketahui, belum secara mendalam sih, ibarat laut, pengetahuanku baru sebatas di permukaan aja. Secara sepintas akan aku tuliskan disini

a. Teori konvensional

Model belajar ini dianggap sudah ketinggalan jaman banget. Yang menjadi ciri khas dari model ini adalah guru menjadi pusat informasi dimana guru yang akan memberikan semua pengetahuan dan murid menerima apa yang diajarkan oleh guru. Dengan kata lain, tidak adanya keaktifan dari murid untuk mengembangkan pengetahuannya.

banyak orang yang mengatakan bahwa model ini sudah sangat kuno tapi banyak juga dari kita yang lupa… well… kita juga adalah hasil dari model belajar yang seperti ini :p (what im trying to say is…. dont judge this method too much…. cos it means that we judge ourself)

b. Teori behavioris

di awal tahun ajaran, sebelum aku mengenal anak-anakku, aku dengan jujur mengatakan…. aku ingin menerapkan metode ini.

metode ini adalah metode mengubah perilaku sesuai dengan yang kita inginkan melalui pembiasaan. tentu saja, sebagai seorang guru, pembiasaan yang kuinginkan bukan pembiasaan yang negatif, teapi kepatuhan terhadap instruksi yang kuberikan dalam mengajar.

tokoh terkenal yang mengenalkan metode ini bernama Ivan Pavlov dan BF Skinner. keduanya memiliki landasan yang sama yakni tentang memodifikasi perilaku, tetapi ada perbedaan diantara keduanya. Experimen Pavlov menggunakan anjing dimana anjing akan memiliki kebiasaan baru setelah melalui pembiasaan yang dikondisikan kepadanya. kritik terhadap pavlov adalah bahwa hal itu hanya dapat dilakukan untuk objek yang pasif. sementara itu skinner dengan operant conditioningnya ditujukan untuk objek yang lebih aktif. Percobaan Skinner dilakukan dengan menggunakan burung dara dimana burung dara akan memiliki kebiasaan yang berbeda setelah melalui pengkondisian tertentu.

setelah aku mengenal anak-anakku… well… aku mengatakan bahwa teori ini sangat rugi kalau diterapkan. Menurutku, modifikasi perilaku akan baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari, tetapi jika diterapkan dalam kegiatan belajar, hal ini malah akan menghambat pengetahuan mereka. mereka hanya akan mendapatkan pengetahuan sebatas yang diajarkan dan g lebih dari itu.

c. teori konstruktivis

teori ini berkembang cukup pesat dan banyak digunakan untuk model pendidikan alternatif. aku menyebut alternatif disini karena merujuk pada masih banyaknya sekolah yang menerapkan model konvensional.

teori ini menjadikan siswa sebagai pusat dimana mereka akan mengkonstruksikan pengetahuan mereka. teori ini menuntut peran aktif siswa dan guru disini banyak berperan sebagai fasilitator, inspirator, tetapi bukan satu satunya sumber ilmu apalagi sumber kebenaran.

dulu aku memahami teori ini sebagai hal yang memudahkan guru karena yang dituntut didalam proses belajar adalah peran aktif siswa. guru menjadi seorang fasilitator yang membuka jalan atau bagaikan tirai, menyingkapkan sedikit tirai pengetahuan kepada anak didiknya untuk kemudian anak didiknya sendiri yang membuka seluruh tirai dan menyingkapkan apa yang ada di balik tirai itu.

tapi aku salah. walaupun siswa dituntut untuk berperan aktif, tetapi guru tetap harus memiliki pengetahuan yang memadai. jika tidak, maka konsep dasar yang diajarkan oleh guru bisa jadi bumerang bagi muridnya. well… guru juga harus benar benar menguasai konsep dari apa yang akan diajarkan.

Kurikulum 2013

Teori konstruktif ini sendiri juga mempunyai metode yang beragam. Jika kita melihat pada pola pendidikan di luar negeri, terutama pada video video pendidikan yang bisa kita lihat di you tube atau google, banyak sekali yang merupakan implementasi dari teori ini. Sungguh menarik melihat pola pengajaran yang mereka lakukan di kelas. Semua siswa terlihat senang untuk belajar dan mereka menikmati proses belajar di sekolah.

Ketika aku mengikuti diklat pelatihan kurikulum 2013 untuk kelas 1, aku melihat adanya niatan baik dari pemerintah untuk merubah wajah dunia pendidikan kita. Aku menangkap adanya usaha dari pemerintah untuk membangun budaya pendidikan dengan pola konstruktifis. Tutorku saat itu menyebutnya sebagai “metode saintifik”

Banyak guru yang mengeluhkan mengenai perubahan kurikulum yang dianggap “ga jelas” ini. Well… mungkin terlihat “g jelas” bagi mereka yang masih sangat baru dalam melihat ini. tetapi setidaknya usaha pemerintah itu perlu kita apresiasi. Dalam kurikulum 2013, guru diminta untuk dapat merubah mindsetnya tentang cara mengajar. Jika selama ini mereka berkutat pada buku, dan banyak memberi tugas dari buku serta tidak menggunakan media yang menarik dan dekat dengan keseharian anak, maka pengetahuan anak akan tetap berada pada level yang rendah dan ini berbanding terbalik dengan kemajuan jaman yang makin pesat.

Well… aku percaya pada setiap niat baik, termasuk niat baik pemerintah. Aku percaya pada yang namanya pengharapan, dan aku percaya bahwa pengharapan akan wajah dunia pendidikan indonesia yang membaik itu bukan hanya impian. Modalnya cuma satu, keterbukaan kita untuk menerima dan mengubah kebiasaan kita. Jokowi menyebutnya sebagai “revolusi mental”

 

 

Advertisements

Seminar mengenali keberbakatan pada anak

Minggu lalu aku mengikuti seminar mengenali dan mengembangkan keberbakatan pada anak. yang menjadi pembicara di seminar ini adalah ibu Evy, seorang dosen Ubaya yang juga menjadi psikolog pada Yohanes Surya institute. Menurutnya, anak berbakat atau yang disebutnya sebagai cerdas istimewa (gifted) berbeda dengan yang disebut sebagai anak jenius walaupun keduanya sama sama memiliki iq diatas rata rata. Seorang dapat dikatakan jenius jika ia memiliki sumbangsih bagi kehidupan manusia. Hal ini cukup berbeda dengan anak cerdas istimewa, atau yang aku persingkat dengan sebutan gifted. Karakteristik anak gifted Gifted, seperti namanya “gift” merupakan anak anak yang istimewa. Istimewa karena ia memiliki gen atau bawaan biologis yang menjadikan dia berbeda dengan orang pada umumnya. Untuk menyebutk seorang anak adalah gifted atau bukan, ia harus memenuhi  tiga komposisi yang dipersyaratkan. Yang pertama dia haruslah seorang anak yang memiliki kreativitas yang luar biasa, lalu ia harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan yang terakhir, dia harus memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Melalui diskusiku dengan ibu Evy, cerdas berbakat itu tidak terlepas dari penggunaan otak kiri dan kanan secara seimbang. Seorang anak gifted mampu menswicth peran otak sedemikian cepat dibanding dengan anak pada umumnya. Otak kiri terkait dengan penggunaan logika analisa matematika dan segala hal yang berkaitan dengan keteraturan dan instruksi yang step by step. Sementara itu, otak kanan terkait dengan daya kreativitas yang tinggi, kemampuan menyerap hal hal abstrak, seni dan sebagainya. Sebagian besar manusia banyak memanfaatkan satu bagian otak secara dominan, entah itu otak kanan ataupun kiri. Namun anak gifted berbeda. Mereka mampu menggunakan keduanya secara seimbang. Dari sisi emosional mereka, seorang anak yang gifted memiliki perasaan yang sensitif dan cenderung perfeksionis. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap sesamanya. Sementara itu dari segi kreativitas, ia menghargai keindahan dan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Seorang anak gifted suka menciptakan sesuatu dan suka berekperimen. Gagasan yang dikemukakannya selalu orisinal dan out of the box. Karena tingkat kreativitas yang luar biasa ditambah dengan kemampuan analisa dan berpikir logis itulah yang terkadang menyebabkan masalah bagi si anak itu sendiri. Anak gifted cenderung menjadi anak yang berbeda dari kebanyakan orang. Kecerdasan mereka yang diatas rata rata kadang membuat proses penyerapan materi mereka diatas teman teman, bahkan mungkin diatas gurunya. Karena itu g heran kalo mereka memasuki kelas akselerasi. Berhadapan dengan anak gifted sendiri tidak selalu mudah, terutama bagi kelas regular. Anak gifted selalu membutuhkan tantangan yang beberapa tingkat di atas mereka, karena kalo mereka mengikuti program belajar regular, mereka akan mudah bosan. Ada dua kemungkinan yang muncul jika berhadapan dengan anak gifted. Yang pertama adalah guru akan mendapat tantangan yang luar biasa karena kecerdikan dan kecerdasan mereka, atau bahkan mereka akan menjadi anak yang tidak menonjol sama sekali. Yups… jangan salah… terkadang justru ada beberapa anak gifted yang tidak menonjol sama sekali walau dia memiliki kecerdasan diatas rata rata. Biasanya hal ini terjadi karena dia mendapat tekanan atau pressure baik secara mental ataupun psikis dari teman sebayanya. Bahkan, ada juga anak anak kasus khusus seperti disleksia, hiperaktivitas maupun autis yang juga seorang gifted (kasus khusus ini biasa disebut dual exceptional, gifted tetapi mempunyai kesulitan belajar) Dari sisi emosional mereka, seorang anak yang gifted memiliki perasaan yang sensitif dan cenderung perfeksionis. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap sesamanya. Sementara itu dari segi kreativitas, ia menghargai keindahan dan memiliki daya imajinasi yang tinggi ia suka menciptakan sesuatu dan suka berekperimen. Gagasan yang dikemukakannya selalu orisinal dan out of the box. Lalu kapankah anak kita dapat dikatakan gifted? Seperti yang telah dituliskan diatas, seorang anak gifted harus memiliki 3 kriteria diatas. Namun kembali, kita harus mampu melihat secara bijak dan obyektif. Untuk itu perlu dilakukan pembuktian tertentu seperti mengetes tingkat kecerdasan mereka, maupun mengetes psikologi mereka. Jika kita memiliki anak, kita perhatikan dengan sungguh sungguh, apakah kemampuan anak kita itu diatas rata rata anak seumuran mereka (untuk itu dapat dilihat pada tabel KMS atau {Kartu Menuju Sehat} sebagai pembanding atau googling di internet). Seorang anak gifted punya proses maupun hasil yang berbeda dengan anak yang terstimulasi maksimal. Seorang anak terstimulasi maksimal mungkin akan mampu memiliki kecerdasan diatas rata rata, tetapi dia membutuhkan usaha yang lebih, konsistensi dan kerja keras untuk mendapatkan itu. Sementara anak gifted berbeda. Mereka akan mampu menyerap, memproses maupun mengkomunikasikan informasi dengan mudah (namun bukan berarti seorang anak 2 tahun selalu mampu menggambarkan pengetahuan seperti anak berumur 6 tahun). Kita harus memiliki daftar isian perilaku cerdas istimewa sebagai acuan, dan untuk mengisinya, kita harus benar benar obyektif dalam menilai. Agar semakin obyektif, kita dapat bertanya kepada pihak yang lebih ahli, seperti psikolog, misalnya dengan cara meminta untuk diberikan pemeriksaan psikologis yang mencakup observasi, interview dan psikotes. Jumlah anak yang terdeteksi gifted saat ini tidak terlalu banyak. Untuk itu kita perlu benar benar peka dan jeli. Jangan sampai kita memiliki anak gifted, namun karena tidak terdeteksi, maka gift-nya tersia siakan begitu saja, atau sebaliknya, anak yang biasa saja, dengan mudah kita beri stigma gifted, hanya demi menuruti kepuasan hati orangtua.