Monthly Archives: May 2016

Darurat Kekerasan Seksual : Dimana Kita Berada Saat Ini ?

Kasus kekerasan seksual yang marak menjadi headline berita membuat diri ini merinding. Bagaimana tidak, kekerasan seksual sekarang bukan hanya terjadi di level orang dewasa, tapi bahkan anak-anakpun turut menjadi pelaku. Begitu juga dengan korban yang juga masih berada di level anak. Apakah ini baru baru saja terjadi? Aku rasa tidak. Kasus Yuyun hanyalah pembuka dari cerita miris ini. Cerita sebenarnya lebih rumit dari sekedar kasus perkosaan fisik.

Dalam cerita Yuyun didapati bahwa pelaku berjumlah 14 orang yang sedang mabuk karena tuak. Melihat Yuyun sedang berjalan sendiri, maka salah seorang teman Yuyun mulai menggodanya dan akhirnya terjadilah kasus perkosaan yang ditambah dengan kasus pembunuhan didalamnya.

Di Surabaya, kekerasan ini terjadi di gang Dolly, tempat remang-remang dimana seks tidak lagi menjadi hal yang tabu. Kekerasan seksual terjadi sejak si anak berusia 4 tahun dimana dia dicekoki pil penenang. Pada akhirnya, si korban yang kini berusia 14 tahun menjadi ketagihan pil tersebut dan seperti yang kita tahu, dia diperkosa oleh temannya. Yang membuat kita lebih miris lagi adalah adanya anak berusia 9 tahun yang turut menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Dalam sebuah interograsi yang dilakukan oleh bu Risma, pelaku yang berusia 9 tahun itu menyatakan bahwa dia melihat itu dari konten video porno yang dimiliki oleh sebuah warnet.

Semua diawali oleh kita….

Tuak dan video porno bukanlah penyebab utama dari kekerasan seksual. Yang menjadi masalah sesungguhnya adalah sistem. Sistem pendidikan kita yang belum benar benar menyentuh ke permasalahan pendidikan seksual, sistem hukum kita yang belum memberikan keadilan pada kasus kekerasan seksual, sistem yang terbangun di dalam keluarga serta persoalan kemiskinan yang menjadi masalah serius bagi terbukanya akses kejahatan.

  1. Sistem pendidikan yang mengajarkan tentang pendidikan seksual

Membangun kesadaran tentang kekerasan seksual memang bukan hal yang mudah. Ini terjadi karena seks selalu menjadi hal yang tabu sehingga pembicaraan mengenai seks dilakukan secara sembunyi- sembunyi  dan baru terungkap ketika sudah ada kejadian seperti yang dialami oleh Yuyun. Hal ini sangat disayangkan karena pendidikan seksual yang diberikan secara lengkap dan menyeluruh tidak hanya mengajarkan tentang pencegahan terjadinya kekerasan seksual,  tetapi juga berperan dalam membantu anak-anak muda untuk dapat memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk membangun hubungan individu serta komunitas yang lebih sehat (Huffington Post, 2014). Mengenai kurikulum pendidikan seksual sendiri diketahui bahwa pada tahun 2012 pemerintah Amerika membuat sebuah standar yang diterapkan terkait dengan pendidikan seksual. Fokus dari kurikulumnya adalah pada keselamatan, respek dan persetujuan, pengambilan keputusan atas hal-hal yang bersifat seksual (sexual decision making), keyakinan diri, orientasi seksual dan identitas gender (kedua hal ini dipisahkan karena keduanya punya konsep yang berbeda) dan juga kesadaran terhadap pesan budaya yang mendukung norma gender dan kekerasan seksual (intinya sih anak diajarkan agar lebih aware atau berhati-hati dan lebih memiliki kesadaran tentang sistem budaya yang selama ini berlaku tentang kekerasan seksual). Menurutku kurikulum ini sangat menarik untuk dapat diterapkan di Indonesia. Alih-alih hanya diajarkan tentang mencegah kejahatan seksual dengan melarang orang menyentuh bagian tubuh anak yang vital, tetapi dalam kurikulum ini anak juga diajarkan untuk memiliki keyakinan diri. Selain keyakinan diri, anak juga diajarkan untuk memiliki kemampuan untuk membuat pilihan atas hidupnya. Berani mengatakan tidak apabila ada orang yang memegang tubuhnya (bahkan orang terdekat sekalipun). Anak adalah penguasa atas tubuhnya sendiri dan kesadaran ini harus diajarkan sejak dini. Anak juga diajarkan untuk dapat lebih kritis menyikapi budaya yang mendukung terjadinya kekerasan seksual. Terakhir, mereka juga belajar mengenai orientasi seksual dan identitas gender. Pengetahuan ini menjadi penting agar pemahaman mereka mengenai orientasi seksual mereka serta orientasi seksual orang lain dapat berjalan dalam suasana yang lebih harmonis dimana tidak adanya kebencian ataupun penilaian negatif terhadap orientasi seksual yang dipilih oleh orang lain.

  1. Menggodok sistem hukum yang pas

Selama ini hukum tidak dapat diandalkan untuk menimbulkan efek jera pada pelaku kejahatan seksual. Berkaca dari kasus JIS, hukum menjadi tidak adil dimana yang disebut tersangka, sesungguhnya adalah korban karena walau sudah ada bukti bukti yang mendukung bahwa mereka tidak bersalah, tetapi polisi “membutuhkan” tersangka agar masyarakat menjadi tenang. Ketidakadilan lain juga dialami oleh korban di Manado. Selama ini kasus di Manado tidak mendapat perhatian serius karena kasus berada di luar wilayah kepolisian yang bersangkutan (Kompas, 8 Mei 2016).

Selain ketidak adilan yang terjadi yang disebabkan oleh pihak kepolisian, sistem undang undang juga menjadi masalah bagi kasus kejahatan seksual. Selama ini sistem undang – undang kita telah mengatur hukuman bagi pelaku. Dalam undang- udang nomor 35 tahun 2014 diketahui bahwa hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan seksual pada anak adalah maksimal 15 tahun penjara. Hukuman tersebut dianggap ringan dan tidak menimbulkan efek jera sehingga pemerintah menggodok undang-undang yang dapat dijadikan hukuman bagi pelaku agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Kebiri kimia, publikasi dan pemasangan chip menjadi salah satu alternatif hukuman (BBC Indonesia, 12 Mei 2016). Sistem hukum yang bertujuan meminimalkan kasus kejahatan seksual ini dapat berjalan hanya apabila sistem pengawasan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

  1. Persoalan kemiskinan

Sebuah artikel menarik diungkap oleh Pak Bukik yang melihat bahwa faktor ekonomi yang terlibat di dalam kasus Yuyun. Pak Bukik (2016) menuliskan tentang kemiskinan di Bengkulu yang pada akhirnya erat dengan berbagai kejahatan, termasuk kejahatan seksual. Data yang digali oleh Pak Bukik menunjukkan bahwa setidaknya terdapat dua kali perkosaan setiap hari di propinsi ini.

  1. Membangun Keluarga yang peduli

Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter seorang anak. Dalam diskusi yang kami adakan, keluarga adalah tempat awal anak untuk belajar berinteraksi, bersosialisasi dan pada akhirnya tempat dimana anak membangun konsep dirinya. Anak-anak membutuhkan bimbingan dari orangtua. Arus perkembangan informasi melalui media sosial maupun sarana mesin pencari, keduanya bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membantu tetapi di sisi lain bisa menjadi berbahaya apabila tidak diawasi dengan sungguh-sungguh. Orangtua yang mengijinkan anaknya memiliki gadget seharusnya menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab pengawasan terhadap penggunaan gadget tersebut. Lingkungan pergaulan anak tidak boleh luput dari perhatian orang tua. Mengutip 1 Korintus 15 : 33 “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” menyatakan bahwa pergaulan pada akhirnya turut membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Inilah saat dimana orangtua turut juga mengambil peran dalam kehidupan anak, mengajarkan anak untuk membuat pilihan dalam menentukan pergaulan mereka.

Semua kembali pada kita….

Sebuah cerita menarik datang dari mbak nilla tentang pengalaman rekannya yang bekerja di australia dalam merespon kasus kejahatan seksual. Jika kejahatan seksual terjadi, maka si anak akan mendapatkan perlindungan yang berlapis. Sekolah langsung memberi perlidungan, mengawasi perkembangan dan memberikan dukungan sampai dia pulih. Guru dan tenaga kesehatan wajib melapor kalau mencurigai anak mengalami kekerasan. Mereka juga memiliki layanan konseling yang dapat diakses dengan mudah, melalui online maupun kehadiran konselor yang datang langsung ke rumah. Polisi mudah untuk dimintai tolong. Proses pengadilan yang cepat dan mudah dimana orang yang tidak mampu akan disediakan pengacara gratis. Orangtuapun tidak luput dari sistem tersebut dimana orangtua diberikan pendampingan dan informasi mengenai apa yang terjadi pada anak sehingga mereka bisa membantu anaknya untuk melalui masa sulit. Mereka juga mempunyai lembaga perlindungan anak yang merespon dengan cepat. (Nilla, 2016)

Jika kita mau peduli dan bergerak, maka kita bisa menolong mereka para korban, serta mencegah timbulnya korban-korban yang baru. Namun jika kita tetap berada pada zona nyaman kita, prihatin tetapi tidak mengambil tindakan, niscaya masih akan ada banyak cerita tentang kejahatan seksual yang akan menjadi tajuk utama dalam koran yang kita baca atau berita di saluran televisi kita. Kitalah yang menentukan masa depan kita dan anak cucu kita.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/pamela-b-zimmerman/connecting-sexual-violenc_b_5669607.html

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154238794973117&set=a.10153227889493117.1073741825.748808116&type=3&theater

http://regional.kompas.com/read/2016/05/08/09311061/Gadis.Manado.Diperkosa.15.Pria.hingga.Korban.Linglung

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160511_indonesia_perppu_reaktif