Monthly Archives: March 2012

Writing competition

Minggu lalu aku membuka situs gogle.com untuk searching tentang lomba menulis. Aku menemukan salah satu lomba yang-awalnya- kukira menarik karena bertemakan pendidikan. Aku mebuka situsnya dan mendapati bahwa yang mengadakan lomba itu adalah kemendiknas. Temanya adalah “menjangkau yang terjangkau”

Akupun segera mencari data dan mencari ide artikel macam apa yang hendak kubuat. Pencarian dataku mengajarkanku beberapa hal antara lain betapa besar anggaran yang sudah diberikan oleh pemerintah untuk bidang pendidikan ini yakni sekitar 75,79 triliun rupiah. Aku juga membaca data mengenai mobil pintar yang digagas oleh ibu Ani Yudhoyono. Aku melihat adanya usaha dari pemerintah untuk meningkatkan pendidikan yakni dengan usaha sertifikasi guru untuk peningkatan kualitas guru, mengadakan sekolah gratis bagi tingkat SD sampai SMU, namun mengapa dunia pendidikan di Indonesia seolah tidak mengalami perbaikan apapun?

Selain data-data tersebut, aku pun membaca di beberapa koran mengenai sekolah yang masih saja menarik pungutan dari masyarakat walau sudah diberi dana BOS dengan alasan bantuan yang diberikan pemerintah tidak mencukupi kebutuhan operasional sekolah. Begitu juga banyaknya dana kurang tepat sasaran dan berbagai permasalahan yang lain.

Aku pernah berbincang dengan temanku mengenai masalah pendidikan di indonesia. Jika kita melihat keadaan jaman sekarang, banyak generasi muda indonesia yang tidak bersekolah dengan alasan biaya yang mahal. Temanku berpendapat “untuk apa bersekolah lha sekolah juga ga bikin mereka bisa dapat uang”. Sangat mudah bagi kita untuk mematahkan anggapan ini dengan menunjukkan banyaknya orang sukses yang berasal dari kalangan tidak mampu. Tapi orang-orang tersebut  benar-benar memiliki mentalitas yang sekuat baja. Sementara jika kita melihat rakyat indonesia, sepertinya awan pesimisme yang menggayut di atas kepala, karena kita dijejali dengan berita bahwa banyak juga sarjana yang menganggur karena lapangan pekerjaan yang tersedia sedikit.

Akhirnya stuck dengan semua itu. Entah ini yang disebut pesimisme atau bukan, tak pernah benar2 yakin. Teman yang lain mengatakan bahwa anggaran harus diperbesar agar dapat memberbaiki saran dan prasarana pendidikan. Tapi kita sama-sama tahu bahwa koripsi sudah mendarah daging di negeri ini. Perbesar anggaran pendidikan, maka jumlah uang yang akan dikorupsi juga makin besar. Pembenahan sistem, apapun itu, jika tidak disertai dengan pembenahan mental, maka tidak akan ada hasilnya. Ah….

classroom management

ketika pertama kali mengajar pada tahun 2007, kalimat ini terdengar sangat awam di telingaku. maklum… karena masih baru di dunia ini. tahun 2008, di sekolah yang berbeda, aku bahkan sempat diberi training khusus (aku dan teman2 baru yang akan mulai bekerja sebagai guru disana). banyak teori yang kami dapatkan dan segera kurasa berguna untukku. salah satu hal yang masih sangat kuingat adalah. learning is not about how you teach but its about what they’ve learn. jadi, yang menjadi pusat dalam pengajaran ini adalah anak. subyeknya bukan melulu kita sebagai media utama, tetapi anak yang menjadi subyek. guru adalah mediator, penyampai pesan, dan bukan pesan itu sendiri.

seorang guru harus dapat memanage kelas yang akan dipimpinnya. hal itu tidak hanya berlaku bagi guru kelas, namun berlaku bagi setiap guru. classroom management adalah bagaimana kita dapat mengatur susana kelas sehingga kelas menjadi tempat yang aman, nyaman, tenang sehingga kegiatan belajar mengajar dapat menjadi lancar.

ada banyak ide yang dapat diterapkan untuk mengatur suasana kelas. masing-masing cara ini dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. namun tentu saja, kebutuhan setiap anak dalam setiap kelas tentu saja berbeda antar yang satu dengan yang lainnya sehingga kita tidak dapat memaksakan pola tertentu. hal ini kembali, bergantung pada kebutuhan kelas masing-masing

pada tahun ini aku diberkahi anak-anak yang sangat aktif dan lincah. mereka juga sangat percaya diri dalam menunjukkan bakat mereka. mereka senang bernyanyi, mereka senang menari, atau dengan kata lain… mereka bak artis-artis cilik. walau begitu, bukan berarti mereka semua memiliki kepercayaan diri yang besar. tetap saja ada beberapa dari mereka yang masih malu-malu untuk berbicara. untuk perform di depan umum mereka bisa namun masih terlihat perbedaannya dengan anak-anak yang memang memiliki kepercayaan diri yang sangat besar.

berhadapan dengan anak yang memiliki berbagai karakter seperti ini tentulah tidak mudah. aku mempunyai seorang partner yang kebetulan memiliki karakter yang sama-sama tegas. walau begitu, kami yang sama-sama memiliki latar belakang pernah mengajar di preschool, tentu terbantu dengan latar belakang tersebut. jika suasana mulai tidak terkendali di kelas kami, dalam arti ketika mereka mulai untuk berbicara satu dengan yang lain sehingga membuat kelas menjadi gaduh, maka kami memiliki berbagai trik untuk menenangkan mereka.

trik yang pertama adalah dengan menghitung mundur dari angka 10-0. atau terkadang kami mengecilkan hitungan dari 5-0 ataupun 3-0. terkadang kami juga mengadakan lomba freeze and unfreeze. ini adalah perlombaan menjadi patung dimana anak yang mampu bertahan diam paling lama, dia yang akan menjadi pemenang. terkadang kami mengadakan lomba ini selama 10-15 menit dimana anak-anak akan menjadi patung di kursi mereka masing-masing, tanpa gerakan, tanpa suara, hanya terdiam. terkadang kami hanya terdiam di depan kelas bagai patung dengan isyarat tangan agar anak-anak dapat melihat isyarat tersebut sehingga mereka menjadi tenang. kami juga beberapa kali menggunakan hitungan mundur melalui isyarat tangan  sehingga kami tidak perlu berteriak untuk menenangkan mereka.

untuk berbagai kegiatan kelas, kami juga berusaha agar kegiatan kelas kami menjadi menarik setiap hari dan tidak membosankan bagi anak-anak. terkadang kami mengajak mereka bermain sompyor untuk menambah perbendaharaan kata anak, terkadang kami berlomba smilecard alias kuiz yang berhadiah smilecard. pertanyaan dari kuis ini dapat diambil dari berbagai mata pelajaran, baik teori maupun praktek dengan mempraktekkan beberapa gerakan tertentu. kami juga terkadang mengadakan lomba domikado untuk merangsang daya ingat anak dengan mengubah berbagai nomor hitungan. dengan permainan sederhana ini akan akan belajar untuk menghadapi situasi yang berbeda (karena nomor yang tidak pernah sama), melatih daya ingat mereka agar mereka berhati-hati dan sebagainya. kami juga senang mengajak mereka untuk berjalan-jalan di sekeliling sekolah saat circle time sebagai pemanasan bagi mereka untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran yang akan berlangsung hari ini.

this week in my class

this week my student did a very great job….

this week they become calmer and be focused to the teacher when the teacher explaining the lesson. at the early week we told them that if they got two thumbs up from the teachers, from morning till the end of the class, all of them will get the 5 additional smile card.

Smile card is our reward program. we give 3 smile card to the student if they finished writing their daily diary completely, and the daily diary already sign up by their parents. sometimes we give them extra smile card if they can answer our question by quiz. and they are really try to get that extra smile card. if the end of the day they will count how many smile card they have and how many smile card taken from them. the teacher can take their smile card if they are anoying, playing with their friend, cannot focused to the lesson and playing around. we give them  1st, 2nd, and 3rd reminder and then we ask their smile card. we oftenly give quiz during our circle time, or even during our learning activity. they are very enthusiastic with the quizzes. they try their best to answer the question for getting extra smile card.

in early week we choose our class president to lead the class. we ask our student to help the class president to make the class the best as they can be. we give them target that they can achieved such as be a good student by listening to the teacher, do the best they can do, do their task, and be focused. for my active student, actually its a little bit hard to do, but they can do its. a week before, on friday, they can get 5 extra smile card cos they do their best during the lesson, that is why they are getting motivated. they know that our expectation is reachable for them. as long as they try, they can reach it. they are really trying to be the best class and get 2 thumbs up from each teacher. they count their thumbs on the ongoing day. they say… we can be “a best class” yesterday.. and we’ll try to be the best also on this day (we always ask to the student what is our (teacher and student) expectation for today). by telling our expectation, they know the goal that should be reach by them during the day. and in the end of the class, during the last circle time, we reviewed our class, hows our class today, can they get 2 thumbs up from the teacher??? they wait the teacher to announce it and after we give our 2 thumbs up, they cheer up very loud and count its already 4 time we get two thumbs up form the teacher. and its really give them pride. knowing that they can make the teacher happy by do what the teacher ask, thats really makes them happy. they can do their best.

my lesson in this week is :

1. give a reachable expectation to our student

2. let them know how to reach our expectation with a clear instruction.

3. ask them what is their expectation for our class today, and tell our (teacher) expectation also

4. give the reward wisely. not by giving it every day, but really objective to see whether they can reach our goal or not. not giwing two thumbs up every day, so they can be motivated to do the best they can be on the next day.

5. review our class in the end of the day and share our (teacher and student) hopes for tommorow.