Monthly Archives: March 2015

Kebahagiaan itu menular

Semalam dosenku bercerita mengenai antusiasme dan kebahagiaan. Ia pernah mendapat tugas ke Jepang dan ia harus berangkat seorang diri. Awalnya ia sempat merasa takut karena g ada teman. Maka ia berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, mengenai jadwal kereta, jalur yang harus dilalui dan sebagainya. Sesampainya di Osaka, ia harus menuju ke terminal bis. Hal ini masih mudah, tetapi sampai di terminal bis, ia merasa kebingungan karena ia g tau tempat membeli tiket, ataupun bis yang harus dinaiki. Akhirnya ia tanya pada pusat informasi disana. Tak disangka, petugas pusat informasi mau membantunya membeli tiket, memberitahu bis mana yang harus dinaiki, bahkan petugas itu menyemangatinya untuk segera menuju bis itu dengan senyum dan gerakan yang “cheerfull”. Melihat itu, semangatnya langsung segera naik. Ia g lagi merasa takut berada di tempat asing. Sesampainya di tempat yang dituju, ia harus berjalan 800 meter menuju penginapan. Ia hendak mencari taksi, namun ia melihat setiap orang turun dari bis dan melakukan perjalanan dengan bahagia dan dengan tersenyum, walaupun mereka berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Melihat betapa senang mereka melakukan aktivitasnya, iapun bersemangat juga untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, walau sebenarnya ia g terlalu suka untuk berjalan kaki. Cerita diakhiri dengan kalimat “kebahagiaan dan  antusiasme itu menular, terlebih apabila itu dibangun dalam suatu sistem”.

Aku dan kebahagiaan

Belakangan ini aku memiliki kebiasaan yang sedikit berbeda. Dulu, sesulit apapun anak yang kuhadapi, g pernah terlintas sebuah pikiran yang tidak menyenangkan. Aku suka mengajar di kelas kecil. Aku akan menerima mereka dengan tangan terbuka dan bersama-sama merencanakan petualangan di kelas yang menyenangkan. Antusiasme mereka menular padaku. Kelas buatku adalah ruang eksplorasi yang menyenangkan. Tapi belakangan itu berubah. Aku mudah untuk melabel mereka. ungkapan “cinta tak harus memiliki” untuk menunjukkan bahwa anak itu lucu, tapi semoga g jadi muridku, label anak “g menyenangkan”, bahkan label “anak sulit” itu sudah masuk dalam kosakataku. Aku cukup mengenal diriku, jika aku sudah sampai di tahap itu, maka itu menjadi peringatan buatku. Itu tanda bahwa kebahagiaanku sudah menurun. Ibarat batere, maka batereku itu sudah berkurang separuh. Dan aku akan jadi sama dengan guru yang suka melabel anak, seorang guru yang “tidak bahagia”. Seorang guru yang menjadi guru karena ia ingin “bekerja”, dan bukan ingin “berkarya”.

Karena ini sudah mulai terjadi, maka aku kembali mereview diriku dengan pertanyaan “untuk apa aku melakukan ini?”. Pertanyaan untuk apa ini menjadi titik tolak yang penting buatku. Aku kembali harus mengingat lagi motivasi awalku bekerja menjadi seorang guru, perjuangan yang harus aku lalui, penolakan yang pernah aku alami, untuk sampai pada titik bahwa inilah pilihan akhirku, bahwa inilah jalan hidupku.

Kadang kita harus berjuang sendiri untuk merasakan “bahagia”. Kadang disitu kita merasa bahwa diri kita berbeda. Cerita dari dosenku malam mengingatkanku bahwa kebahagiaan itu menular. Kebahagiaan untuk mengajar juga pasti bisa menular. Maka disini aku harus mulai membangun sistem. Sebuah sistem yang tidak mudah, karena sistem itu melibatkan diriku seutuhnya. Sistem itu mensyaratkan penerimaan diri atas apa yang aku jalani dan aku hadapi serta memaintain kebahagiaan itu walau mungkin keadaan sedang tidak membahagiakan. Orang bijak mengatakan “jika kamu ingin mengubah sistem, maka ubahlah dirimu terlebih dahulu”. Maka inilah yang harus aku lakukan, mengubah sistem diri, menekan pilihan tombol “bahagia” dan jalani saja. Jika belum bisa menular ke sesama, aku ga perlu kuatir, setidaknya kebahagiaan itu menular di sistem tubuhku terlebih dahulu. Just do my best and let God finish the rest.

~Surabaya, 28 Maret 2015~

Bagaimana jika aku seorang difabel

Seminggu yang lalu aku naik ke gunung Penanggungan. Itu adalah pendakian pertamaku. Selama ini aku lebih banyak menikmati pantai dan candi daripada gunung. Perjalanan kami sebenarnya tidak jauh, jika diukur secara vertikal, kami hanya berjalan selama beberapa ratus meter, tetapi berhubung karena ini di gunung, maka kami tidak bisa langsung vertikal melainkan mencari jalan memutar.

Perjalanan yang kami lakukan memakan waktu 5 jam untuk naik dan 5,5 jam untuk turun. Kalau biasanya turun gunung lebih cepat daripada mendaki, namun bagi kami, hujan, jalan licin plus kakiku yang sakit malah menghambat perjalanan turun kami. Bagi aku yang g pernah melakukan latihan fisik, tentu ini menjadi sangat berat. Waktu turun rasanya lututku mau copot. Sepanjang perjalanan aku berpikir, “mungkinkah ini yang dirasakan oleh mamaku?”

Selama ini mamaku menderita osteoarthritis dimana penyakit itu menyerang di bagian sendi lutut mamaku. Ibarat kaki adalah mesin, maka butuh pelumas agar bisa tetap stabil, sayangnya, pelumas mamaku sudah aus sehingga mamaku mengalami kesulitan untuk berjalan. Aku g pernah tau bagaimana rasa sakit yang dirasakan. Aku tahu mamaku sakit, tapi aku g pernah tau seberapa sakitnya kaki mamaku sampai aku ngalami lututku hampir mau lepas dan aku ngalami kesulitan berjalan waktu turun gunung.

Aku dan disabilitas

Kakiku njarem selama beberapa hari. Terutama di hari pertama mengajar. Dan yang cukup “menyenangkan” bagiku adalah di hari itu kami ada pelajaran komputer yang berada di gedung sebelah di lantai 2 dan aku harus piket. Yang mana artinya aku harus sering naik turun lantai 2. Saat itu aku membayangkan bagaimana seandainya aku adalah seorang difabel? Seandainya aku terlahir cacat atau cacat setelah dewasa, bagaimana aku akan menghadapi ini.

Kadangkala, kita yang memiliki fungsi tubuh yang normal, jarang memikirkan kebutuhan sederhana seperti ini, karena memang terus terang, seluruh bagian kita berfungsi dengan baik. Tetapi seandainya kita menempatkan diri pada posisi seorang difabel, maka kita akan mampu memahami apa yang mereka rasakan.

Dosenku pernah menceritakan dua hal yang menarik mengenai orang difabel. Yang pertama adalah penelitiannya beberapa tahun lalu mengenai kaum tunanetra di jogya dimana ditemukan fakta bahwa jarak aman bagi mereka untuk berjalan hanyalah sepanjang 30 meter dari rumah. Dengan kata lain, lingkungan yang mereka anggap aman bagi mereka hanyalah sepanjang 30 meter dari rumah, selebihnya sudah menjadi area tidak aman lagi. Yang kedua adalah mengenai sekolah tertentu di Amerika yang mempunyai program menarik untuk siswanya. Saat itu siswa diberi project mengenai disabilitas, dimana mereka diminta untuk mencoba merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang difabel. Orangtua mendapat surat dari sekolah untuk mendukung program ini. Orangtua diminta untuk tidak membantu anaknya apabila mereka mengalami kesulitan saat menjadi seorang “difabel”. Pada akhir project, mereka adalah menentukan langkah apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu orang dengan kebutuhan khusus seperti kaum difabel. Dan hasilnya cukup menarik karena mereka merasakan kesulitan untuk hidup dalam keadaan yang sangat bertolak belakang dari kehidupan normal mereka. Dari sanalah empati mereka dibangun. Dari sana pula muncul berbagai ide membantu kaum difabel.

Tuna daksa dalam dunia pendidikan

Anak penyandang disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, mempunyai banyak ragamnya. Selain tuna netra (ketunaan yang berkaitan dengan penglihatan), tuna rungu (ketunaan yang berkaitan dengan pendengaran), tuna wicara (ketunaan yang berkaitan dengan bicara), tuna daksa (ketunaan yang menyangkut gangguan fisik dan gerak), tuna laras (ketunaan yang berkaitan dengan aspek perilaku), tuna grahita (ketunaan yang berkaitan dengan kapasitas intelektual), anak gifted, anak yang memiliki kelainan akademik seperti misalnya disgrafia, diskalkulia ataupun disleksia, slow learner, juga ada kasus anak ADHD, Autisme, mutisme selektif dan tuna ganda.

Kejadian yang aku alami minggu lalu berkaitan dengan fisik. Jika dikaitkan dengan ketunaan, maka yang memiliki kasus yang hampir serupa adalah tuna daksa. Penyebab tuna daksa dapat beragam, ada yang sejak lahir, namun ada pula yang terjadi karena kecelakaan. Lalu pikiranku melayang ke gedung-gedung di Surabaya. Ada berapa banyakkah gedung di Surabaya yang ramah terhadap kaum difabel, seperti misalnya bagi penderita tunadaksa? Atau lebih spesifik lagi, berapa banyakkah gedung sekolah yang ramah terhadap penderita difabel? Bagaimana dengan sekolah umum yang memiliki murid difabel? Sudahkah sekolah sekolah tersebut menyediakan fasilitas yang juga memudahkan kaum tuna daksa untuk bergerak. Seperti yang kita tahu, bagi penyandang tunadaksa, mereka membutuhkan tempat bergerak yang berbeda dibanding orang umum. Misalnya kaum tunadaksa yang memiliki cacat pada kakinya, bagaimana caranya ia bergerak dengan baik apabila gedung sekolahnya hanya memiliki tangga dibanding dengan alat bantu lainnya, begitu juga dengan toilet yang tersedia di sekolah. Bagi kaum tuna daksa yang memiliki ketunaan pada bagian kaki, tentu mustahil bagi mereka apabila mereka harus menggunakan toilet jongkok. Apakah sekolah menyediakan fasilitas berupa pegangan pada dinding supaya untuk membantu mereka bergerak? Hal itu tampaknya adalah kebutuhan yang sepele namun sangat berarti bagi penyandang tuna daksa. Sudah saatnya kita peduli pada mereka.

Surabaya, 27 maret 2015