Antara Jill, Anies Baswedan dan Pendidikan kita

Jill

Pagi ini Jill, muridku yang berusia 6 tahun, memintaku untuk memandunya dalam mengikat tali sepatu. Dia sungguh kesulitan dalam mengikat tali sepatunya. Saat itu kalau pengen gampang, aku tinggal mengikatkantali sepatu itu agar waktuku tidak terbuang percuma mengajarkan sesuatu yang sepele. Aku juga bisa saja menuliskan atau bercerita pada ibunya, menyarankan agar dia menggunakan sepatu yang lebih mudah digunakan anak kelas 1 saja. Tapi aku ingat, memandunya dalam mengikat tali sepatu bukan sekedar membantunya menyelesaikan urusannya, tapi ada banyak pelajaran yang harus kami lalui disana. Jill belajar mengikat tali sepatunya, melatih motoriknya serta koordinasi antara tangan dan mata. Akupun belajar untuk lebih sabar di situasi itu, dan terlebih, aku belajar untuk mengingat lagi bahwa Jill adalah seorang anak yang masih sedang belajar. Jill masih berproses dan aku harus membantunya dalam proses itu, bukan memaksanya untuk sesuai menjadi seperti yang aku inginkan.

Pak Anies Baswedan

Sore ini aku mendapat kabar kalau pak anies baswedan dicopot dari jabatannya. Aku –dan aku yakin banyak orang di luar sana- kaget mendengar keputusan pak pres. Bagi aku, usaha pak Anies ini sudah sesuai dengan konsep revolusi mental yang didengungkan pak pres. Betapa tidak, dia menghapuskan UN yang menjadi momok setiap siswa, menerbitkan indeks integritas sekolah, program pendidikan yang peduli pada anak, dan membangun jembatan antara orangtua, anak dan guru. Infografis yang beliau sampaikan juga sangat membantu agar setiap orang dapat memahami maksud dari instruksinya. Beliau punya visi yang sangat jauh ke depan karena beliau tahu bahwa sumber daya terbesar yang dimiliki oleh Indonesia bukanlah terletak pada kekayaan alamnya, tetapi sumber daya manusianya. Dan itulah yang hendak digarap oleh pak Anies.

Terus terang aku sangat mendukung program pak Anies mengenai meningkatkan keterlibatan orangtua pada kegiatan belajar anak, misalnya program mengantarkan anak ke sekolah pada hari pertama. Mengantarkan ke sekolah ini bukan sekedar mengantar sampai ke pintu gerbang lalu meninggalkan anak begitu saja, tetapi diharapkan juga agar orangtua berkomunikasi dengan guru untuk lebih mengenal guru yang akan mendidik putra putri mereka. Dengan begitu kewajiban orangtua tidak berhenti pada teknis pembiayaan juga, tapi orangtua wajib berkomunikasi, bersinergi dengan guru untuk masalah pendidikan anak.

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa pak Anies mengurusi urusan orangtua, yang notabene jauh dari urusan sekolah. Bahkan banyak orang menganggap bahwa itu sangat tidak penting. Mereka lupa pada hal yang paling esensial dalam mendidik anak yaitu keterlibatan semua pihak untuk mendidik anak. Aku melihat bahwa beliau paham betul bahwa mendidik anak bukan hanya tugas guru semata atau orangtua semata, atau lingkungan semata, tetapi harus ada sinergi diantara ketiganya.

Aku masih mengingat lomba yang diselenggarakan kemendikbud yang berjudul “peran Keluarga dalam pendidikan Anak”. Upaya sederhana, namun memiliki dampak yang besar. Beliau paham bahwa jurnalistik warga menjadi sebuah metode yang ampuh untuk mendidik masyarakat mengenai peran penting keluarga. Dari jurnalistik warga inilah diharapkan adanya pencerahan di masyarakat mengenai langkah-langkah mendidik anak-anak.

Berikut kutipan surat pamit pak anies yang aku rasa sangat penting untuk diperhatikan :

  • Di sekolah tampak hadir bukan saja wajah ana-anak tapi juga wajah masa depan indonesia
  • Jadikan pagi belajar pagi yang cerah
  • Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah, tapi mata hati tiap anak, tiap guru yang menjadikannya ceran
  • Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya, memenuhi potensi unik dirinya

Pendidikan kita

Jill adalah salah satu contoh murid yang membutuhkan waktu untuk menjadi ahli dalam mengikat tali sepatunya. Seperti waktu yang dibutuhkan Jill untuk menjadi ahli, demikian juga proses pendidikan di negeri kita. Aku melihat bahwa pola pendidikan yang digarap oleh anies adalah pola pendidikan yang memperhatikan proses belajar anak dan itu adalah sebuah proses yang  tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Butuh waktu sampai benar-benar tercipta keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Namun nampaknya dunia kita lebih menyukai sesuatu yang instan dan besar dengan asumsi proses revolusi mental itu bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Nampaknya pak prespun mengharapkan seperti itu. Mungkin saja ia disana berharap agar pak Anies bisa menciptakan keajaiban, dalam waktu 20 bulan bisa merevolusi mental masyarakat. Atau jangan-jangan, aku saja yang berburuk sangka, jangan-jangan sebenarnya ini bukan masalah proses pendidikan ataupun revolusi mental, tapi masalah politik semata. Ah, lagi lagi politik. Kalau sudah masuk di ranah itu, aku lebih baik membantu Jill memandunya mengikat tali sepatu saja, ga peduli siapapun pemimpinnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s