Monthly Archives: December 2015

Why We Dance?

Pertanyaan sederhana membutuhkan jawaban yang sederhana pula. Mengapa kita menari? Karena menari membebaskan jiwa kita. Jawabannya semudah itu. Karena itu Coelho menggambarkan Athena, dalam bukunya Penyihir dari Portobello, sebagai orang yang menggunakan tarian untuk membebaskan jiwa mereka.

Aku ingat beberapa tahun yang lalu seorang teman menelfonku dan kami berbincang tentang gerakan seorang penari. Gerakan seorang penari tampak begitu indah manakala jiwanya telah bebas dari ketukan, dari irama, dan dari hafalan akan gerakan. Semua itu tak lain karena ia telah menyatu dengan irama itu sendiri. Tarian dan musik telah menjelma dalam dirinya. Tarian dan musik telah membebaskan jiwanya berkelana.

Aku suka menari -tapi tak seperti adikku yang berbakat tari dan menjadikan tarian sebagai passionnya sehingga dia mengambil jurusan tari-, aku sadar aku g memiliki bakat menari tapi aku menganggap tari adalah sarana untuk membebaskan diriku. Dengan musik dan menari, aku mampu menggerakkan tubuhku, bahkan kadang aku g peduli apabila gerakan itu tidak sesuai dengan nada. Perasaan ini tepat digambarkan dalam buku Coelho, “ketika aku menari, aku menjadi wanita bebas, tepatnya, jiwa bebas yang mampu berkelana menembus alam semesta. Dan itu memberiku kesenangan yang luar biasa (witch of portobello, p 65)

Karena itulah waktu sekolahku mengadakan kegiatan menari, aku menyambutnya dengan gembira. Dulu kami sering menari di hari senin pagi, di sebuah aula di lantai 3 dimana kami menarikan lagu milik hi-5. Kami semua menari bersama, aku, para guru dan para murid. Selain menari bersama di aula tersebut, tak jarang kami juga memutar musik untuk kami menari bersama di dalam kelas. Nampaknya menari juga menjadi sarana untuk melepaskan energi bagi para muridku. Mereka menjadi lebih bersemangat ketika belajar dan lebih gembira. Kami para gurupun juga difasilitasi untuk berlatih menari. Aku ingat dulu sekolah mengundang seorang guru tari yang mengajar kami tarian India dari lagu yang berjudul maahi-ve.

Kegembiraan yang muncul ketika aku menari inipun kutularkan kepada murid-muridku di sekolah yang baru terutama di lower grade. Tetapi bedanya  adalah, muridku saat ini membutuhkan panduan dan arahan untuk gerakan tarinya agar mereka tidak kebingungan saat mendengarkan musik. Tahun kemarin aku menyetelkan mereka musik dan mereka dapat bergerak bebas sesuai dengan irama. Merekapun cepat belajar karena pada waktu itu ada 2 tema yang diajarkan oleh guru seni tentang tarian sehingga mereka lebih bersemangat.  Tahun ini kami tidak mempunyai guru tari lagi. Untuk itu aku bersyukur ada video tutorial yang mengajarkan kami beberapa gerakan tari. Anak-anakku terlihat bersemangat ketika mereka menari. Mereka tampak fokus mengikuti setiap gerakan yang diajarkan dalam tutorial itu. Dan yang tidak kalah menarik adalah energi positif yang terbentuk setelah kami menari. Maka untuk itu aku mengamini kalimat Meghan Trainor yang mengatakan bahwa “i feel better when I’m dancing”. So… shall we dance?

We Are Different

Siang ini aku menengok kembali pengalaman di masa lalu waktu kuliah. Di perkuliahan, aku bertemu secara langsung orang dari berbeda daerah. Ada yang dari kupang, ambon, medan, jawa tengah, jakarta, solo, maksar dengen berbagai karakteristik mereka masing masing. Aku sulu sekamar dengan jeniffer dari jakarta, tri yang super halus dari wonosobo, dan angel si gadis cantik dari sumba. Aku ingat jeniffer yang suka memutar lagu jaman 80an supaya bisa konsen belajar (gila…. kadang lagu itu membekas sampe sekarang di otakku), tri n angel yang suka belajar dalam keheningan, dan tentu saja aku… yang g suka belajar (hahahhahahha…).

Menjadi berbeda

Kami hanya berempat dan kami begitu berbeda. Kadang g mudah buatku untuk rajin membaca seperti jeniffer, rajin mencatat seperti tri atopun seperti angel. Kadang aku akan lebih senang berada di perpustakaan kampus untuk baca, ato tanya kepada mbak wati tentang apa yang udah diajarkan. Aku ingat di semester semester akhir kuliahku, aku n rini membeli perekam, untuk merekam kuliah dari dosen, n kmd kami salin perkataan pak dosen.

Pengalaman itu membuatku menyadari bahwa tiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Dan g cuma orang dewasa, anak anak pun mengalami hal yang serupa.  Mengapa harus berbeda? Hal ini dikarenakan latar belakang dan proses masing masing individu.

Dilihat dari gaya belajar, ada anak yang lebih mudah menangkap pelajaran secara audio (seperti yang kulakukan, merekam lalu menyalin perkataan dosen, atopun seperti jeniff yang mendengarkan musik supaya bs lebih nyambung saat belajar), visual (seperti jeniffer yang membuat bagan bagan dan hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya), atopun kinestetik (dengan mencoba secara langsung).

Intelegensiapun memainkan peran disini. Ada IQ, EQ, SQ atopun mulitiple intelligence yang ditawarkan oleh howard gardner. Jika dulu dinyatakan bahwa IQ menjadi patokan keberhasilan, namun sekarang EQ (emotional quotient) dan SQ pun punya peran yang g kalah penting. Dan howard gardner lebih jauh lagi dengan menyatakan ada 8 kecerdasan yang dikuasai anak anak. Ukuran kecerdasan kini bukan hanya dilihat dari nilai matematikannya saja (math intelligence), tapi ada juga language intelligence (kecerdasan bahasa), intra personal (melakukan refleksi diri), interpersonal (berelasi dengan orang lain), natural intelligence (terkait dengan alam atau nature), spatial intelligence (kecerdasan spasial, menyangkut ruangà biasanya siswa teknik atopun arsitektur yang kuat di bidang ini), musical intelligence.

SES (social ekonomi status) juga berperan dalam perbedaan itu. Bagi orang yang memiliki kemampuan lebih, mereka dapat memberikan gizi yang lebih baik bagi anaknya, begitu juga dengan stimulasi yang diberikan. Anak akan dapat difasilitasi untuk ikut dalam berbegai kegiatan les maupun peralatan belajar. Tetapi apakah itu serta merta menjadikan mereka unggul dalam segala hal? Ternyata g seperti itu juga. Banyak juga cerita tentang orangtua yang memiliki kemampuan di bawah rata rata yang tidak mampu melakukan semua itu, tetapi anak mereka justru menjadi anak anak yang hebat dan luar biasa.

Tingkat pendidikan orangtua akan juga mempengaruhi pola pengasuhan anak yang pada akhirnya berpengaruh juga pada bagaimana anak merespon pembelajaran. begitu juga dengan sosial budaya mereka. Sebuah penelitian di amerika menyatakan bahwa orang kulit hitam yang memiliki tingkat pendidikan S1 akan memberikan stimulasi yang berbeda dengan yang lulusan SMU, demikian juga dengan warga kulit putih.

Lingkungan juga memainkan peranan yang sangat penting. Seperti kita tahu, lingkungan mempunyai kaitan yang erat dengan kebiasaan anak karena anak adalah peniru yang unggul (aku g hendak mengesampingkan adanya orang orang yang mampu keluar dari lingkaran kebiasaan di lingkungan). Sebuah lingkungan yang baik dan kondusif dapat membentuk karakter maupun perilaku belajar anak secara positif dibandingkan dengan lingkungan yang buruk.

How about us?

Dulu temanku pernah bercerita tentang anak anak yang belajar di rumahnya. Ada yang kutuan, ada yang badannya bau kaya belum mandi, ada yang kelas 5 tapi g mahir berhitung, singkatnya, semua anak yang ikut belajar di tempatnya menampakkan kekhasan masing masing. Dia menerima mereka semua dengan tangan terbuka. The end of his story is…. mereka jadi senang untuk belajar. Dan buatku… inilah salah satu tolak ukur keberhasilan guru…. membuat anak menjadi senang untuk belajar (krn bagiku…. keberhasilan tidak sekedar nilai raport, tetapi bgmn bs memotivasi mereka untuk belajar).

Menyadari bahwa anak itu berbeda dan unik akan dapat membantu kita untuk mencari cara yang terbaik untuk mengajar anak. Keseragaman atau usaha untuk menjadikan anak seragam dan meniadakan perbedaan perbedaan itu pada akhirnya akan menciptakan generasi yang tidak kreatif, takut untuk mengambil resiko karena takut dianggap berbeda. Setiap anak pasti akan menampilkan potensi mereka yang maksimal, apalagi kalo diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan cara yang mereka pahami.

To provide best thing to educate our children is one part of our responsibility (Shanti).

 

 

 

Pendidikan Entrepreneur : G Sekedar Berdagang Atau Menjadi Pengusaha

Terus terang aku bekerja di tempat yang menarik. Kenapa menarik? G lain dan g bukan karena sekolah ini punya visi yang berbeda yaitu menciptakan generasi entrepreneur. Generasi entrepreneur bukan sekedar generasi pengusaha atau menjadi seorang pebisnis yang andal, tapi lebih dari itu, generasi entrepreneur yang hendak diciptakan adalah generasi yang punya kualitas dan karakter seorang entrepreneur yaitu g gampang nyerah, terbuka terhadap ide ide baru, bisa melihat peluang dan generasi yang berani dan percaya diri. Alih-alih mencetak pengusaha, tapi lebih dalam dari itu, mencetak karakter yang tangguh dan g mudah menyerah. Apakah itu telah dimiliki oleh setiap anak? Tentu permasalahan ini jangan hanya dilihat dari punya atau tidak punya karakteristik itu, karena bagiku pendidikan adalah sebuah proses yang berlangsung secara terus menerus. Aku punya sebuah keyakinan bahwa walau mungkin kualitas itu g nampak saat mereka sekolah, tapi ibarat sebuah spons, pada akhirnya spons yang telah penuh oleh air akan mengeluarkan isinya pada suatu saat. Jadi apa yang dilakukan tidak pernah ada yang sia-sia.

Diawali dengan proses yang menarik yakni mengeksplorasi materi, anak anak diajak untuk lebih dalam mengenal sebuah materi, seperti misalnya materi tentang kebudayaan Indonesia, maka mereka akan mengeksplorasi banyak hal tentang Indonesia, baik makanannya, adat istiadatnya, pakaiannya dan sebagainya. Di akhir masa eksplorasi, mereka diminta untuk memikirkan sebuah ide karya yang akan mereka tampilkan untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi. Karya itu bisa bermacam-macam, seperti misalnya berupa makanan tradisional, tarian, produk tentang adat istiadat budaya yang sudah dipelajari dan sebagainya. Bisa dibayangkan jika dalam satu tahun terdapat 4 tema, maka tahun itu dia akan punya kesempatan untuk berkreasi sebanyak 4 kali. Dan jangan membayangkan kreasi itu harus melulu menggunakan barang baru. Kadang mereka menggunakan barang-barang yang sudah mereka punyai untuk membuat karya mereka. kadang, dari bahan yang sederhanapun bisa mereka buat sebagai karya.

Salah satu hal menarik aku jumpai dari anakku di kelas. Terus terang kelas kami tidak banyak diisi dengan permainan, maka untuk mensiasati itu, salah seorang anakku –bukan aku- berinisiatif untuk membuat mainan ular tangga dari kertas hvs. Dadunya ia buat dari buku gambar yang cukup tebal dan pionnya ia ambil dari berbagai barang kecil yang ia jumpai. Mainan buatannya ini dapat dijadikan alternatif mainan saat free time mereka.

Contoh lain yang menarik adalah inisiatif dari salah satu muridku untuk membuat es krim, dan kemudian dibawanya es itu ke kelas dan ia promosikan di hadapan teman teman lain. Walhasil banyak teman yang tertarik untuk mencoba es buatannya.

Kreasi anak g harus sempurna. Beberapa produk masih perlu dirapikan sana sini, beberapa tampilan masih perlu dipoles lagi, hal itu bagiku adalah wajar karena bagaimanapun juga usia mereka yang masih sangat muda untuk membuat karya. Tapi kembali lagi, bagiku sebuah potensi tidak hanya dilihat dari hasilnya saja, tetapi dari proses yang mereka jalani berulang ulang. Orang biasa menyebutnya “practice make perfect”.

Dan sekarang, hanya satu hal yang kuminta –pada Yang Maha Sempurna-, semoga benih yang telah tertabur ini tertanam mendalam di benak mereka, hingga pada saatnya nanti akan menunjukkan buah-buah yang manis rasanya.

Math Mini Project : 3C Store

Salah satu hal yang menyenangkan kami lakukan di tema 2 ini adalah adanya mini project matematika yang mencerminkan apa yang sudah dipelajari di tema 2 ini. Di tema ini kami belajar mengenai uang dan pengukuran. Kami kemudian berdiskusi topik apa yang akan kami ambil untuk dijadikan mini project dan uang terpilih menjadi topik dalam mini project kami.

Saat belajar mengenai uang, kami tidak hanya belajar mengenai nominal uang melainkan juga pertukaran uang, aktivitas jual beli (melalui soal cerita), maupun praktik jual beli secara langsung yang dipersiapkan oleh guru. Aktivitas yang kami lakukan itu cukup berkesan sehingga ketika dibuat menjadi mini project, anak-anakku langsung tahu apa yang ingin mereka lakukan.

Ketika mereka dibagi menjadi 4 kelompok, segera tiap kelompok membuat rancangan mengenai aktivitas jual beli apa yang ingin mereka lakukan. Terbersitlah beberapa ide sederhana seperti misalnya membuka les sempoa, membuka les craft, membuat persewaan mainan, dan juga membuka toko buku (buku yang mereka gunakan untuk jual belipun adalah buku yang mereka miliki di rumah, ditambah dengan buku di perpustakaan kelas kami). Maka merekapun segera mempersiapkan apa saja alat dan bahan yang perlu mereka siapkan dalam “toko” mereka masing-masing dan yang g kalah penting, menentukan harga yang pantas untuk “dagangan” mereka. Yang membuatku terkesan adalah ketika kelompok les sempoa mempresentasikan idenya didepanku, mereka sudah mengetahui apa saja yang akan mereka lakukan, soal apa yang akan mereka berikan, bahkan level kesulitannyapun sudah mereka bedakan. Dan tidak lupa juga mereka menyiapkan “penantang” yang berasal dari salah satu anggota kelompok mereka, untuk para pendatang yang ingin mengetes kemampuan berhitung cepat mereka.

Beberapa hari sebelum aktivitas jual beli kami, anak-anakku dengan penuh semangat membawa alat dan bahan yang mereka butuhkan. Kamipun juga sudah menyiapkan uang-uangan yang dapat kami gunakan untuk aktivitas jual beli kami (uang-uangan itu memiliki nominal dan gambar yang sama dengan uang biasa, hanya saja tertulis “uang mainan” agar siswa tahu bahwa itu tidak dapat digunakan untuk aktivitas jual beli di dunia nyata).

Hari jual beli telah tiba. Anak-anak mulai menata toko mereka masing masing. Mereka juga mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas itu seperti misalnya nama toko, daftar harga maupun desain toko yang mereka inginkan. Mereka saling bekerja sama menyiapkan dekorasi toko yang menarik, dan ketika pengunjung mulai tiba, mereka dengan segera berpromosi.

Melihat antusiasme itu, mau tidak mau aku ikut antusias juga. Persiapan yang sudah dilakukan ternyata mereka laksanakan dengan baik. Feedback yang diberikan pengunjung juga meningkatkan rasa percaya diri mereka. di akhir hari, ketika toko kami mulai tutup, mereka kuminta untuk menghitung berapa uang yang mereka dapatkan (baik secara riil, ataupun dari catatan aktivitas uang mereka) dan menghitung untung rugi yang mereka dapatkan.

In the end, bukan hanya pengalaman menghitung uang saja yang bisa mereka dapatkan, tetapi proses persiapan awal sampai pada akhir hari tutup toko menjadi bahan belajar yang berharga buat mereka

#happy student

#happy teacher

#meaningfull learning