Monthly Archives: September 2017

Aku selalu suka menanyakan hal kecil dan sepele. Terkadang itu karena rasa ingin tahuku, tapi juga ga jarang karena usil aja. Hal-hal kecil yang kutanyakan misalnya kaya, kenapa ada produk silverqueen yang berwarna merah di tulisannya, dan ada yang berwarna biru padahal mereka memiliki komposisi yang sama persis. Apakah itu strategi marketing? Apakah warna itu mempengaruhi penjualan? (hal itu mirip dengan kasus apple yang memproduksi iphone terbaru dengan spesifikasi yang sama persis, hanya berbeda di warna saja dan rupanya perbedaan warna aja bisa membuat orang memilih membeli iphone terbaru tersebut). pertanyaan lain misalnya, mengapa ada bayangan berwarna bulat sempurna di GOR sekolah sementara atapnya berbentuk gelombang sehingga seharusnya tidak mungkin ada bayangan bulat sempurna (menurutku, karena aku belum mendapat penjelasan dari temanku, kebanyakan mereka menyebutku g penting karena pertanyaan itu). Aku juga paling ingat dengan pertanyaan yang kuajukan pada grup kami PBOJ yang waktu itu sedang seru berdiskusi tentang kitab Ayub. Saat mereka sedang mempertanyakan pasal satu, aku mempertanyakan tentang penulis ayub. Aku ingat reaksi gide dan argo yang berusaha dengan sangat untuk menjelaskan padaku bahwa siapapun penulisnya, itu g utama, yang penting adalah isi dari kitab itu. Rupanya kami berpijak pada titik yang berbeda. Argo dan gide membahas dari sisi teologis, sementara aku penasaran untuk menyusuri sisi psikologis penulis. Rasa ingin tahuku kadang cukup tinggi untuk banyak hal.

Karena latar belakang itulah aku berpikira bahwa setiap orang memiliki rasa keingintahuan yang sama. Tapi pengalaman mengajarkanku, seiring dengan berjalannya waktu, rasa ingin tahu akan memudar dan berganti dengan rutinitas. Orang dewasa tidak lagi terpesona dengan banyak hal karena mereka menganggap itu sudah biasa. Karena itulah aku suka dengan anak-anak. Mereka masih memelihara rasa ingintahunya. Mereka masih bertanya tanya seperti apa rupa dunia. Mereka mengeksplorasi dirinya dan dunianya.

Karena itu juga aku suka mengajar anak-anak. Kadang mereka mengajukan pertanyaan pertanyaan sederhana tapi membuat aku berpikir, “iya juga ya”. Dan kalopun aku g tau jawabannya, aku akan mencarinya bersama mereka.

Dan selama bertahun tahun mengajar, akhirnya bertemulah aku dengan mereka. mereka adalah lawan dari rasa ingin tahuku. Mereka termasuk dalam golongan anak-anak apatis. Mereka g peduli soal nilai, soal pengetahuan, soal apapun. Yang ingin mereka lakukan hanyalah bermain dan menikmati hidup. Mereka malas malasan di kelas, kalopun mengerjakan soal, mereka kerjakan seadanya. Ketuntasan bukanlah masalah, apalagi kerapian dan ketepatan jawaban. Mereka inilah yang –bagiku- lupa rasanya menjadi anak-anak yang ingin tahu banyak hal. Anak-anak seperti ini ada, bukan hanya di kelasku saja, mungkin ada juga di kelas kelas lain, di sekolah sekolah lain, bahkan mungkin ada pula di belahan dunia lain yang dianggap negara maju sekalipun. Golongan anak-anak yang kehilangan sensasi “mencari”.

Kadang aku bertanya tanya, apakah anak seperti mereka benar-benar ada, ataukah hanya aku yang belum menemukan pemicunya. Anak – anak seperti inilah yang sedang menjadi PR bagiku. Setting kelas, pendekatan personal sampai pada tingkat kesulitan soal sudah diusahakan, tapi hasilnya g jauh berbeda. And the big question for me is, apakah mereka kehilangan sensasi rasa ingin tahu, ato mereka hanya g nyampe –ke tahap rasa ingin tahu?

Rasa ingin tahu adalah hal yang alami dalam diri anak. Keingintahuan akan berkembang selaras dengan kemerdekaan belajar yang mereka alami. Jika kemerdekaan belajar itu telah terenggut, untuk apa lagi mereka belajar? untuk apa lagi mereka mencari tahu, bertanya, mencari jawab dan pada akhirnya, mengkonstruksi pengetahuan baru. Hal ini memicu ingatanku tentang proses pembelajaran Hole in the Wall di India. Hole in the Wall sejatinya adalah sebuah proses experimen untuk mengetahui sejauh mana potensi anak untuk belajar apabila ia diberi kebebasan untuk bereksplorasi secara mandiri. Proses pembelajaran Hole in the Wall sendiri cukup menarik. Di sana disediakan seperangkat komputer dan siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi komputer itu tanpa campur tangan seorang guru. Dari sinilah rasa ingin tahu anak terbangun. Proses uji coba yang terjadi berulangkali menghasilkan proses pembelajaran yang jauh lebih bermakna daripada hanya sekedar duduk mendengarkan guru tentang cara pengoperasian komputer.

Pertanyaan yang masih terasa penting hari ini, sudahkah anak kita mengalami kemerdekaan dalam belajar dan kemerdekaan untuk mengkonstruksi pengetahuan. Terkait dengan hal itu, apakah guru masih relevan untuk menjadi pengajar bagi anak-anak jika justru kitalah yang menjadi perebut rasa merdeka belajar bagi anak-anak?DImanakah kita sekarang? Jangan-jangan kita masih stuck pada tahap yang sama, berdiri dengan pongah dalam posisi sebagai pusat pengetahuan yang sama. Atau yang lebih parah, menjadikan siswa tidak merdeka dengan menjadikan mereka seragam dengan manusia-manusia lain, padahal kita tahu bahwa setiap anak itu unik dan spesial.

 

Advertisements