Monthly Archives: April 2014

tentang jale

Beberapa minggu yang lalu aku ke rumah mbah di blitar. Disana aku ketemu dengan keponakanku yang bernama Jale. Jale ini anak laki laki berusia 9 tahun dan tahun ini akan naik ke kelas 5. Jale mempunyai adek kecil yang bernama kalea yang masih berumur 1 tahun. Mama papa jale membuka usaha laundry dan usaha ini nampaknya menjadi maju karena setiap hari selalu ada saja orang yang mencucikan bajunya di tempat mereka. Kesibukan dari orangtua punya imbas yang cukup besar pada jale. Pada akhrinya, jale sebagai kakak tertua harus menjaga lea adiknya, dan mereka sering dititipkan di rumah si mbah untuk menemani mbah juga. dengan kata lain, jale mempunya tanggung jawab pada lea dan mbah.

Aku pernah bertanya ke jale, kenapa kok g main sama teman temannya, dia bilang g suka sama teman temannya. Aku pernah juga bertanya apakah dia punya handphone, dia bilang punya, tetapi dirusakkan kalea. Dia menceritakan itu (rusaknya hape) dengan nada biasa saja.

Cerita lain, temanku pernah bertanya ke jale tentang cita cita jale. Dia bilang pengen ada apotik deket rumah supaya bisa beli obat untuk mbah di dekat rumah. Dia juga pengen ada pasar di dekat rumah mbah supaya mbah g pergi jauh jauh untuk belanja

Jawaban jale yang luar biasa ini membuat temanku terpana. Baginya, jawaban jale yang sangat social ini sangat luar biasa. di tengah kehidupan modern saat ini, dimana anak akan lebih memilih untuk bermain dengan temanya, jale memilih pandangan yang berbeda. Dia menjalankan tanggung jawabnya dengan luar biasa, dan memiliki pandangan hidup yang g kalah istimewa. Di sisi ini aku setuju dengan temanku, jale memang istimewa

Apakah ini nature or nurture, well, aku rasa keduanya memainkan peran yang sangat besar dalam pilihan hidup jale.

Usia jale adalah usia pra remaja dimana pada saat itu ada banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya. Yang dulunya kemekatan pada orangtua menjadi hal yang penting, kini dia mulai melepaskan kemelekatan itu. Anak anak pada usianya akan mengembangkan kemampuan sosialnya dengan bermain bersama kawan sebayanya dan berusaha untuk mencari tempat dalam lingkungannya. Jika kemampuan ini tidak dimiliki, maka dia akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan sesamanya.

Menarik untuk dapat melihat jale lebih jauh, tetapi sayangnya aku belum mendapat kesempatan untuk berinteraksi lebih lama dengannya. Seandainya aku bisa melihatnya bermain dengan teman teman, lalu berbincang dengannya lebih lama, tentu akan sangat menyenangkan untuk melihat keistimewaan yang dimilikinya.

my special kids in this year

1. Panggil saja dia C. Usianya baru 10 tahun. Memasuki usia remaja, beberapa bagian tubuhnya sudah mengalami perubahan. Walau begitu, dia sesungguhnya tetap anak anak. C begitu menginginkan perhatian, hanya untuknya.  Di kelas dia menjadi anak yang sangat pemarah. Setiap hal kecil dapat meluapkan amarahnya. Jika mulai mengamuk, dia akan berteriak dan mengatai teman temannya. Perilakunya ini sudah menjadi kebiasaan.  Aku sebagai gurunya sudah sering menegurnya, bahkan juga berbicara dengan kedua orangtuanya.  C pernah bercerita betapa padat kegiatan hariannya. Sepulang sekolah, dia istirahat 15 menit, lalu berangkat les. Dia baru pulang setelah agak malam. Setelah itu dia harus mengerjakan prnya. Sering dia tidur diatas jam 9 malam untuk mengerjakan tugas. Dulu sabtu dan minggu juga tidak jauh berbeda. Sabtu dan minggu mama papanya selalu menyuruhnya ke rumah engkong. Dan dia tidak suka. Dia ingin di rumah dan beristirahat.  Anak yang penat. Bom yang dibawanya selalu meledak setiap waktu

2. Sebut saja dia R.  Anak ini cukup pendiam. Guru yang pernah mengajarnya pernah bercerita, anak ini bagai menyimpan bara dalam sekam. Tiba tiba dia akan memukul temannya jika dirasa sangat jengkel. Dan itu tidak diungkapkan dalam kata kata, melainkan langsung dengan memukul. Dia mengalami kesulitan.untuk.mengungkapkan isi hatinya. Sering aku merasa dia berada di waktu dan tempat yang berbeda. Jika waktunya berbicara maka dia akan diam seribu bahasa. Dan kalaupun diajak berbicara, seringkali g nyambung. Orangtuanyapun memiliki kekhawatiran yang sama. Pelan pelan dia mulai bercerita padaku. G banyak, dan bukan cerita ttg kegiatan harian. Dia menjawab pertanyaanku dan memberitahukan alasan dia tidak mengerjakan tugas dll, itu sudah cukup bagiku untuk saat ini. Yg ptg dy sdh dpt mengungkapkan sesuatu. Tapi aku selalu bertanya, bagaimana aku bisa menolongnya?