Monthly Archives: May 2013

kumpulan tulisan pendek

  1. Ekspresi

aku tak dapat menangkap makna dari apapun yang ada di sekitarku. dulu sewaktu aku kecil, orang bermain cilukba untuk membuatku tertawa, tapi sungguh, aku tak dapat tertawa, karena aku memang tak tahu apa yang sedang mereka lakukan..
mereka mengajarkanku berbagai ekspresi. kami mencoba ekspresi senang, sedih, marah, bingung dan berbagai ekspresi lain. tapi terkadang aku bingung untuk menempatkan berbagai ekspresi itu pada waktu yang tepat. mereka menyebut ekspresi-espresi itu akan muncul sebagai sesuatu yang alamiah… padahal bagiku itu tidaklah mudah.
mereka juga mengajarkanku bahwa seseorang sedih apabila….. seseorang merasa senang apabila…… dan aku tak dapat menangkap maknanya. aku hanya tau di permukaan saja, bahwa sesuatu itu disebut sedih ataupun senang, tapi aku tak benar2 dapat merasakan kesedihan ataupun kesenangan, baik yang terjadi pada diriku terlebih pada orang lain.
sungguh…. aku tak mengerti. apakah aku hanyalah cacat rasa atau aku punya apa yang disebut seseorang sebagai autisma? entahlah….
*edisi kebanyakan baca buku donna williams*

 

2. Edisi mengenang anak kesayangan

Dia bergerak begitu cepat. melompat bagaikan kelinci dengan kedua kakinya berjinjit. senyum menghias wajahnya ketika dia berkeliling ruangan. namun dia tak tersenyum padaku. dia tersenyum pada dunianya. tiba-tiba dia menangis ketika aku membuka pintu. di luar sana suasana sedang ramai karena kami sedang mengadakan acara. banyak orang yang datang, musik berdentum dengan cukup kencang. badut yang berkeliling menawarkan keceriaan. tapi itu tidak berlaku untuknya. dia tidak menyukai semua itu. dia menangis ketakutan. aku bisa merasakan badannya menggigil di pelukanku dan suara tangisnya yang semakin mengencang. dia memelukku dengan sangat erat. tangisan itu selalu terjadi jika aku membawanya di tengah keramaian ataupun ketika ada keramaian di luar dirinya. terkadang dia muntah ketika dia merasa takut, sehingga aku harus memeluk ataupun menggendongnya agar dia merasa tenang…
ahhh.. kejadian itu seperti baru kemarin rasanya

 

3. Menjadi Dewasa

kita saling berpegangan tangan sambil terdiam. aku tak tahu apa yang kamu pikirkan. bagiku, kamu tetaplah sama seperti orang yang kukenal 15 tahun yang lalu. kanak-kanak dengan segala emosimu. kamu merasa dirimu berubah? tidak sayangku… kamu tidak berubah, dan itulah yang kuherankan darimu. setiap orang bertambah dewasa, tetapi kamu tetap orang yang sama.

 

4. Aku dan cermin di hatiku

aku memandang cermin sekali lagi untuk memastikan bahwa itu adalah wajahku. dulu ketika aku bercermin, wajah yang nampak adalah wajah cantik seperti artis yang selalu tersenyum. dulu aku selalu melihat “wajahku” namun bukan wajahku yang sesungguhnya, sehingga senyumku, tangisku, sedihku ataupun tawaku, adalah ekspresi dari “wajahku”. tidak hanya wajah, tetapi juga tubuhku. aku selalu bercermin dari oranglain mengenai tubuhku. ketika bersama orang yang tinggi, aku tak pernah merasa bahwa tubuhku tak setinggi mereka, ataupun sebaliknya, ketika bersama dengan orang yang lebih mungil dariku, aku tak pernah merasa bahwa aku lebih tinggi dari mereka. setelah sekian lama baru aku menyadari bahwa aku memiliki tubuh dan wajahku sendiri, dengan segala lekuk-lekuknya yang khas. awalnya aku merasa cukup asing dan aneh dengan hal ini. tubuh dan wajahku yang selalu menemaniku, kini baru menampakkan kehadirannya, ataukah.. mereka sudah ada, hanya saja aku tak menyadarinya?

 

5. Edisi mengenang hidup

dia kembali menekuri buku-buku bacaannya. aku dapat melihat berbagai kelebatan ide yang melompat-lompat riang dipikirannya. mereka merindu untuk dituangkan dalam bentuk yang lebih nyata. mereka ingin hadir di dunia. mereka ingin dianggap ada…
terkadang senyum mengambang di bibirnya, namun terkadang pula wajahnya tenggelam dalam sendu dan rindu merayu. Namun tak jarang pula sumpah serapah keluar dari bibirnya.
aku ingin berkata padanya… usah kau tanggung beban dunia di pundakmu. nikmatilah adanya hidupmu. tersenyumlah pada hari ini….tapi aku sadar bahwa itu percuma…. karena dia hanya hidup di dunianya. ah anakku.. andai kau tahu betapa indahnya duniamu….

 

6. Duel

dia berusaha mendekat kepadaku. jarak kami waktu itu hanya terpisahkan 5 buah bangku. semakin lama dia makin mendekat dan selanjutnya yang kurasakan adalah panas di pipiku. aku yang terpaku selama beberapa milidetik segera membalas perbuatannya. akupun segera mengepalkan tanganku dan meninju wajahnya. jantungku yang berdebar sangat kencang setiapkali aku merasa gugup, kali itu berdebar lebih kencang dari biasanya. nafasku memburu dan aku bisa melihat dia merasakan hal yang sama. selama beberapa menit selanjutnya kami saling bertukar tinju.. dia.. laki-laki 15 tahun yang tubuhnya lebih besar daripada tubuhku, melawan seorang perempuan yang hanya 2/3 tinggi badannya. yang kutakutkan saat itu bukan lebam-lebam di tubuhku, tetapi aku takut kehilangan harga diriku. kami melanjutkan hobi kami sampai kemudian seorang guru datang dan melerai kami berdua. akhirnya pertunjukanpun selesai dan tirai segera ditutup. hari itu kami menjadi bintang pertunjukan di kelas kami….

 

desperate

Dia menoleh padaku. Kali ni sudah yang kesekian kalinya. Rona gelisah tergambar jelas di wajahnya. Matanya menerawang, seolah dia tidak ada di sini lagi. Sembari memainkan rambutnya, ia mencoret coretkan sesuatu di kertasnya. Aku hanya memandangnya saja dari kejauhan. Aku tak mau mendatanginya karena kali ini ia harus mencoba, mencoba dengan seluruh kemampuannya.

30 menit berlalu. Sudah tak terhitung berapa kali ia menolehkan wajahnya kepadaku. Tapi aku tak bergeming. Aku tetap berpura-pura tak melihatnya. Aku tak mau menampakkan belas kasihanku padanya. Aku sudah menetapkan batas yang jelas untuknya. Kali ini kamu berjuang sendiri anakku.

Waktu terlalu sangat lambat bergulir untukku dan mungkin juga untuk mereka. Menunggu mereka rasanya seperti seabad lamanya. Menunggu rasanya seperti sebuah adegan gerak lambat, seperti sebuah roda yang berputar telalu pelan. Sangat pelaaaannn… seperti buffer yang seringkali kualami ketika aku menonton video di youtube. Beberapa kali aku tenggelam dalam lamunanku atas dunia sambil sesekali mencuri pandang pada mereka. Akhirnya tiba waktuku untuk mengakhiri penderitaan kami atas waktu yang harus kami jalani. Aku memanggil nama mereka satu persatu. Setiap nama kupanggil dengan lantang agar mereka tidak jatuh tertidur dalam pelukan waktu.

Ada yang datang padaku dengan penuh keberanian, ada yang menampakkan wajah penuh kepuasan, namun ada pula wajah-wajah yang tertunduk layu seolah mereka telah kalah dalam pertempuran ini. nama terakhir yang kusebut adalah namanya. Nama yang akan selalu kuingat karena dia adalah anakku yang paling kukasihi diantara anak anak yang lainnya. Dia memberikanku hasil kerjanya. Kali ini aku yang tertegun tak berdaya.

kompetiblog 2013

Hari ini aku membaca pengumuman finalis kompetisi blog yang diadakan nuffic nesso dan betapa terkejutnya aku mendapati bahwa namaku termasuk salah satu dalam daftar 31 finalis. Di bawahnya terdapat tulisan bahwa finalis diundang untuk hadir dalam acara pengumuman pemenang lomba.

Hatiku tentu deg-degan. Siapa sih yang ga mau menang dalam kompetisi ini. apalagi hadiahnya sangat menggiurkan, mengikuti summer course selama 2 minggu di belanda. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa yang sangat sayang untuk dilewatkan. Dan bisa ditebak, tentu aku berharap akulah pemenangnya yang bisa berangkat ke Belanda di tahun ini (AMMIIIIIIIIIIIIINNNNNNNN)

Judul yang kuberikan adalah climbers, campers dan quitters. Sebenarnya ini adalah hasil dari training yang selama ini kuikuti bersama bu Susan (seorang psikolog yang diminta untuk mengisi training psikologi di sekolah kami). Aku ingat sekali bahwa ini adalah materi training di tahun yang lalu. Yang aku ingat adalah selain mengenai apa itu definisi climbers, campers dan quitters, dan juga suasana ketika kami mengikuti training. Kala itu kami sedang berada di hall, kami diminta untuk mengisi kuisioner yang akan menentukan berada dalam posisi apakah kami. Setelah mengisi pertanyaan-pertanyaan tersebut, akhirnya skor kami dihitung.

Hasil dari penghitungan skor itu cukup mengejutkan buatku. Selama ini aku merasa bahwa aku adalah seorang climbers karena aku adalah orang yang pantang menyerah untuk apapun, terutama untuk hal-hal yang aku percayai, aku yakini dengan teguh ataupun apapun yang sedang kukejar atau kuusahakan. Yang menarik adalah dari hasil kuisioner itu, aku termasuk dalam golongan campers, dengan nilai yang tidak terlalu tinggi. Dalam arti aku campers yang memiliki kecenderungan quitters. Betapa mengherankan mengingat selama ini aku cukup keras kepala dan gigih dalam mengejar sesuatu.

Oke, mari kita kembali ke topic semula. Topic climbers, campers dan quitters ini terasa seperti sebuah proyek yang tak terjawab buatku. Bagaimana mungkin aku masuk dalam golongan campers dengan nilai minimum. karena itu akhirnya aku terus menerus mengevaluasi diriku, apakah aku termasuk seorang yang berada dalam golongan campers, apakah aku akan berhenti pada label campers, dan berpuas diri atas itu, ataukah aku tetap mempertahankan keyakinanku bahwa aku adalah seorang climbers.

Akhirnya aku menuliskan hal ini sebagai proyek rasa ingin tahu akan kadar diriku. Sebagai informasi tambahan, aku mengikuti kompetiblog ini pada tahun 2010, aku melewatkan tahun 2011, kemudian aku ikut lagi di tahun 2012 dan 2013. Dulu di tahun 2010 yang aku ingat adalah bahwa kami harus memasukkan logo kompetiblog di dalamnya. Hal itu cukup menyulitkan buatku karena aku tidak paham IT. akhirnya aku meminta bantuan temanku untuk memasukkan logo tersebut dan aku puas melihat namaku berada di dalam daftar peserta.

Mengenai isi tulisan itu sendiri, aku mengakui, setelah aku baca beberapa kali di tahun-tahun berikutnya, aku merasa aku masih bisa menulis yang lebih baik daripada itu. tapi its okay… aku tetap harus mengingat kenyataan bahwa waktu itu aku sudah mengusahakan yang terbaik yang bisa aku lakukan dalam kondisi itu.

Aku melewatkan kompetiblog tahun 2011 karena aku tertinggal informasi. Aku ingat bahwa aku membaca adanya informasi kompetiblog itu pada bulan November, yang mana sudah sangat terlambat. Tetapi aku berjanji bahwa di tahun berikutnya aku tidak boleh menyerah. Aku bertekad untuk melatih cara menulisku, pemilihan kata dan lain lain. Aku jadi makin bersemangat untuk menulis di blog maupun facebook.

Tahun 2012 aku mengikuti kompetiblog lagi dan temanya adalah dutch inovation. Di tahun ini aku mencoba bentuk tulisan yang berbeda. Jika di tahun pertama aku lebih cenderung informatif namun terasa kaku, di tahun 2012 aku mencoba untuk menulis dengan bahasa yang lebih luwes. Kali ini aku mengirimkan 2 artikel, yang satu berbahasa Inggris dan yang lain berbahasa Indonesia. Aku mencoba peluang, siapa tahu dengan membuat artikel berbahasa inggris, akan membuat para juri terkesan dengan kemampuanku sehingga akan dipertimbangan lebih lanjut. Artikel kedua berjudul Eudaimonia. Aku mendapat kosakata eudaimonia ketika aku googling dan aku ingat, aku sangat senang ketika aku menuliskan itu. Aku senang dan merasa berada dalam keadaan eudaimonia yang sesungguhnya. Sungguh, kepuasan untuk menulis jauh lebih besar saat itu sehingga aku bertekad, apapun hasilnya aku akan berpuas karena aku tahu aku sudah mengusahakan yang terbaik. Dan aku ingat, di tahun itu aku banyak sekali menelurkan tulisan-tulisanku, baik mengenai cerita keseharianku mengenai anak-anakku, maupun keseharianku dan harapanku. Aku mempunyai 2 buah blog yang kupisahkan dimana di blog tiyasworld@wordpress.com aku lebih banyak mengisi tentang hal hal yang berbau pendidikan, sementara di tiyaworld@wordpress.com aku lebih banyak mengisi mengenai keseharianku, bacaanku dan sebagainya. Di sana ada puisi, resensi ataupun saat-saat liburanku.

Setiap mengikuti kompetiblog ini aku seolah mengubah pola istirahatku. Jika biasanya aku tidur pada pukul 9, namun kali ini kadang aku tidur jam 12 malam, karena kadang inspirasi baru muncul jam 11 malam. Hal ini akan terasa biasa saja manakala aku tidak sedang bekerja. Pekerjaanku sebagai seorang guru di sekolah saat ini menuntutku untuk berangkat kurang dari jam setengah 7 pagi. Oleh karena itu aku harus mengatur pola tidurku sebaik mungkin.. aku ingin agar kehidupanku seimbang, baik di sekolah maupun kehidupan pribadiku. Aku tidak ingin mengorbankan anak-anakku ketika aku merasa lelah, sehingga aku mengatur jadwalku sebaik mungkin.

Sungguh, jika kuingat2 lagi, pemaparanku dari awal sampai pada akhir ini menurutku tidak menunjukkan adanya semangat seorang campers. Aku menganggap diriku adalah seorang climbers. Jika aku berpuas diri dengan keadaanku, maka aku tidak akan pernah mencoba lagi dan lagi dan lagi. Aku bertekad akan terus mencoba sampai batas maksimal usiaku, sampai aku dianggap cukup layak. Dan aku percaya, suatu saat aku akan memetik hasil yang baik dalam setiap kerja kerasku. Buktinya, negara yang menjadi negara idamanku itu berhasil menjadi negara maju yang memiliki kehidupan yang teratur, aku percaya aku akan bisa sampai pada keadaan itu pula. Semoga aku bisa…… AMIIIIIIINNNNNN ^_^

Kecil Tapi Besar

Berawal dari seorang pembuat kacamata…

Belanda tahun 1590 : Meneer Hans Janssen dan Zacharias Janssen yang adalah pembuat kacamata, menemukan beberapa lensa dapat menjadikan benda terlihat jadi lebih besar dari aslinya. Penemuan Jansen berupa lensa tunggal dengan 9 kali perbesaran mikroskop optic. Ide ini muncul karena ia ingin membantu orang yang memiliki masalah penglihatan serius.

Antonie van Leeuwenhoek.

Dimulai dari kisah magang di sebuah toko dimana ia harus menggunakan kaca  pembesar untuk menghitung jumlah benang dalam kain, pada akhirnya hal inilah yang memicu ide untuk membuat sebuah alat yang akhirnya kita sebut sebagai mikroskop. Meneer Antonie van Leeunwenhoek namanya. Meneer Antonie  belajar untuk menggiling dan menggosok lensa kecil yang merupakan pengembangan dari lensa yang dibuat oleh Janssen. Alat yang dibuatnya mampu perbesaran hingga 270 diameter. Dengan kemampuan alat ini, pada akhirnya memungkinkannya untuk melihat benda-benda yang tak tampak oleh mata telanjang.

Meneer Antonie melakukan studi mandiri dan menjadi pelopor untuk meneliti berbagai jenis benda-benda kecil yang terdapat di air sungai, air hujan, bahkan di feses sekalipun. 

                                                                                                                                    

Setiap hasil penelitiannya pada akhirnya dikirimkan ke Royal Society di London. Meneer Antonie, mendapat penghormatan dari Royal Society London karena penelitian-penelitian yang dilakukannya merupakah satu langkah maju dalam dunia biologi. Dapat dikatakan bahwa dialah orang pertama yang melihat dan menggambarkan berbagai bakteri, ragi tanaman, berbagai jenis kehidupan dalam sebuah tetesan air, serta sirkulasi darah dalam kapiler. Oleh karena itu tak salah jika dia disebut sebagai bapak pelopor ilmu mikrobiologi.

Yang menarik dari kisah hidup Antonie adalah fakta bahwa ia bukanlah orang yang menempuh pendidikan khusus di bidang Biologi. Ketertarikannya di bidang ini semata karena rasa ingintahunya terhadap benda yang teramat kecil itu. Sebagai informasi tambahan, satu-satunya bahasa yang dikuasainya hanyalah bahasa Belanda.

Salah satu kutipan yang terkenal yang diucapkan oleh meneer Antonie :

“…my work, which I’ve done for a long time, was not pursued in order to gain the praise I now enjoy, but chiefly from a craving after knowledge, which I notice resides in me more than in most other men. And therewithal, whenever I found out anything remarkable, I have thought it my duty to put down my discovery on paper, so that all ingenious people might be informed thereof.”

Antony van Leeuwenhoek. Letter of June 12, 1716

Demi kemajuan ilmu pengetahuan. Ia melakukan banyak sekali penelitian. Bahkan di saat saat terakhirnya sekalipun, ia masih saja menuliskan hasil penelitiannya. Apa yang dilakukannya itu besar sekali manfaatnya bagi banyak orang. Meneer Antonie ini memiliki banyak factor yang membuat ia dihormati oleh banyak orang. Selain karena kepandaian dan kreativitas, ada factor lain yang juga tidak kalah pentingnya. Factor itulah yang disebut kemauan. Kemauan memacu kita untuk dapat melakukan perubahan. Seperti kata Meneer Baruch Spinoza, salah seorang filsuf Belanda yang sejaman dengan meneer Antonie tadi “Desire is the very essence of man” (Baruch Spinoza). Jika kita mempunyai keinginan, pastilah ada jalan bagi kita.

 “If you keep thinking about what you want to do or what you hope will happened, you don’t do it, and it wont happened” kutipan dari Desiderius Erasmus (1469-1536)

http://www.ucmp.berkeley.edu/history/leeuwenhoek.html

http://thinkexist.com/quotes/top/nationality/dutch/3.html

 http://inventors.about.com/od/mstartinventions/a/microscope.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Antonie_van_Leeuwenhoek

http://en.wikipedia.org/wiki/Zacharias_Janssen

http://www.quotesea.com/quotes/author-category/dutch-philosophers/2

climbers, campers and quitters

Ada tiga jenis manusia di dunia ini yang pertama disebut quitter, yang kedua disebut campers dan yang ketiga disebut climbers. Ketiga jenis itu dapat digambarkan secara lebih jelas dari cerita berikut :

Ada 3 anak yang diminta oleh ibu masing-masing untuk membeli minyak goreng. Di perjalanan, anak tersebut jatuh dan menumpahkan minyak mereka sehingga tinggal separuh.

Anak pertama datang pada ibunya dan melapor “Ibu, aku tadi terjatuh dan menumpahkan minyaknya separuh sehingga hampir habis, maafkan aku ibu” (quitter)

Anak kedua melapor pada ibunya dan berkata “Ibu aku tadi menumpahkan minyak tetapi masih ada separuh kok ibu” (campers)

Anak ketiga melapor pada ibunya dan berkata “Ibu, aku tadi menumpahkan minyak dan masih ada separuh. Sekarang aku akan mencari cara agar aku dapat mengembalikan minyak yang tadi terjatuh.” (climbers)

Tiga jenis itu ada pada diri masing-masing orang. Demikian pula dengan penduduk Belanda. Lalu apa yang membedakan mereka dengan kita? Mengapa mereka mampu menjadi negara yang maju dibandingkan dengan kita?

Itu tak lain karena hampir sebagian besar dari penduduk Belanda adalah seorang climbers. Tidak percaya? Coba kita lihat catatan sejarah warga Belanda. Jika kita searching info mengenai Belanda, kita akan tahu bahwa negeri ini kecil serta memiliki daratan yang lebih rendah daripada lautan. Seorang quitter akan berpikir “Okehlah… negaraku sudah seperti ini, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi”. Seorang campers memiliki pemikiran seperti ini “Daratan negeriku lebih rendah dari laut tapi aku cukup puas dengan keadaanku saat ini”. Namun untungnya negeri ini terdiri dari banyak climbers-climbers yang berpikiran bahwa “Kita membutuhkan sesuatu yang dapat memompa air dan mengeringkan daratan kita”.

Warga Belanda tidak berhenti untuk mencipta karena mereka bukan seorang yang mudah menyerah maupun orang yang cukup puas dengan keadaan diri mereka. Dapat kita lihat daftar penemuan-penemuan yang dipioneerkan oleh warga Belanda. Sebut saja Mercator Projection yang dibuat oleh Gerardus Mercator pada tahun 1569, selain itu atlas pertama di dunia diciptakan tahun 1564 oleh Abraham Ortelius.

Masih ingat dengan VOC alias perusahaan dagang milik Belanda? VOC ini adalah usaha multinasional pertama yang ada di dunia yang berdiri pada tahun 1602. VOC yang didirikan  oleh Cornelis de Houtman dan Jan Huyghenvan van Linschoten ini melihat adanya peluang untuk berdagang rempah-rempah di Indonesia dan menghasilkan keuntungan yang besar.

Dalam bidang kimia, kita juga dapat mencatat penemuan skala Fahrenheit oleh Daniel Gabriel Fahrenheit di tahun 1724. Selain itu ada juga penemuan mikroskop, ECG dan banyak penemuan lain yang dipioneerkan oleh warga Belanda. Dan inovasi terbarunya adalah membuat desain jalan yang aman untuk pengendara sepeda. Idenya adalah membuat penghangat jalan agar es cepat meleleh di musim salju, dan membuat jalan yang mengeluarkan cahaya (glow in the dark), karena pemerintah disana mematikan lampu jalan di waktu malam. Dengan adanya jalan yang glow in the dark maka pengendara tetap dapat melakukan perjalanan dengan aman.

Penemuan-penemuan itu hanyalah beberapa jenis dari banyaknya penemuan yang diciptakan oleh bangsa Belanda. Semangat, kerja keras, pantang menyerah dan selalu ingin maju, itulah yang menyebabkan negara ini maju.

 “To be a pioneer.. then you should be a climber” ~Shanti~

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Dutch_inventions_and_discoveries

http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-20942340

http://www.youtube.com/watch?v=hobgiTPZ4TU

 

 

 

a teacher story -our puzzle competition in this year

This year I’m having anotherpuzzle competition. On this puzzle competition, now I ask the student to count1-2 to form a group and they had to arrange puzzle about farm or about zoo.This time each group are having the same strength and we really payingattention on their process and cooperation.

In group 1 we have virly, dhita,putra, ryan, russell, yewon, roger, jayden,  

In group 2 we have Darren,Rafael, Zahra, lubna, denta, ino, Dillon, nisha,  amor

In group 1, their strategies isto arrange the puzzle by them self, after that they will gather all the pictureinto a whole puzzle. In group two, they are discussing and helping each otherto find the picture. The winner for the first competition is virly’s group. Theycan do it only in 15 minutes. The second group can finish it in 18 minutes. Offcourse there had disappointing moment from the 2nd winner. They said that farm puzzle is too easyand the zoo is way much harder to arrange. But I told them that they have thesame challenge.

In the second competition, Iasked them to switch the puzzle. If in the first term they get farm animal, sothe second term they will get zoo. I also raised the challenge in the secondterm.  This time I gather all the puzzlepieces. So there will be 128 pieces become one. I ask them, still in theirgroup to solve the problem. And then they make the decision, each group willtake their pieces first, and gather it on their places.  

Both group still use the samestrategies. Each kid in virly’s group try to arrange small pieces of puzzle andthen gather it. While darren’s group still make a centralization. In thispuzzle competition, seems to be that virly’s strategies are more working ratherthan darren’s strategies, because virly’s group won again for this time. theycan finish the puzzle for only 15 minutes.

Its nice to see theircooperation. Every one keep focusing on their puzzle. Putra, one of my studentthat often consider as “problem for teacher” did his best effort. He canarrange the puzzle faster than anyone else in his group. That’s why he so proudwhen his group wins the competition. And for the second group, he said “you arethe 2nd winner” *in a encouraging tone*

Now I counting down my last daywith my kids. They were so different from the first time I saw them. When oneof their friend decide to move to another school, they were sad and showsympathy to their friend. I asked them “since you only have one month left  in this class, cos after this you will go tosecond grade with different teacher and maybe have different friend, so please,be a good friend for each other. Give compliment for your friend, encouragethem, and help them if they have difficulties. 

Feels sad because one month leftwith them but I also cant wait for my other adventure that will be start onnext june. For you teacher… have fun with your kids…..

mini drama

Today we have a mini drama titled Kisah Kartini.
the main idea is from my partner when she saw my student act like we did at the classroom. At the Kartini days, she divide the students into 3 groups that will have role play about kartini. they will discuss what to play etc. but at the last minute we, change our plan. we decide to make mini drama for all grade one. and in that mini drama, everyone is involeved, everyone play one role, even a role as a singer.

actually this is a crazy project, since we only have 3 time to practiced which is on last circle time on monday, first circle time and last circle time on tuesday. today, which is wednesday, will be our perform day….

some of them still dont get it, when they come to the stage, and when they leave, after 3 times practicing.. they get the idea. since this is not a big event, so we only make a informal invitation to the parents and we ask the teacher to watch our mini drama. different from our 1st idea which we use the hall for the performance, this time we use pur broadcast room to perform, which quite small room, and when the parents arrive, we dont have enough space for all of them.

the mini drama itself runs quite well. the positive side is… during the practice, sometimes they even improvised the role, such as when we said that “kartini were love to play with her friend”, they create a play without any command from us. so they have their on inisiative to make it good. I give them thumbs four their effort and courage to be a centre of attraction. but we also have negaive side. Since we invited the parents, some of them are having unusuall act which is sit next to the parents, taking picture, making sounds etc…

things that i learn from this situation is… practiced is necessary, bigger space, seperate place between students and parents, remind the parents not to take the picture of their son/daughter during the drama (otherwise the students will focused with the camera, compare to the show). but still.. i’m proud with them

story telling time

This time we had an interestingtime that we called its story telling time. Kids are really waiting for thismoment. Because they love story telling time. Our story telling is simple.Someone read a book and we discuss about that book together. But the one thatmake it interesting is the one that read the book or become the story teller isnot the teacher, but the student. And in our story telling, we also had acameramen to filming the moment. An our cameramen is  our student.

U know what…. They are reallyenthusiastic  to be the story teller orthe cameramen. They raised their hand when we asked who would be the storyteller for today. We arrange a schedule so the student know when they have totell the story.

Our story teller last Friday isRafael. Rafael is a shy young boy that cry during the poem reading in bahasaIndonesia class. When the teacher ask him to read, he cried because he don’thave a self confidence cos he feel that he can’t read clearly. One of my student,named Lubna decided to accompany him. They read the poem together (you can feelhow nice my students because they support each other in our class).

We choose Rafael because of hislack of reading. Yes, he’s in the grade one -with sometimes when he reads,feels like he is keeping the letter inside his mouth and take a few mili secondfor him to say the word-.  When theJavanese teacher asked him to read the text he cried again during the Javaneselesson. So.. my partner decice to have a story telling time, and she askedRafael to read the book. She said that we will have a story telling time by Rafaelduring the library time. So there he goes, reading a simple book about fish andchopstick.

Library time was in the 2ndsession. So I remind him to prepare himself to read in front of his friend. Ialso asked my students to encourage him by saying “you can do it Rafael” andclap for him. One of my students also want to be the story teller too. So atthe library time, we have 2 story teller.

Library time is coming. Rafaelare well prepared to be the story teller. While he had the most beautifullsmile he started to read. Still he’s not read it clearly but my studentsencourage him a lot. In the middle of reading my students starting to claptheir hand and said “good job Rafael”. I asked Rafael, “are you done with yourreading Ael?” And he said “no ms.. not yet.” And then I asked, “why are youclapping your hand friends? Rafael is not finished yet.” And then one of mystudent said, “we want to encourage him ms”… and I think.. wow.. my studentreally did their great effort to be the best friend for each other.

Support team, can be from everywhere, from teacher, parents or even from friend. By supporting our students,our friend, we will raise their self confidence. And you know what, the effectnot only last for one or two days. I can see it now that Rafael moreenthusiastic to read and he’s not shy anymore.

My students.. however… gave me abig portion of happiness in my life. As I always said, they are my angel and mydevil. Sometimes they make me proud with their effort (I’m not saying their result but effort) and sometimes they make me sad when they lost those spiritof learning in their eyes. A courious kids always better than the passif student and I want my student to sparks and courious eyes. Have a nice day dearteachers…

My house 7th april2013 (16.00pm)

our science competition

Actually this is not a hot news. We won the science competition about a month ago. But that competition changed us a lot. Not only me personally, but also for the whole class.

In a first semester, I almost give up with these kids. My definition of give up means that I will accept whatever they will become. I remember when we are having discussion about student life skill, I put A on my students score.  For the information, we have 3 kind of score which is D for developing, A for average and E for exemplary. Me and my partner discuss our student life skill before we take it to teacher board meeting. We agree that our kids is sort of average student. Only few of them get E for certain life skill and some of them still get D. For another information, I have 19 kids with 7 kids that can not read and write, and 1 kids that have language barrier. She’s from Korean and cant speak Indonesian nor English so that’s a big issue for us at that time.

one of my student can get 4 D for his life skill because he don’t have couriosity, leadership, he did not finish his job (written or oral question), and also for his resourcefulness. He oftenly lost his stuff  such as pencil and book. For another kids, I also have my Korean student  for the most D in her life skill report because she’s not showing her effort on doing task.

In teacher board meeting, my principal even put label as “a flat class” for my class. To be honest, actually my class is not as flat or average as we said because I still have some star student. We have Virly and Darren that are smart, Russell with his active English and smart brain and some other student. But we-me and my partner-, our mistake is only see the barrier and skip the stars.

The science competition arrived and I feel a bit scared because the competition is kinda different with other competition. We will have competition from grade 1-3. Different experiment, but its not only about the experiment itself, there are 4 criteria which is :

  1. presentation (how they speak clearly in English, with clear and loud voices and also with their self confidence)
  2. cooperation : during the presentation, they had to be cooperate and help  each other. There are 3 student from each class that represent their class, and this 3 student must have a good English for conversation and of course can cooperate with friends.  2 student will be the helper and 1 student will present it in front of the judges and audience.
  3. Experiment : failed or success
  4. Last but not least, their display board must have opening, question, materials, step, answer and conclution and also interesting look.

I remember that we -all of us from 1 b- really put our effort on this display board. I make the ground images and ask my student to decorate by coloring it, cut it, paste it and of course, put glitter on it. All of us doin it. I told them that though they are not on top 3 that had a right to go to final, but we still had to help our friend by helping them to make the display board. My partner ask the boys to color it because we have some guys that really good at coloring or making things and the girls cut and paste the picture.

When the competition begin, I saw my student really make us proud. They have a good cooperation, good presentation in English, the presenter speak in clear and loud tone. I also see that another class also had a good presentation, esp from grade 2 and 3. They said that whatever the result, everyone will win the nomination, so I dont have any dream to be a winner.

Finally they announce the result and I don’t believe that my student won the 1st place. I asked to one of the judges and he said that we win because we have a good presentation and cooperation and successful experiment, but the most score we get is from our display board. We have a different type of display board. I make the display board like a flower with pot and cloud. Its not a regular display board like what my colleagues make.

The judges explain that he can see my students did it by themselves. While some display board that from other class is made by the teacher, they can see that our displayboard are full with my student artwork. And the shape.. its so unique and creative (bule love to see creative things, out of the box thing).

I realized that my student are change in the 2nd semester.  This competition has change my life and my student life. Now they are having a positive frame for themselves, and also it is raised their self confidence.  Ryan and the others put more effort to do their task. They become more discipline, can listen and follow teacher instruction, even some of them can increasing their academic score. Do we still have hard time? I could say yeap off course, but at least now we can faced it together and I can say “I’M PROUD TO BE THEIR TEACHER”