Category Archives: Uncategorized

Hasil Seminar Disiplin Positif (part 2)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, disiplin positif bertujuan untuk membantu anak untuk dapat mengembangkan kendali diri. Dalam hal ini, anak diajarkan untuk menjadi orang yang percaya diri dan mampu mengambil keputusan yang tepat.

Pak Bukik Setiawan selaku dosen di Kampus Guru Cikal mengajarkan secara lebih spesifik mengenai beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengembangkan disiplin positif dalam diri anak.

Menurut pak Bukik, mengajarkan disiplin positif pada anak bukan berarti mengajarkan kepatuhan pada anak. Baginya, kepatuhan dapat menjadi berbahaya karena kepatuhan akan membuat seseorang untuk tidak mampu berpikir kritis terhadap keputusan yang telah dibuat. Apabila ornag yang membuat keputusan adalah orang yang baik dan benar, tentu tidak menimbulkan masalah, namun bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang tidak baik, dan anak tidak mampu berpikir kritis, melainkan hanya mengikut keputusan itu saja, maka bisa jadi anak akan masuk dalam lingkungan yang salah.

Maka disiplin positif adalah pola disiplin yang memerdekakan anak, menjadikan anak lebih mandiri dan mampu mengembangkan kesadaran untuk berperilaku positif dalam jangka panjang. Bukan kemampuan untuk patuh melainkan kemampuan untuk menahan diri dan tahan terhadap godaan negatif dan tahan terhadap kesulitan.

Disini peran orangtua dan guru menjadi sangat penting bagi pengembangan perilaku disiplin positif bagi anak. Orangtua memiliki peranan yang krusial karena setiap harinya anak-anak akan tinggal bersama orangtuanya yang mana artinya orangtua akan menjadi role model bagi anak. Untuk itu orangtua perlu untuk belajar mengelola emosinya agar dapat berkeyakinan positif pada anak. Orangtua yang memiliki emosi yang meledak-ledak malah akan menyulitkan anak untuk mengembangkan kesadaran diri karena anak hanya akan merespon emosi orangtua bukan karena kemauannya. Selain pengelolaan emosi, hubungan yang baik antara orangtua dan anak perlu untuk makin ditingkatkan. Orangtua perlu untuk dapat mengamati ekspresi dan perilaku anak, mereka juga perlu untuk banyak mendengar dan memiliki komunikasi yang baik dengan anak. Mereka juga perlu untuk dapat memotivasi anak dalam mengekspresikan hal hal yang positif dari dalam dirinya.

Selain orangtua, guru juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Secara personal, guru perlu dapat memahami anak, bertanya pada mereka mengenai kejadian yang terjadi, mendengarkan cerita anak dan membuat kesepakatan bersama (kesepakatan yang benar-benar dibuat oleh guru dan siswa, dan bukan hanya sekedar aturan sekolah. Kesepakatan juga tidak perlu terlalu banyak karena anak akan makin sulit untuk menjalankan). Guru juga perlu memahami tujuan dari perilaku anak, memberikan pilihan pada anak, mengembangkan kemampuan berefleksi anak, memberikan apresiasi berupa pujian dan memberikan anak konsekuensi apabila melakukan pelanggaran

Menjalankan semua ini adalah sebuah idealisme yang hendak dikembangkan dalam menjalin relasi dengan anak. Namun terkadang ada hambatan hambatan tertentu yang menghalangi orangtua atau guru dalam menerapkan disiplin positif. Pengelolaan emosi menjadi salah satu contohnya. Tidak semua orangtua ataupun guru mampu mengelola emosi dengan baik. Ada kalanya kemarahan tiba-tiba muncul dan menguasai pikiran. Untuk itu pak Bukik dan Bu Neny menjelaskan, apabila mulai muncul kemarahan, maka orangtua atau guru dapat mengambil jeda sebentar. Misal dengan bernafas atau relaksasi, atau diam sejenak untuk menenangkan pikiran yang marah. Kita juga perlu dapat menggunakan kemampuan koginitif kita untuk mengendalikan amarah misalnya dengan tetap memiliki kesadaran akan akibat yang muncul dari kemarahan kita. Apabila orangtua ataupun guru sudah terlanjur marah, maka yang dapat dilakukan adalah menetralisir emosi negatif anak dan berkomunikasi pelan-pelan dengan anak.

Permasalahan lain yang dapat muncul dalam penerapan disiplin positif di kelas adalah adanya anak yang suka untuk memprovokasi temannya. Apabila hal ini terjadi, maka ada beberapa teknik yang dapat dilakukan misalnya dengan mengapresiasi perilaku positif anak dan mengabaikan perilaku negatifnya. Teknik lain bisa diwujudkan dengan menciptakan proses belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak yang mendapatkan konsekuensi, maka dia akan rugi karena kehilangan kelas yang menyenangkan. Apabila anak sudah memiliki relasi yang baik dan positif dengan lingkungan kelas, maka akan sulit baginya untuk menjadi provokator karena dia telah merasakan manfaat baiknya.

Selamat mencoba dan selamat berjuang ^_^

Hasil Seminar Disiplin Positif (Part 1)

Bisakah mengajarkan disiplin pada anak usia dini? Bagaimana cara mengajarkan anak untuk menjadi disiplin? Perlukah anak dihukum untuk menjadi disiplin?

Pertanyaan itu banyak berkelebat di benak para peserta seminar. Rata-rata menjawab bahwa mereka menggunakan hukuman ataupun imbalan untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin. Mengenai tingkat efektitas penggunaan hukuman atau imbalan itu, merekapun mengakui bahwa si anak yang diberikan hukuman, sering melakukan kembali kesalahan yang sama. Begitu juga dengan anak yang diberikan imbalan. Seringkali imbalan itu makin bertingkat sehingga menjadi makin memusingkan. Lalu, bagaimana caranya agar anak lebih disiplin? Bu Neny selaku dosen psikologi dan perkembangan di Unair mengajarkan dampak dari hukuman atau imbalan bagi seseorang.

Pada umumnya, hukuman berupa bentakan akan mematikan sinapsis (sambungan syaraf pada neuron anak) sehingga kemampuan untuk berpikirnya akan makin berkurang. Akibatnya, anak tidak akan terbiasa untuk merefleksikan perbuatannya. Anak tidak mengenali secara substasial mengapa ia bersalah, tetapi hanya mengenal kata kata negatif atau bentakan yang ditujukan padanya. Apabila hukuman itu melibatkan hukuman fisik, maka yang ada hanyalah sakit baik secara fisik maupun mental anak. Setelah mendapat hukuman, perilaku negatif itu tidak akan diulang dalam jangka pendek, tetapi akan kembali diulang dalam jangka panjang. Anak tidak akan memahami makna substansial dari hukuman fisik itu.

Hukuman sendiri memiliki dampak jangka panjang yaitu anak akan menjadi kurang percaya diri dan kurang berani untuk berekspresi. Kurang percaya diri juga bisa jadi akan memunculkan dependensi atau ketergantungan pada orang lain, karena si anak merasa bahwa dirinya “tidak bisa apa-apa” sehingga anak akan bergantung pada figur yang dapat mendominasi dirinya. Hal itu bisa terbawa sampai ia menjadi dewasa. Bu Neni memberi contoh kasus mengenai seorang yang terlibat dalam kekerasan dalam rumah tangga dimana si korban tidak berani untuk terlepas dari si pelaku karena si korban sudah bergantung pada si pelaku. Tanpa ada pelaku, korban merasa tidak berdaya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena adanya rasa kurang percaya diri dari korban untuk bisa lepas dari jeratan itu.)

Selain hukuman, ada lagi yang seringkali dilakukan oleh orangtua maupun guru untuk membentuk perilaku anak yaitu dengan memberikan imbalan. Imbalan pada umumnya bertujuan untuk membangun perilaku disiplin misalnya iming-iming hadiah ketika anak bersedia melakukan sesuatu. Pada nyatanya, anak hanya akan mengalami kepuasan sementara. Mereka tidak memahami manfaat dari perilaku positif yang dia kembangkan  melainkan hanya memandang imbalan atau reward saja. Pada akhirnya, frekuensi pemberian imbalan akan membuat anak menjadi jenuh. Akibatnya, orangtua akan berusaha untuk memberi peningkatan intensitas imbalan. Lalu siklus ini tidak akan berhenti apabila anak sudah mulai berorientasi untuk mendapatkan imbalan di setiap perilakunya.

Lalu harus bagaimana?

Disiplin positif dapat dijadikan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs mengajak orangtua untuk memandang anak sebagai subjek dan bukan objek semata. Artinya adalah, orangtua juga memiliki kewajiban untuk menghormati anak tetapi di sisi lain juga bertugas untuk mengingatkan anak. Disiplin positif tidak berarti harus memanjakan anak atau membiarkan anak melakukan apapun yang ia inginkan. Disiplin positif juga bukan berarti tidak ada aturan dalam keluarga ataupun mengalihkan rasa kesal pada orang lain. Alih alih melakukan itu, dalam disiplin positif, yang dibantu adalah mengembangkan kendali diri anak. Untuk itu orangtua dan guru harus mampu berkomunikasi dengan anak secara jelas. Orangtua wajib untuk menghargai anak dan mengajarkan anak untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat. Orangtua juga wajib untuk membangun rasa percaya diri anak dan mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.

 

(bersambung)

Menciptakan Komunitas Belajar (Learning Community)

– Share dari cuplikan yang dibaca di buku Jere Brophy-

how-to-motivate-students_2

Ada banyak hal yang membuat proses pembelajaran di kelas menjadi berhasil. Pun ada pula standar yang berbeda ketika kita menyebutkan kata berhasil. Ada yang menyebutkan bahwa yang namanya berhasil adalah ketika anak mampu menunjukkan tanggung jawab dalam setiap tugas yang diberikan sehingga ketika kelas tersebut ditinggal oleh gurunya, si murid tetap bisa menunjukkan kemandiriannya. Standar keberhasilan bisa pula berupa peningkatan rasa ingin tahu dan minat belajar yang tinggi. Atau bisa jadi standar lain yang mungkin tidak terpikir bagiku disini. Target guru, itulah yang pada akhirnya menentukan bagaimana pola yang akan digunakan oleh guru untuk menciptakan suasana kelasnya. Karena berhasil adalah salah satu dimensi, maka aku akan menuliskan tentang dimensi yang berbeda yaitu pembelajaran yang optimal.

Dalam buku brophy disebutkan bahwa ada yang disebut sebagai learning comunity atau komunitas belajar. Ada beberapa refrensi yang diberikan oleh brophy sebagai masukan bagi guru untuk menciptakan komunitas belajar di dalam kelasnya. Tapi refrensi yang diberikan itu pada dasarnya sama yaitu menciptakan suasana yang mempuat murid merasa nyaman, dihargai dan aman. Tiga hal ini menjadi penting. Aku setuju dengan ketiga pendapat tersebut bahwa murid perlu untuk merasa nyaman, dihargai dan aman. Pada saat ini, guru tidak bisa lagi mengambil posisi sebagai pusat informasi, pemilik kedudukan tertinggi atau menjadi dominan di kelas. Jika itu yang terjadi, maka siswa hanya akan mengembangkan kepatuhan dari luar karena tuntutan dari guru.

Komunitas belajar yang dikembangkan oleh brophy menunjuk pada dua definisi. Definisi pertama merujuk pada proses pembelajaran, yang mana bukan hanya sekedar indikasi kemampuan menyelesaikan tugas, tetapi adanya kesadaran bahwa murid datang ke sekolah untuk mempelajari hal baru, dan bahwa proses belajar yang mereka jalani adalah untuk memperkaya dan memberdayakan mereka. Definisi kedua menyatakan bahwa proses belajar akan terjadi dalam sebuah komunitas, -sekumpulan siswa yang memiliki koneksi sosial dan tanggung jawab antara satu dengan yang lain sebagai sebuah kesatuan. Definisi kedua ini mensyaratkan adanya kerjasama dan perasaan saling mendukung antara satu siswa dan siswa lain dan adanya usaha untuk saling menghormati nilai nilai yang dimiliki oleh orang lain.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang optimal (namun hanya saya tuliskan dua cara terlebih dulu) :

1. Menjadikan diri kita dan ruang kelas kita lebih menarik bagi siswa

Sebuah ruang kelas harus dapat ditinggali dengan nyaman oleh para muridnya. Ruang yang nyaman tidak hanya berhubungan dengan aspek fisik saja tetapi juga melibatkan aspek non fisik.

a. Aspek non fisik –> Kelas yang memiliki keterlibatan dengan siswa.

Motivasi belajar akan menjadi tinggi ketika siswa merasa bahwa guru terlibat dengan siswa (guru mampu bersikap simpatik dan responsive terhadap kebutuhan siswa). Cara yang dapat dilakukan :

  • Kenali siswa secara individual dan nikmati moment belajar bersama siswa.
  • Bantu siswa untuk mengenal diri dan menghargai diri kita secara personal
  • Bantu siswa untuk saling mengenal satu sama lain dengan membagikan informasi mengenai keluarga mereka, hobi mereka dan pengalaman mereka.

b. Aspek fisik –> Menciptakan lingkungan fisik yang menarik

Ruang fisik dapat ditunjang dengan display dan penataan kelas yang membuat siswa merasa nyaman. Menurut Loisell (dalam Winataputra, 2003), ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menata lingkungan fisiknya yaitu ;

  1. Visibility (keleluasaan pandangan) : penataan ruang dan penempatan barang di dalam kelas hendaknya tidak mengganggu pandangan siswa sehingga siswa dapat memandang guru, benda, papan atau kegiatan yang sedang berlangsung. Guru juga harus dapat memandang semua siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut.
  2. Accesibility (mudah dicapai) : penataan ruang kelas harus memudahkan siswa untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan siswa selama proses belajar. Selain itu juga harus memperhatikan jarak antar tempat duduk agar siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang belajar
  3. Fleksibilitas (keluwesan) : barang di dalam kelas harus mudah ditata dan dipindahkan sesuai dengan jenis atau kegiatan pembelajaran.
  4. Kenyamanan : kelas juga perlu memperhatikan penataan temperatur ruangan, cahaya, suara dan kepadatan di kelas.
  5. Keindahan : langkah ini dilakukan oleh guru untuk menata ruang kelas menjadi menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar.

Selain prinsip dalam penataan dalam lingkungan fisik, guru juga dapat menciptakan suasana pribadi dengan menampilkan data siswa ataupun foto siswa serta karya siswa agar siswa merasa bangga atas pencapaian mereka dan menghargai hasil karya milik temannya. Menciptakan lingkungan fisik juga dapat dilakukan dengan memberi siswa kebebasan untuk menentukan pilihan dalam penataan kelas. Lingkungan belajar yang memberikan kebebasan untuk membuat pilihan akan mendorong mereka untuk terlibat secara fisik, emosional dan mental dalam proses belajar. Dengan begitu siswa akan dapat terlibat dalam kegiatan yang kreatif dan menjadi lebih produktif.

Catatan penting yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan belajar adalah bahwa siswa perlu belajar di suasana dimana mereka memahami apa yang diharapkan oleh guru dan langkah apa yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi harapan tersebut dan bukan dalam suasana mengancam atau menghukum mereka. Untuk mencapai hal itu diperlukan seorang guru kelas yang mampu memiliki kejelasan dan konsistensi dalam menerapkan standar mereka.

2. Mengajarkan pelajaran yang berharga (worth learning) untuk diajarkan dan hal itu didapatkan dengan membantu siswa untuk menghargai nilai diri mereka (value).

Pada konteks pembelajaran yang worth learning siswa tidak akan termotivasi untuk belajar ketika ia terlibat dalam kegiatan yang sia-sia atau tidak berarti seperti berikut : terus mempraktekkan keterampilan yang telah dikuasai, menghafal, mencari atau menyalin definisi dari istilah yang pernah digunakan dalam kegiatan atau tugas, membaca materi yang tidak dipahami, mengerjakan tugas hanya untuk mencari waktu. Untuk dapat mewujudkan pembelajaran yang bermakna, maka guru harus membuat struktur aktivitas dan penugasan di sekitar ide-ide yang kuat (powerful idea). Dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar yang berharga (worth learning) di kelas, kata kunci yang dapat digunakan adalah : cognitive engagement potential atau derajat dimana siswa dapat aktif berpikir tentang ide dan mengaplikasikan ide kunci. Hal itu sebaiknya dilakukan dengan kesadaran dari tujuan belajar mereka dan pengendalian dalam strategi belajar mereka. Akhir dari sebuah kegiatan pembelajaran akan memiliki dampak maksimal ketika guru memperkenalkan mereka dengan cara memperjelas tujuan mereka, melibatkan siswa dalam mencari cara untuk mencapai tujuan tersebut, membantu kinerja siswa, memonitor dan menghasilkan feedback bagi siswa, dan memimpin siswa melalui kegiatan pasca pengerjaan tugas dengan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah dikembangkan.

Sumber :

  1. Brophy, Jere (2004), Motivating Students to Learn, London : Lawrence Erlbaum Asscociates
  2. Winataputra, Udin, S., (2003). Strategi Belajar Mengajar. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Jakarta.

 

 

~bersambung ~

 

Setting Kelas

 

dsc01507

Kenapa kita harus berpikir tentang setting kelas? Jawabannya sederhana, karena itu adalah salah satu pondasi penting dalam manajemen kelas. Ruangan yang terasa sempit, tidak tertata, terlalu banyak cahaya di satu area, tidak memudahkan siswa untuk melakukan pergerakan, hal-hal seperti itu bisa menjadi gangguan yang walaupun rasanya kecil, tapi cukup mengganggu dalam kegiatan belajar di kelas dan menyebabkan kegiatan belajar mengajar jadi tidak efektif.

Mendesain sebuah ruang kelas itu bagaikan seni tingkat tinggi. Disana kita harus memperhatikan letak meja kursi, lemari, pintu keluar masuk dan kursi meja guru. Belum lagi pada beberapa sekolah perlu untuk menambah warna warni ataupun pernak pernik pada ruangan kelas agar kelas terlihat lebih menarik bagi siswa. Beberapa tujuan penting dari setting kelas adalah menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, efektif untuk meminimalkan distraksi atau gangguan dalam proses belajar mengajar.

Setting atau bentuk kelas bisa sangat beragam, dan hal ini kembali tergantung pada kreativitas ataupun tujuan pembelajaran yang diajarkan oleh guru. DI beberapa sekolah, ruang kelas diberi kursi dan meja yang mudah untuk dipindahkan. Hal ini bertujuan agar guru maupun siswa dapat lebih mudah memindahkan meja dan kursi agar sesuai dengan topik pembelajaran yang dibahas di tema itu atau bahkan di minggu itu. Beberapa hal yang patut kita pertimbangkan dalam mendesain ruang kelas kita antara lain adalah :

  1. Kita harus berpikir bagaimana menciptakan ruangan kelas yang cukup untuk semua siswa, dengan ruang gerak yang memudahkan mereka untuk mengambil alat tulis atau segala keperluan belajar bagi mereka.
  2. Kita harus memperhitungkan pencahayaan di dalam ruangan. Pencahayaan dalam ruangan ini maksudnya adalah apabila terlalu banyak cahaya yang masuk sehingga membuat siswa menjadi silau, maka kita bisa mengubah susunan meja kursi dan peralatan di dalam kelas agar siswa tidak terlalu silau atau bahkan tidak terlalu gelap saat belajar di kelas.
  3. Suasana di ruang kelas dibuat senyaman mungkin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meminta pendapat siswa mengenai setting kelas. Siswa yang tahu tingkat kenyamanan bagi diri mereka untuk belajar. Meminta pendapat siswa akan membantu mereka untuk dapat mengambil peran dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kontrol yang mereka dapatkan akan membantu meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.
  4. Pergantian setting kelas dapat dilakukan perminggu, pertema ataupun per semester. Semua kembali kepada kebutuhan siswa dan guru dalam proses pembelajaran di kelas.

Selamat mengajar dan selamat bersukacita dalam mengajar ^_^

 

 

 

Antara Jill, Anies Baswedan dan Pendidikan kita

Jill

Pagi ini Jill, muridku yang berusia 6 tahun, memintaku untuk memandunya dalam mengikat tali sepatu. Dia sungguh kesulitan dalam mengikat tali sepatunya. Saat itu kalau pengen gampang, aku tinggal mengikatkantali sepatu itu agar waktuku tidak terbuang percuma mengajarkan sesuatu yang sepele. Aku juga bisa saja menuliskan atau bercerita pada ibunya, menyarankan agar dia menggunakan sepatu yang lebih mudah digunakan anak kelas 1 saja. Tapi aku ingat, memandunya dalam mengikat tali sepatu bukan sekedar membantunya menyelesaikan urusannya, tapi ada banyak pelajaran yang harus kami lalui disana. Jill belajar mengikat tali sepatunya, melatih motoriknya serta koordinasi antara tangan dan mata. Akupun belajar untuk lebih sabar di situasi itu, dan terlebih, aku belajar untuk mengingat lagi bahwa Jill adalah seorang anak yang masih sedang belajar. Jill masih berproses dan aku harus membantunya dalam proses itu, bukan memaksanya untuk sesuai menjadi seperti yang aku inginkan.

Pak Anies Baswedan

Sore ini aku mendapat kabar kalau pak anies baswedan dicopot dari jabatannya. Aku –dan aku yakin banyak orang di luar sana- kaget mendengar keputusan pak pres. Bagi aku, usaha pak Anies ini sudah sesuai dengan konsep revolusi mental yang didengungkan pak pres. Betapa tidak, dia menghapuskan UN yang menjadi momok setiap siswa, menerbitkan indeks integritas sekolah, program pendidikan yang peduli pada anak, dan membangun jembatan antara orangtua, anak dan guru. Infografis yang beliau sampaikan juga sangat membantu agar setiap orang dapat memahami maksud dari instruksinya. Beliau punya visi yang sangat jauh ke depan karena beliau tahu bahwa sumber daya terbesar yang dimiliki oleh Indonesia bukanlah terletak pada kekayaan alamnya, tetapi sumber daya manusianya. Dan itulah yang hendak digarap oleh pak Anies.

Terus terang aku sangat mendukung program pak Anies mengenai meningkatkan keterlibatan orangtua pada kegiatan belajar anak, misalnya program mengantarkan anak ke sekolah pada hari pertama. Mengantarkan ke sekolah ini bukan sekedar mengantar sampai ke pintu gerbang lalu meninggalkan anak begitu saja, tetapi diharapkan juga agar orangtua berkomunikasi dengan guru untuk lebih mengenal guru yang akan mendidik putra putri mereka. Dengan begitu kewajiban orangtua tidak berhenti pada teknis pembiayaan juga, tapi orangtua wajib berkomunikasi, bersinergi dengan guru untuk masalah pendidikan anak.

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa pak Anies mengurusi urusan orangtua, yang notabene jauh dari urusan sekolah. Bahkan banyak orang menganggap bahwa itu sangat tidak penting. Mereka lupa pada hal yang paling esensial dalam mendidik anak yaitu keterlibatan semua pihak untuk mendidik anak. Aku melihat bahwa beliau paham betul bahwa mendidik anak bukan hanya tugas guru semata atau orangtua semata, atau lingkungan semata, tetapi harus ada sinergi diantara ketiganya.

Aku masih mengingat lomba yang diselenggarakan kemendikbud yang berjudul “peran Keluarga dalam pendidikan Anak”. Upaya sederhana, namun memiliki dampak yang besar. Beliau paham bahwa jurnalistik warga menjadi sebuah metode yang ampuh untuk mendidik masyarakat mengenai peran penting keluarga. Dari jurnalistik warga inilah diharapkan adanya pencerahan di masyarakat mengenai langkah-langkah mendidik anak-anak.

Berikut kutipan surat pamit pak anies yang aku rasa sangat penting untuk diperhatikan :

  • Di sekolah tampak hadir bukan saja wajah ana-anak tapi juga wajah masa depan indonesia
  • Jadikan pagi belajar pagi yang cerah
  • Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah, tapi mata hati tiap anak, tiap guru yang menjadikannya ceran
  • Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya, memenuhi potensi unik dirinya

Pendidikan kita

Jill adalah salah satu contoh murid yang membutuhkan waktu untuk menjadi ahli dalam mengikat tali sepatunya. Seperti waktu yang dibutuhkan Jill untuk menjadi ahli, demikian juga proses pendidikan di negeri kita. Aku melihat bahwa pola pendidikan yang digarap oleh anies adalah pola pendidikan yang memperhatikan proses belajar anak dan itu adalah sebuah proses yang  tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Butuh waktu sampai benar-benar tercipta keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Namun nampaknya dunia kita lebih menyukai sesuatu yang instan dan besar dengan asumsi proses revolusi mental itu bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Nampaknya pak prespun mengharapkan seperti itu. Mungkin saja ia disana berharap agar pak Anies bisa menciptakan keajaiban, dalam waktu 20 bulan bisa merevolusi mental masyarakat. Atau jangan-jangan, aku saja yang berburuk sangka, jangan-jangan sebenarnya ini bukan masalah proses pendidikan ataupun revolusi mental, tapi masalah politik semata. Ah, lagi lagi politik. Kalau sudah masuk di ranah itu, aku lebih baik membantu Jill memandunya mengikat tali sepatu saja, ga peduli siapapun pemimpinnya.

 

Menciptakan Realitas Mengenai Sistem Pendidikan yang Sedang Kualami

KULIAH UNTUK APA????

This time i really get angry and frustated for my life.

Beberapa saat yang lalu aku memutuskan untuk kuliah. Aku mengambil jurusan yang memang kuminati, psikologi pendidikan. Aku sadar, karena ini memang minatku, maka aku memiliki motivasi yang tinggi untuk berkuliah, dan motivasi itu berjalan beriringan dengan ekspektasi yang tinggi juga. Untuk itu aku memilih kampus yang aku anggap terbaik berdasarkan pertimbangan yang telah kubuat. Akhirnya aku mendaftar di sebuah PTN ternama di surabaya.

Ekspektasiku adalah : kami akan mengikuti perkuliahan yang menarik dengan banyak diskusi dan analisa mengenai proses belajar yang terjadi di Indonesia ditinjau dari sudut pandang psikologi ataupun dilihat dari sudut pandang dunia pendidikan. Aku berharap, proses yang kami jalani akan bisa membantu kami untuk kemudian kami terapkan dalam pekerjaan kami nantinya.

Di awal matrikuliasi, aku menikmati proses kami karena disana aku mendapat materi yang benar-benar baru. Aku bahkan sampai belajar mengenai bagian bagian otak karena aku ingin tahu bagian mana otak yang bekerja untuk ini dan itu. Aku dengan serius mengikuti perkuliahan walau model pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan harapan. Tetapi aku meyakinkan diri sendiri, ini hanyalah matrikulasi, nanti akan berbeda.

Diawal perkuliahan semester 1, ekspektasiku semakin jauh dari kenyataan. Aku harus menerima kenyataan bahwa metode mengajar yang dilakukan oleh dosenku adalah metode yang lama, dimana dosen menjadi pusat dan menjadi pembicara untuk setiap hal. Aku heran, padahal kami belajar di jurusan psikologi, pendidikan pula. Sebuah jurusan yang sempurna untuk belajar mengenai metode mengajar yang baru dengan memperhatikan perkembangan peserta didik (dalam hal ini kami) sehingga kami bisa berefleksi pada proses belajar kami sehingga peserta didik kami menjadi berkembang juga. Tapi itu idealismeku.

Well…. things happend like this. Dosen mengajar dengan tidak mengalami perpindahan lokasi, materi banyak kami dapatkan dari power poin yang tidak menarik, 90% waktu digunakan untuk dosen berbicara, materi lebih banyak berupa pemahaman konsep daripada pengembangan skill dan seperti yang diduga, ujianpun berupa hafalan materi (hanya ada 1 mata kuliah yang berupa  analisa).

Tedx

Aku suka menonton acara tedx terutama di bagian pengembangan diri. Aku suka dengan metode penyampaian pesan mereka yang sederhana, tetapi mengena pada sasaran. Aku suka dengan materi yang disampaikan, aku suka dengan fakta bahwa hidup bukan sekedar hapalan teori, tetapi bagaimana teori itu dibuat dari realita sehari hari dan menjadi teori yang berkembang, seperti spiral yang terus berputar dan saling mempengaruhi. Dan aku berpikir, seandainya kuliah kami menjadi seperti itu, dimana dosen menyampaikan pengajaran, pemahaman dan pengalamannya, dan bukan hanya penyampai pesan dari teori teori besar yang harus kami hafalkan. Tapi kembali lagi, itu ekspektasiku.

Salah satu tayangan tedx yang aku suka adalah tentang menciptakan realitas oleh Gary Whitehill. Saat itu dia tidak berbicara mengenai realitas pendidikan. No, he is not. Dia berbicara tentang realitas yang lain, tentang bagaimana kita membangun realitas kita dan usaha apa saja yang perlu dilakukan. Maka ketika menonton itu, aku berefleksi tentang apa yang seharusnya aku lakukan, dan bukan apa yang terjadi di hidupku. Jadi, ini keadaannya (dan aku menyebut ini realitas luar) :

  1. Dosen mengajar teori dengan cara yang membosankan
  2. Aku kesulitan untuk menghubungkan antara teori besar dengan praktek di sekolah
  3. Pertanyaan : apa manfaat dari semua teori yang dijejalkan di perkuliahan?

Membangun realitasku sendiri

Gary Whitehill menyatakan bahwa kita harus membangun realitas sendiri. Darinya, aku merasa ada tiga hal yang aku pelajari :

  1. Mengapa?

Pertanyaan mengapa ini menjadi landasan yang penting karena mengapa mengacu pada alasan kita untuk melakukan segala sesuatu. Untuk itu, kita harus memikirkan dengan sungguh sungguh alasan kita. Pertanyaan “mengapa” pula yang bisa kita jadikan sebagai mercusuar yang akan membantu kita untuk sampai pada tujuan.

  1. Mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai

Dalam hal ini, pihak luar turut berperan untuk membantu memotivasi diri kita. Kadang, justru hal itu tidak kita dapatkan dari teman dekat, orangtua ato rekan kerja kita melainkan dari luar. Seperti misalnya : kita ingin menjadi seorang pemain basket ternama, maka kita harus bergaul di lingkungan orang yang dapat bermain basket sehingga mereka dapat mengajarkan kita cara bermain basket. Jika kita tetap stuck berada di lingkungan yang tidak memahami basket, mana mungkin kita bisa belajar basket?

  1. Print and post it

Tulis apa yang kita inginkan dan menempelkan pada tempat yang paling sering kita lihat sehingga itu menjadi sugesti yang mendalam.

Realita pendidikan yang ditawarkan di kampusku mungkin sangat jauh dari ekspektasiku. Dan masalahnya adalah, aku percaya bahwa itu realitas pendidikan yang g bisa aku hindari, sehingga itu menjadi realitasku juga. Usaha untuk membangun realitasku sendiri selalu terbentur dengan banyak alasan, alasan-alasan yang sebenarnya dapat kuhindarkan. Untuk itu aku harus membangun realitasku dan menyingkirkan alasan alasan itu (untuk itu aku g berkeberatan dengan setiap emosi yang aku alami, karena itu akan membantuku untuk mencari solusi).

Jadi ini realitas yang ingin kubangun : menciptakan suasana belajar yang membantuku untuk dapat menghubungkan antara teori dengan praktik di sekolah yang sehari hari kuhadapi. Terlepas dari realita luartersebut, aku rasa aku perlu mengambil sudut pandang baru dari perkuliahan yang aku alami. Alih-alih menyebut bahwa proses perkuliahan itu membosankan, maka aku harus memandang itu sebagai sebuah kesempatan belajar individual dengan mencari dan membaca banyak sumber belajar. Mengapa? Karena bagiku PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR MENYAMPAIKAN TEORI, tetapi bagaimana aku bisa menghubungkan teori dan realitas sehingga menciptakan GENERASI YANG BARU, yang berbeda dengan apa yang kujalani saat ini. Maka generasi yang ingin kuciptakan adalah GENERASI YANG MAU BELAJAR DAN MENGEMBANGKAN DIRI DENGAN BERBAGAI PENGETAHUAN DAN SPESIALISASI YANG MEREKA MILIKI, apapun bentuk spesialisasi itu. Sounds so theoritical? Might be yes, tapi sayangnya, teori yang sangat sederhana itulah yang terlupakan, bahkan bagi orang yang memiliki gelar tinggi sekalipun. Langkah selanjutnya adalah mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai. Untuk menciptakan realita itu, maka aku harus berkumpul dengan “sesamaku” untuk membangun ataupun memperkuat pondasi dalam merealisasikan pertanyaan “mengapa” tersebut. Untuk itu saat ini aku bergabung dengan komunitas guru belajar, ataupun belajar dari buku buku di perpustakaan yang aku rasa sangat menarik untuk aku baca, serta mengerjakan portfolioku dengan sungguh-sungguh. So now…. stop making excuses and start the action. Be stupborn to all i believe to create my own reality. I’M A TEACHER AND I WILL CREATE MY REALITY.

Darurat Kekerasan Seksual : Dimana Kita Berada Saat Ini ?

Kasus kekerasan seksual yang marak menjadi headline berita membuat diri ini merinding. Bagaimana tidak, kekerasan seksual sekarang bukan hanya terjadi di level orang dewasa, tapi bahkan anak-anakpun turut menjadi pelaku. Begitu juga dengan korban yang juga masih berada di level anak. Apakah ini baru baru saja terjadi? Aku rasa tidak. Kasus Yuyun hanyalah pembuka dari cerita miris ini. Cerita sebenarnya lebih rumit dari sekedar kasus perkosaan fisik.

Dalam cerita Yuyun didapati bahwa pelaku berjumlah 14 orang yang sedang mabuk karena tuak. Melihat Yuyun sedang berjalan sendiri, maka salah seorang teman Yuyun mulai menggodanya dan akhirnya terjadilah kasus perkosaan yang ditambah dengan kasus pembunuhan didalamnya.

Di Surabaya, kekerasan ini terjadi di gang Dolly, tempat remang-remang dimana seks tidak lagi menjadi hal yang tabu. Kekerasan seksual terjadi sejak si anak berusia 4 tahun dimana dia dicekoki pil penenang. Pada akhirnya, si korban yang kini berusia 14 tahun menjadi ketagihan pil tersebut dan seperti yang kita tahu, dia diperkosa oleh temannya. Yang membuat kita lebih miris lagi adalah adanya anak berusia 9 tahun yang turut menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Dalam sebuah interograsi yang dilakukan oleh bu Risma, pelaku yang berusia 9 tahun itu menyatakan bahwa dia melihat itu dari konten video porno yang dimiliki oleh sebuah warnet.

Semua diawali oleh kita….

Tuak dan video porno bukanlah penyebab utama dari kekerasan seksual. Yang menjadi masalah sesungguhnya adalah sistem. Sistem pendidikan kita yang belum benar benar menyentuh ke permasalahan pendidikan seksual, sistem hukum kita yang belum memberikan keadilan pada kasus kekerasan seksual, sistem yang terbangun di dalam keluarga serta persoalan kemiskinan yang menjadi masalah serius bagi terbukanya akses kejahatan.

  1. Sistem pendidikan yang mengajarkan tentang pendidikan seksual

Membangun kesadaran tentang kekerasan seksual memang bukan hal yang mudah. Ini terjadi karena seks selalu menjadi hal yang tabu sehingga pembicaraan mengenai seks dilakukan secara sembunyi- sembunyi  dan baru terungkap ketika sudah ada kejadian seperti yang dialami oleh Yuyun. Hal ini sangat disayangkan karena pendidikan seksual yang diberikan secara lengkap dan menyeluruh tidak hanya mengajarkan tentang pencegahan terjadinya kekerasan seksual,  tetapi juga berperan dalam membantu anak-anak muda untuk dapat memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk membangun hubungan individu serta komunitas yang lebih sehat (Huffington Post, 2014). Mengenai kurikulum pendidikan seksual sendiri diketahui bahwa pada tahun 2012 pemerintah Amerika membuat sebuah standar yang diterapkan terkait dengan pendidikan seksual. Fokus dari kurikulumnya adalah pada keselamatan, respek dan persetujuan, pengambilan keputusan atas hal-hal yang bersifat seksual (sexual decision making), keyakinan diri, orientasi seksual dan identitas gender (kedua hal ini dipisahkan karena keduanya punya konsep yang berbeda) dan juga kesadaran terhadap pesan budaya yang mendukung norma gender dan kekerasan seksual (intinya sih anak diajarkan agar lebih aware atau berhati-hati dan lebih memiliki kesadaran tentang sistem budaya yang selama ini berlaku tentang kekerasan seksual). Menurutku kurikulum ini sangat menarik untuk dapat diterapkan di Indonesia. Alih-alih hanya diajarkan tentang mencegah kejahatan seksual dengan melarang orang menyentuh bagian tubuh anak yang vital, tetapi dalam kurikulum ini anak juga diajarkan untuk memiliki keyakinan diri. Selain keyakinan diri, anak juga diajarkan untuk memiliki kemampuan untuk membuat pilihan atas hidupnya. Berani mengatakan tidak apabila ada orang yang memegang tubuhnya (bahkan orang terdekat sekalipun). Anak adalah penguasa atas tubuhnya sendiri dan kesadaran ini harus diajarkan sejak dini. Anak juga diajarkan untuk dapat lebih kritis menyikapi budaya yang mendukung terjadinya kekerasan seksual. Terakhir, mereka juga belajar mengenai orientasi seksual dan identitas gender. Pengetahuan ini menjadi penting agar pemahaman mereka mengenai orientasi seksual mereka serta orientasi seksual orang lain dapat berjalan dalam suasana yang lebih harmonis dimana tidak adanya kebencian ataupun penilaian negatif terhadap orientasi seksual yang dipilih oleh orang lain.

  1. Menggodok sistem hukum yang pas

Selama ini hukum tidak dapat diandalkan untuk menimbulkan efek jera pada pelaku kejahatan seksual. Berkaca dari kasus JIS, hukum menjadi tidak adil dimana yang disebut tersangka, sesungguhnya adalah korban karena walau sudah ada bukti bukti yang mendukung bahwa mereka tidak bersalah, tetapi polisi “membutuhkan” tersangka agar masyarakat menjadi tenang. Ketidakadilan lain juga dialami oleh korban di Manado. Selama ini kasus di Manado tidak mendapat perhatian serius karena kasus berada di luar wilayah kepolisian yang bersangkutan (Kompas, 8 Mei 2016).

Selain ketidak adilan yang terjadi yang disebabkan oleh pihak kepolisian, sistem undang undang juga menjadi masalah bagi kasus kejahatan seksual. Selama ini sistem undang – undang kita telah mengatur hukuman bagi pelaku. Dalam undang- udang nomor 35 tahun 2014 diketahui bahwa hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan seksual pada anak adalah maksimal 15 tahun penjara. Hukuman tersebut dianggap ringan dan tidak menimbulkan efek jera sehingga pemerintah menggodok undang-undang yang dapat dijadikan hukuman bagi pelaku agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Kebiri kimia, publikasi dan pemasangan chip menjadi salah satu alternatif hukuman (BBC Indonesia, 12 Mei 2016). Sistem hukum yang bertujuan meminimalkan kasus kejahatan seksual ini dapat berjalan hanya apabila sistem pengawasan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

  1. Persoalan kemiskinan

Sebuah artikel menarik diungkap oleh Pak Bukik yang melihat bahwa faktor ekonomi yang terlibat di dalam kasus Yuyun. Pak Bukik (2016) menuliskan tentang kemiskinan di Bengkulu yang pada akhirnya erat dengan berbagai kejahatan, termasuk kejahatan seksual. Data yang digali oleh Pak Bukik menunjukkan bahwa setidaknya terdapat dua kali perkosaan setiap hari di propinsi ini.

  1. Membangun Keluarga yang peduli

Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter seorang anak. Dalam diskusi yang kami adakan, keluarga adalah tempat awal anak untuk belajar berinteraksi, bersosialisasi dan pada akhirnya tempat dimana anak membangun konsep dirinya. Anak-anak membutuhkan bimbingan dari orangtua. Arus perkembangan informasi melalui media sosial maupun sarana mesin pencari, keduanya bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membantu tetapi di sisi lain bisa menjadi berbahaya apabila tidak diawasi dengan sungguh-sungguh. Orangtua yang mengijinkan anaknya memiliki gadget seharusnya menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab pengawasan terhadap penggunaan gadget tersebut. Lingkungan pergaulan anak tidak boleh luput dari perhatian orang tua. Mengutip 1 Korintus 15 : 33 “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” menyatakan bahwa pergaulan pada akhirnya turut membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Inilah saat dimana orangtua turut juga mengambil peran dalam kehidupan anak, mengajarkan anak untuk membuat pilihan dalam menentukan pergaulan mereka.

Semua kembali pada kita….

Sebuah cerita menarik datang dari mbak nilla tentang pengalaman rekannya yang bekerja di australia dalam merespon kasus kejahatan seksual. Jika kejahatan seksual terjadi, maka si anak akan mendapatkan perlindungan yang berlapis. Sekolah langsung memberi perlidungan, mengawasi perkembangan dan memberikan dukungan sampai dia pulih. Guru dan tenaga kesehatan wajib melapor kalau mencurigai anak mengalami kekerasan. Mereka juga memiliki layanan konseling yang dapat diakses dengan mudah, melalui online maupun kehadiran konselor yang datang langsung ke rumah. Polisi mudah untuk dimintai tolong. Proses pengadilan yang cepat dan mudah dimana orang yang tidak mampu akan disediakan pengacara gratis. Orangtuapun tidak luput dari sistem tersebut dimana orangtua diberikan pendampingan dan informasi mengenai apa yang terjadi pada anak sehingga mereka bisa membantu anaknya untuk melalui masa sulit. Mereka juga mempunyai lembaga perlindungan anak yang merespon dengan cepat. (Nilla, 2016)

Jika kita mau peduli dan bergerak, maka kita bisa menolong mereka para korban, serta mencegah timbulnya korban-korban yang baru. Namun jika kita tetap berada pada zona nyaman kita, prihatin tetapi tidak mengambil tindakan, niscaya masih akan ada banyak cerita tentang kejahatan seksual yang akan menjadi tajuk utama dalam koran yang kita baca atau berita di saluran televisi kita. Kitalah yang menentukan masa depan kita dan anak cucu kita.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/pamela-b-zimmerman/connecting-sexual-violenc_b_5669607.html

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154238794973117&set=a.10153227889493117.1073741825.748808116&type=3&theater

http://regional.kompas.com/read/2016/05/08/09311061/Gadis.Manado.Diperkosa.15.Pria.hingga.Korban.Linglung

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160511_indonesia_perppu_reaktif

 

Refleksi akhir tahun : masa perkuliahan

Sebenernya udah telat buatku untuk nulis refleksi akhir taun karena januari dah berjalan 10 hari. Tapi berhubung sebenernya masi tetep pengen curcol di blog, tetep aja aku tulis (niat banget emang).

Tentang kuliah

G kerasa dah 3 semester aku menjalani kuliahku. Satu janjiku udah kulunasi, menyelesaikan kuliahku di 3 semester. Kuliah cepet bukan berarti aku g seneng kuliah, justru sebaliknya, aku sangat menyukai kuliahku. Aku seneng moment momen pas ngerjain tugas, pas lagi kumpul sm temen, pas lagi diskusi sehabis kuliah ato pertemuan diluar jam kuliah yang kami sengaja utk bisa ngerjain tugas. Walo jujur di kelas  aku bukan tipe pencatat materi kuliah ampe catetan lengkap, tapi aku sedikit banyak menangkap info lah…. .Tapi yang paling aku suka adalah momen ke perpustakaan dan melihat banyak banget buku menarik yang ingin kubaca. Semakin mendekati hari H akhir masa kuliah, aku malah makin sedih sehingga aku punya resolusi untuk ngelanjutin kuliah lagi di tahun ajaran depan walo g tau dimana (amiiiiinnnnnn).

Setiap perjalanan pulangku, aku menghitung sisa hari perkuliahanku dan membuat refleksi mengenai apa aja yang udah aku lakuin selama perkuliahan. Ternyata aku punya banyak dosa yg kucatat. Tekad dan semangatku untuk kuliah secara g langsung mempengaruhi responku terhadap orang yang ada di sekitarku, plus dosen juga. Semakin ke belakang alias semakin lama aku jalani hari-hariku di perkuliahan, semakin aku belajar untuk lebih bersabar, belajar untuk mengeluarkan respon yang tepat terhadap keadaan dan membiarkan keadaan mengalir sambil tetap mengontrol diriku. Pada akhirnya, keadaan berjalan tdk seperti yang kubayangkan. Ternyata semuanya menyenangkan dan lebih menarik. Kalopun ada yang g menarik, tapi setidaknya aku telah belajar untuk memberi standar ganda di sana shg aku tetap bisa merasakan hal-hal baik. Pada akhirnya semua baik adanya. Riak riak kecil yang terjadi dalam proses yang dijalani itu aku anggap wajar, but deep down in my heart, aku rasa sangat beruntung bisa kuliah disini, bersama mereka dan aku belajar banyak dr mereka, g cuma ttg pelajaran tetapi juga tentang relasi.

In the end, aku sangat meyakini bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya (Pengkhotbah 3 : 11)

 

Why We Dance?

Pertanyaan sederhana membutuhkan jawaban yang sederhana pula. Mengapa kita menari? Karena menari membebaskan jiwa kita. Jawabannya semudah itu. Karena itu Coelho menggambarkan Athena, dalam bukunya Penyihir dari Portobello, sebagai orang yang menggunakan tarian untuk membebaskan jiwa mereka.

Aku ingat beberapa tahun yang lalu seorang teman menelfonku dan kami berbincang tentang gerakan seorang penari. Gerakan seorang penari tampak begitu indah manakala jiwanya telah bebas dari ketukan, dari irama, dan dari hafalan akan gerakan. Semua itu tak lain karena ia telah menyatu dengan irama itu sendiri. Tarian dan musik telah menjelma dalam dirinya. Tarian dan musik telah membebaskan jiwanya berkelana.

Aku suka menari -tapi tak seperti adikku yang berbakat tari dan menjadikan tarian sebagai passionnya sehingga dia mengambil jurusan tari-, aku sadar aku g memiliki bakat menari tapi aku menganggap tari adalah sarana untuk membebaskan diriku. Dengan musik dan menari, aku mampu menggerakkan tubuhku, bahkan kadang aku g peduli apabila gerakan itu tidak sesuai dengan nada. Perasaan ini tepat digambarkan dalam buku Coelho, “ketika aku menari, aku menjadi wanita bebas, tepatnya, jiwa bebas yang mampu berkelana menembus alam semesta. Dan itu memberiku kesenangan yang luar biasa (witch of portobello, p 65)

Karena itulah waktu sekolahku mengadakan kegiatan menari, aku menyambutnya dengan gembira. Dulu kami sering menari di hari senin pagi, di sebuah aula di lantai 3 dimana kami menarikan lagu milik hi-5. Kami semua menari bersama, aku, para guru dan para murid. Selain menari bersama di aula tersebut, tak jarang kami juga memutar musik untuk kami menari bersama di dalam kelas. Nampaknya menari juga menjadi sarana untuk melepaskan energi bagi para muridku. Mereka menjadi lebih bersemangat ketika belajar dan lebih gembira. Kami para gurupun juga difasilitasi untuk berlatih menari. Aku ingat dulu sekolah mengundang seorang guru tari yang mengajar kami tarian India dari lagu yang berjudul maahi-ve.

Kegembiraan yang muncul ketika aku menari inipun kutularkan kepada murid-muridku di sekolah yang baru terutama di lower grade. Tetapi bedanya  adalah, muridku saat ini membutuhkan panduan dan arahan untuk gerakan tarinya agar mereka tidak kebingungan saat mendengarkan musik. Tahun kemarin aku menyetelkan mereka musik dan mereka dapat bergerak bebas sesuai dengan irama. Merekapun cepat belajar karena pada waktu itu ada 2 tema yang diajarkan oleh guru seni tentang tarian sehingga mereka lebih bersemangat.  Tahun ini kami tidak mempunyai guru tari lagi. Untuk itu aku bersyukur ada video tutorial yang mengajarkan kami beberapa gerakan tari. Anak-anakku terlihat bersemangat ketika mereka menari. Mereka tampak fokus mengikuti setiap gerakan yang diajarkan dalam tutorial itu. Dan yang tidak kalah menarik adalah energi positif yang terbentuk setelah kami menari. Maka untuk itu aku mengamini kalimat Meghan Trainor yang mengatakan bahwa “i feel better when I’m dancing”. So… shall we dance?

We Are Different

Siang ini aku menengok kembali pengalaman di masa lalu waktu kuliah. Di perkuliahan, aku bertemu secara langsung orang dari berbeda daerah. Ada yang dari kupang, ambon, medan, jawa tengah, jakarta, solo, maksar dengen berbagai karakteristik mereka masing masing. Aku sulu sekamar dengan jeniffer dari jakarta, tri yang super halus dari wonosobo, dan angel si gadis cantik dari sumba. Aku ingat jeniffer yang suka memutar lagu jaman 80an supaya bisa konsen belajar (gila…. kadang lagu itu membekas sampe sekarang di otakku), tri n angel yang suka belajar dalam keheningan, dan tentu saja aku… yang g suka belajar (hahahhahahha…).

Menjadi berbeda

Kami hanya berempat dan kami begitu berbeda. Kadang g mudah buatku untuk rajin membaca seperti jeniffer, rajin mencatat seperti tri atopun seperti angel. Kadang aku akan lebih senang berada di perpustakaan kampus untuk baca, ato tanya kepada mbak wati tentang apa yang udah diajarkan. Aku ingat di semester semester akhir kuliahku, aku n rini membeli perekam, untuk merekam kuliah dari dosen, n kmd kami salin perkataan pak dosen.

Pengalaman itu membuatku menyadari bahwa tiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Dan g cuma orang dewasa, anak anak pun mengalami hal yang serupa.  Mengapa harus berbeda? Hal ini dikarenakan latar belakang dan proses masing masing individu.

Dilihat dari gaya belajar, ada anak yang lebih mudah menangkap pelajaran secara audio (seperti yang kulakukan, merekam lalu menyalin perkataan dosen, atopun seperti jeniff yang mendengarkan musik supaya bs lebih nyambung saat belajar), visual (seperti jeniffer yang membuat bagan bagan dan hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya), atopun kinestetik (dengan mencoba secara langsung).

Intelegensiapun memainkan peran disini. Ada IQ, EQ, SQ atopun mulitiple intelligence yang ditawarkan oleh howard gardner. Jika dulu dinyatakan bahwa IQ menjadi patokan keberhasilan, namun sekarang EQ (emotional quotient) dan SQ pun punya peran yang g kalah penting. Dan howard gardner lebih jauh lagi dengan menyatakan ada 8 kecerdasan yang dikuasai anak anak. Ukuran kecerdasan kini bukan hanya dilihat dari nilai matematikannya saja (math intelligence), tapi ada juga language intelligence (kecerdasan bahasa), intra personal (melakukan refleksi diri), interpersonal (berelasi dengan orang lain), natural intelligence (terkait dengan alam atau nature), spatial intelligence (kecerdasan spasial, menyangkut ruangà biasanya siswa teknik atopun arsitektur yang kuat di bidang ini), musical intelligence.

SES (social ekonomi status) juga berperan dalam perbedaan itu. Bagi orang yang memiliki kemampuan lebih, mereka dapat memberikan gizi yang lebih baik bagi anaknya, begitu juga dengan stimulasi yang diberikan. Anak akan dapat difasilitasi untuk ikut dalam berbegai kegiatan les maupun peralatan belajar. Tetapi apakah itu serta merta menjadikan mereka unggul dalam segala hal? Ternyata g seperti itu juga. Banyak juga cerita tentang orangtua yang memiliki kemampuan di bawah rata rata yang tidak mampu melakukan semua itu, tetapi anak mereka justru menjadi anak anak yang hebat dan luar biasa.

Tingkat pendidikan orangtua akan juga mempengaruhi pola pengasuhan anak yang pada akhirnya berpengaruh juga pada bagaimana anak merespon pembelajaran. begitu juga dengan sosial budaya mereka. Sebuah penelitian di amerika menyatakan bahwa orang kulit hitam yang memiliki tingkat pendidikan S1 akan memberikan stimulasi yang berbeda dengan yang lulusan SMU, demikian juga dengan warga kulit putih.

Lingkungan juga memainkan peranan yang sangat penting. Seperti kita tahu, lingkungan mempunyai kaitan yang erat dengan kebiasaan anak karena anak adalah peniru yang unggul (aku g hendak mengesampingkan adanya orang orang yang mampu keluar dari lingkaran kebiasaan di lingkungan). Sebuah lingkungan yang baik dan kondusif dapat membentuk karakter maupun perilaku belajar anak secara positif dibandingkan dengan lingkungan yang buruk.

How about us?

Dulu temanku pernah bercerita tentang anak anak yang belajar di rumahnya. Ada yang kutuan, ada yang badannya bau kaya belum mandi, ada yang kelas 5 tapi g mahir berhitung, singkatnya, semua anak yang ikut belajar di tempatnya menampakkan kekhasan masing masing. Dia menerima mereka semua dengan tangan terbuka. The end of his story is…. mereka jadi senang untuk belajar. Dan buatku… inilah salah satu tolak ukur keberhasilan guru…. membuat anak menjadi senang untuk belajar (krn bagiku…. keberhasilan tidak sekedar nilai raport, tetapi bgmn bs memotivasi mereka untuk belajar).

Menyadari bahwa anak itu berbeda dan unik akan dapat membantu kita untuk mencari cara yang terbaik untuk mengajar anak. Keseragaman atau usaha untuk menjadikan anak seragam dan meniadakan perbedaan perbedaan itu pada akhirnya akan menciptakan generasi yang tidak kreatif, takut untuk mengambil resiko karena takut dianggap berbeda. Setiap anak pasti akan menampilkan potensi mereka yang maksimal, apalagi kalo diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan cara yang mereka pahami.

To provide best thing to educate our children is one part of our responsibility (Shanti).