Pendidikan Entrepreneur : G Sekedar Berdagang Atau Menjadi Pengusaha

Terus terang aku bekerja di tempat yang menarik. Kenapa menarik? G lain dan g bukan karena sekolah ini punya visi yang berbeda yaitu menciptakan generasi entrepreneur. Generasi entrepreneur bukan sekedar generasi pengusaha atau menjadi seorang pebisnis yang andal, tapi lebih dari itu, generasi entrepreneur yang hendak diciptakan adalah generasi yang punya kualitas dan karakter seorang entrepreneur yaitu g gampang nyerah, terbuka terhadap ide ide baru, bisa melihat peluang dan generasi yang berani dan percaya diri. Alih-alih mencetak pengusaha, tapi lebih dalam dari itu, mencetak karakter yang tangguh dan g mudah menyerah. Apakah itu telah dimiliki oleh setiap anak? Tentu permasalahan ini jangan hanya dilihat dari punya atau tidak punya karakteristik itu, karena bagiku pendidikan adalah sebuah proses yang berlangsung secara terus menerus. Aku punya sebuah keyakinan bahwa walau mungkin kualitas itu g nampak saat mereka sekolah, tapi ibarat sebuah spons, pada akhirnya spons yang telah penuh oleh air akan mengeluarkan isinya pada suatu saat. Jadi apa yang dilakukan tidak pernah ada yang sia-sia.

Diawali dengan proses yang menarik yakni mengeksplorasi materi, anak anak diajak untuk lebih dalam mengenal sebuah materi, seperti misalnya materi tentang kebudayaan Indonesia, maka mereka akan mengeksplorasi banyak hal tentang Indonesia, baik makanannya, adat istiadatnya, pakaiannya dan sebagainya. Di akhir masa eksplorasi, mereka diminta untuk memikirkan sebuah ide karya yang akan mereka tampilkan untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi. Karya itu bisa bermacam-macam, seperti misalnya berupa makanan tradisional, tarian, produk tentang adat istiadat budaya yang sudah dipelajari dan sebagainya. Bisa dibayangkan jika dalam satu tahun terdapat 4 tema, maka tahun itu dia akan punya kesempatan untuk berkreasi sebanyak 4 kali. Dan jangan membayangkan kreasi itu harus melulu menggunakan barang baru. Kadang mereka menggunakan barang-barang yang sudah mereka punyai untuk membuat karya mereka. kadang, dari bahan yang sederhanapun bisa mereka buat sebagai karya.

Salah satu hal menarik aku jumpai dari anakku di kelas. Terus terang kelas kami tidak banyak diisi dengan permainan, maka untuk mensiasati itu, salah seorang anakku –bukan aku- berinisiatif untuk membuat mainan ular tangga dari kertas hvs. Dadunya ia buat dari buku gambar yang cukup tebal dan pionnya ia ambil dari berbagai barang kecil yang ia jumpai. Mainan buatannya ini dapat dijadikan alternatif mainan saat free time mereka.

Contoh lain yang menarik adalah inisiatif dari salah satu muridku untuk membuat es krim, dan kemudian dibawanya es itu ke kelas dan ia promosikan di hadapan teman teman lain. Walhasil banyak teman yang tertarik untuk mencoba es buatannya.

Kreasi anak g harus sempurna. Beberapa produk masih perlu dirapikan sana sini, beberapa tampilan masih perlu dipoles lagi, hal itu bagiku adalah wajar karena bagaimanapun juga usia mereka yang masih sangat muda untuk membuat karya. Tapi kembali lagi, bagiku sebuah potensi tidak hanya dilihat dari hasilnya saja, tetapi dari proses yang mereka jalani berulang ulang. Orang biasa menyebutnya “practice make perfect”.

Dan sekarang, hanya satu hal yang kuminta –pada Yang Maha Sempurna-, semoga benih yang telah tertabur ini tertanam mendalam di benak mereka, hingga pada saatnya nanti akan menunjukkan buah-buah yang manis rasanya.

Math Mini Project : 3C Store

Salah satu hal yang menyenangkan kami lakukan di tema 2 ini adalah adanya mini project matematika yang mencerminkan apa yang sudah dipelajari di tema 2 ini. Di tema ini kami belajar mengenai uang dan pengukuran. Kami kemudian berdiskusi topik apa yang akan kami ambil untuk dijadikan mini project dan uang terpilih menjadi topik dalam mini project kami.

Saat belajar mengenai uang, kami tidak hanya belajar mengenai nominal uang melainkan juga pertukaran uang, aktivitas jual beli (melalui soal cerita), maupun praktik jual beli secara langsung yang dipersiapkan oleh guru. Aktivitas yang kami lakukan itu cukup berkesan sehingga ketika dibuat menjadi mini project, anak-anakku langsung tahu apa yang ingin mereka lakukan.

Ketika mereka dibagi menjadi 4 kelompok, segera tiap kelompok membuat rancangan mengenai aktivitas jual beli apa yang ingin mereka lakukan. Terbersitlah beberapa ide sederhana seperti misalnya membuka les sempoa, membuka les craft, membuat persewaan mainan, dan juga membuka toko buku (buku yang mereka gunakan untuk jual belipun adalah buku yang mereka miliki di rumah, ditambah dengan buku di perpustakaan kelas kami). Maka merekapun segera mempersiapkan apa saja alat dan bahan yang perlu mereka siapkan dalam “toko” mereka masing-masing dan yang g kalah penting, menentukan harga yang pantas untuk “dagangan” mereka. Yang membuatku terkesan adalah ketika kelompok les sempoa mempresentasikan idenya didepanku, mereka sudah mengetahui apa saja yang akan mereka lakukan, soal apa yang akan mereka berikan, bahkan level kesulitannyapun sudah mereka bedakan. Dan tidak lupa juga mereka menyiapkan “penantang” yang berasal dari salah satu anggota kelompok mereka, untuk para pendatang yang ingin mengetes kemampuan berhitung cepat mereka.

Beberapa hari sebelum aktivitas jual beli kami, anak-anakku dengan penuh semangat membawa alat dan bahan yang mereka butuhkan. Kamipun juga sudah menyiapkan uang-uangan yang dapat kami gunakan untuk aktivitas jual beli kami (uang-uangan itu memiliki nominal dan gambar yang sama dengan uang biasa, hanya saja tertulis “uang mainan” agar siswa tahu bahwa itu tidak dapat digunakan untuk aktivitas jual beli di dunia nyata).

Hari jual beli telah tiba. Anak-anak mulai menata toko mereka masing masing. Mereka juga mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas itu seperti misalnya nama toko, daftar harga maupun desain toko yang mereka inginkan. Mereka saling bekerja sama menyiapkan dekorasi toko yang menarik, dan ketika pengunjung mulai tiba, mereka dengan segera berpromosi.

Melihat antusiasme itu, mau tidak mau aku ikut antusias juga. Persiapan yang sudah dilakukan ternyata mereka laksanakan dengan baik. Feedback yang diberikan pengunjung juga meningkatkan rasa percaya diri mereka. di akhir hari, ketika toko kami mulai tutup, mereka kuminta untuk menghitung berapa uang yang mereka dapatkan (baik secara riil, ataupun dari catatan aktivitas uang mereka) dan menghitung untung rugi yang mereka dapatkan.

In the end, bukan hanya pengalaman menghitung uang saja yang bisa mereka dapatkan, tetapi proses persiapan awal sampai pada akhir hari tutup toko menjadi bahan belajar yang berharga buat mereka

#happy student

#happy teacher

#meaningfull learning

awal masuk sekolah

memasuki tema 1 di awal tahun, aku mempersiapkan kelasku dengan rasa ingin tahu yang tinggi. mantan guru mereka memberi bocoran mengenai perilaku mereka dan nilai akademis mereka. takut? tentu ada selipan rasa itu, terlebih ketika aku membayangkan anak anakku yang sekarang naik kelas 4 yang begitu kondusif. tahun ini menjadi tahun yang meningkatkan semangatku (kayanya aku perlu rajin olahraga biar kinestetik kaya mereka).
mengharapkan sebuah kelas yang tenang dan kondusif, dimana mereka bisa mengikuti semua rules yang ditetapkan? well… thats sounds quite imposible. mengharapkan mereka dapat berhenti bicara dan tidak mudah terganggu dengan berbagai hal yang ada di sekitar mereka (bahkan mereka mengamati ada penggaris di loker mini library, AC yang belum dimatikan (padahal mereka belum pulang atopun keluar dari ruangan), sampai kertas kecil yang ada di meja guru, hal hal kecil itu bisa menjadi pengalih perhatian mereka).
berlawanan dengan dulu dimana banyak muridku yang memiliki kematangan emosi yang cukup baik, tahun ini banyak anakku yang masih berlaku seperti anak anak. sungguh, akan sangat terlihat bahwa mereka masihlah anak-anak. maka kelas yang tenang tinggallah harapan yang terbang bersama awan.
oke, supaya lebih adil, aku akan deskripsikan seperti apa anak anak ini. well, saat mengerjakan tugas mereka bisa tenang, begitu juga saat duduk di karpet, tetapi yang sering terjadi saat perpindahan jam ato di jam terakhir adalah, energi mereka meningkat dimana mereka akan cenderung suka berbicara sehingga kelas menjadi ribut. saat guru menerangkan, terkadang ada celetukan celetukan yang rasanya tidak bisa mereka tahan. tidak sampai menimbulkan keributan memang. tapi saat aku mengajar, terlihat beberapa anak yang mengalami daydreaming, mata memandang ke depan, dengan pikiran yang mengawang awang. bagi siswa yang aktif, mereka selalu melihat hal hal detail kecil yang akan mereka tanyakan, yang terkadang g berhubungan dengan materi yang diajarkan.
Sounds so child and natural, yes… memang itulah mereka. itulah anak-anak, tetapi dalam beberapa hal, maka ini akan mengurangi waktu dalam aktivitas pembelajaran. apakah itu berarti classroom managemenku begitu buruk? well… inilah yang sedang aku evaluasi. Dalam evaluasi itu kami sempat bertanya – tanya, apakah ekspektasi kami yang terlalu tinggi, apakah mereka yang memang susah untuk diatur, ataukah, kami keliru meletakkan persepsi (yang mana pada akhirnya akan berpengaruh pada metode yang akan kami jalani)?

Superkid ?

Buat para orangtua, siapa sih yang g mau punya anak superkid. Sopan, baik, pinter, cantik (ato ganteng), punya segudang bakat dan aktivitas yang menarik, bla bla bla dan semua yang identik dengan kesempurnaan.
Well…. aku rasa setiap orang berharap anaknya memenuhi kriteria tersebut, paling ga, mendekati sempurna lah. Mudah diatur, suka makan sayur, hidup teratur, g suka ngluyur ^_^
But anyway, that’s not easy for us or for the kids also.
Bisakah dibayangkan betapa kita harus berusaha sedemikian rupa membentuk superkid, menempa mereka seolah mereka adalah kertas yang benar benar kosong yang kita coret dengan gambar yang kita inginkan? Apakah mereka benar-benar kertas kosong, yang g punya kepribadian atau karakter sendiri, yang kita coreti baru akan muncul gambaran kepribadian itu? Benarkah Tuhan menciptakan “kertas kosong”?
For some people, the answer might be “yes, they are”. Orangtua yang seperti ini yang pada akhirnya menempa anak sedemikian rupa, dengan dasar argumen, menciptakan karakter dan kepribadian yang baik bagi anak di masa mendatang. Dasar pemikiran seperti itu adalah pilihan dari masing-masing orang.
Membaca buku bukik, yang judulnya “anak bukan kertas kosong”, aku belajar bahwa anak-anak diciptakan Tuhan secara istimewa. Anak-anak punya kodrat sendiri. Coretan yang kita goreskan dalam kehidupan mereka bukanlah coretan di lembaran kosong.
Definisi dari kesempurnaan bagiku bukanlah ketika anak menjadi seorang superkid, tapi ketika sang anak tahu bagaimana dia bisa bermanfaat bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Things we can do is to prepare them for their fullest life. Itu sudah.
Aku belajar banyak dari vio. Ketika bersamanya, aku sadar bahwa dia bukan “kertas kosong” yang harus aku coret coret sedemikian rupa sesuai dengan gambar yang aku –ato orangtuanya- inginkan. Vio punya gaya sendiri, vio punya kepribadian dan karakternya sendiri. Melihat vio, she’s so unique. Menyadari hal ini, kami (setiap orang yang berada dalam lingkup masa tumbuh kembangnya) sadar bahwa yang vio perlukan bukanlah coretan tangan kami yang tajam menggaris kehidupannya, tapi yang kami lakukan adalah mengasah vio, sesuai dengan naturenya untuk menjadi orang yang vio inginkan. Kami ingin vio tahu bahwa dia adalah istimewa.
Apakah vio tahu mau jadi apa di masa depan? Tentu saja enggak, tapi kami disini membantu untuk mempersiapkan kepribadiannya. Bagi kami, vio ga perlu jadi superkid yang pandai dalam segala hal. (untungnya aku dan mamanya vio punya kesamaan persepsi dalam hal ini). Membentuk kepribadian, agar dia dapat membuat pilihan yang baik, yang juga dia sukai dan tidak membebani dirinya (aku mengenal beberapa orang yang membuat pilihan baik, karena image mereka tergantung pada persepsi orang lain, and u know what, its hard for them).
Kami punya cara mendisiplinkan dia, tapi satu hal yang kami hindari adalah memukul atau mengatakan hal yang buruk tentangnya supaya dia g punya gambaran atau label yang buruk tentang dirinya sendiri.
In the end, aku tahu bahwa setiap orangtua punya cara untuk membesarkan anak masing-masing, tapi dua hal yang aku sadari, superkid itu g pernah ada, dan anak bukan kertas kosong.
Surabaya, 20 Juli 2015

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Kalimat itu sudah sering diperdengarkan sejak aku SD. Waktu itu konteksnya adalah mengenai kesehatan. Kami diajak menjaga kesehatan dengan cara menjaga pola makan dan melakukan pola hidup sehat seperti berolahraga. Ide dasar dari kalimat itu sederhana, supaya kita mempunyai sikap waspada terhadap kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Tapi kalimat mencegah lebih baik daripada mengobati itu g cuma berlaku di dunia kesehatan aja. Kalimat itu juga dapat diberlakukan secara efektif di kelas. How to do it? Well, thats why every teacher must know about classroom management.
Classroom management
Saat ini classroom managemen bukan lagi sekedar tindakan untuk mencegah keributan di kelas, menciptakan suasana belajar mengajar yang aman, tenteram dan damai sehingga siswa bisa belajar secara optimal. Suasana belajar yang optimal tidak ditandai dengan level suara atopun ketenangan di kelas saat belajar. Suasana belajar yang optimal bagiku adalah ketika siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar di kelas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam proses belajar itu.
Di setiap tahun ajaran baru, kita –sebagai guru- pasti akan memberitahukan peraturan, tata tertib, ataupun konsekuensi di depan murid kita. Tujuannya sudah jelas, supaya anak-anak bisa tahu apa “aturan main” yang berlaku di kelas selama setahun. Terkait dengan managemen kelas, ada hal penting yang patut menjadi perhatian guru yang biasa disebut motivasi belajar siswa (ternyata g cuma orang dewasa aja yang berhubungan dengan motivasi, suasana kelaspun juga berkaitan dengan motivasi)
Dalam teori motivasi, ada dua teori motivasi yang dapat diberlakukan di kelas
1. Behaviorist model of motivation
Kaum behavioris menekankan pada reinforcement untuk membentuk dan mempertahankan perilaku siswa. Reinforcement ini dapat berupa reinforcement positif (untuk meningkatkan perilaku) ato reinforcement negatif (untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan). Misalnya pujian ato pemberian hadiah ketika siswa bisa menunjukkan perilaku yang diharapkan guru, ato mengurangi hak siswa ketika mereka menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan.
Kontrol guru menjadi peran yang penting bagi kaum behavioris. Kontrol guru inilah yang membentuk perilaku siswa di kelas. Kontrol guru ini pada akhirnya berakibat pada terpinggirkannya peran motivasi siswa dalam proses belajar. Kalo perilaku yang diharapkan dari siswa sudah muncul, maka yang perlu dilakukan oleh guru selanjutnya adalah mempertahankan perilaku itu dengan konsistensi menerapkan peraturan di kelas. Manipulasi perilaku inilah yang sering diterapkan di sekolah dan terkadang manipulasi perilaku ini disalahpahami dengan menyebutnya sebagai managemen kelas. Padahal managemen kelas lebih dari sekedar pembentukan perilaku melalui kontrol perilaku yang diterapkan oleh kaum behavioris.
2. Cognitive model of motivation
Dalam model kognitif, kebutuhan siswa, target atau motivasi siswa menjadi hal yang sangat penting. Model ini juga menekankan pada reinforcement, hanya saja dalam tujuan yang berbeda. Brophy menuliskan dalam bukunya bahwa :
These cognitive models of motivation include the concept of reinforcement but portray its effects as mediated through learners’ cognitions. That is, the degree to which task engagement can be motivated by reinforcer availability depends on the degree to which learners value the reinforcer, expect its delivery upon completion of the task, believe that they are capable of completing the task successfully, and believe that doing so in order to gain access to the reinforcer will be worth the costs in time, effort, and foregone opportunities to pursue alternative courses of action.
Kalau di model behavioris lebih menekankan pada otoritas guru sebagai pemegang kontrol utama dalam kelas, maka di model kognitif, guru juga mempertimbangkan aspek lain yaitu peran siswa yang didasarkan pada kebutuhan, target (yang bukan hanya sekedar menuliskan target dan menuliskan step step untuk mencapai target saja, tetapi siswa benar benar terlibat dan berusaha untuk mencapai target itu) serta peningkatan motivasi intrinsik siswa untuk terus belajar.
What are we doing as a teacher?
Seorang guru g hanya mempunyai tugas untuk mengajar saja, tapi lebih dari itu. Membantu siswa untuk meningkatkan motivasinya agar siswa lebih terlibat dalam proses belajar di kelas menjadi salah satu kunci keberhasilan dari guru. Kelas yang tenang tidak dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan guru (kita tentu tahu ada beberapa sekolah yang suka dengan siswa yang tenang, tapi di luar sekolah, siswanya berulah), tapi keterlibatan siswa dengan aktivitas kelas, perubahan karakter yang didasarkan pada motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri siswa, itulah yang dapat menjadikan kelas kita berhasil. Jika siswa dapat terlibat secara aktif dan motivasi intrinsik siswa telah muncul untuk lebih terlibat dalam kegiatan belajar, maka perilaku negatif akan hilang dengan sendirinya. Siswa akan punya kemampuan memilah mana hal yang menyenangkan (belajar di kelas) dan hal yang mengganggu (tidak bisa terlibat secara penuh di kelas).
So how we gonna do it? By keep learning new things and new strategy. Sekolahku mempunyai tugas penelitian kelas yang disebut dengan portfolio. Kalo mau dilihat secara positif, ini adalah kesempatan bagus buat guru untuk melakukan berbagai eksperimen termasuk eksperimen motivasional. Kalo gagal (well, portfolioku sebelumnya kurasa gagal karena secara nilai (scoring) tidak sesuai target yang kuharapkan, tapi diluar portfolio itu, aku bisa berbangga karena anak-anakku menampilkan semangat belajar yang luar biasa), well…. it means that we have to learn more dan kita juga tetep ingat bahwa banyak belajar, kalo hanya mandeg di level kognitif kita sebagai guru, maka itu g akan merubah banyak hal. Tapi belajar banyak hal baru, disertai dengan hati maka hasilnya akan jadi luar biasa. Selamat menempuh tahun ajaran baru buat para guru ^_^

Creating Greater Impact

Learning has taken place only if students can transfer the information from one context to another and apply it in a useful way to solve problems and construct new understandings. Learning is not just absorbing information; it is the ability to use it. (Doyle, 2008)

Teaching is not an easy job, thats for sure. Teaching is not merely about transfering teacher knowledge or information to students brain, just for they remember for a slight of time, lets say, about an academic year -and when they are moved into the next grade, sometimes they were easily forget what the previous teacher have taught before- and their new teacher put another information in a different way just to recall their memory.
I learned that teaching is about transfering information in a meaningfull way, so the students can make a conection between their learning and their daily life. This afternoon i watch HBO family about a young learner who build a community called earth guardian. Their meeting were about climate change, enviromental issue etc, and then make a simple step -for example, by drawing things that people can do to make a better world-. The basic idea of this community is to inform all the member about how the world that we are living right now, is a sick world. These kids know that enviromental issue is not a regional issue, but its a global issue. For example, when people are keep using fossil fuel, who just create pollution and make CO2 trap in our air, then people had to stop it. This community make a meaningfull step by promoting better lifestyle by reducing fossil fuel and use renewable resources as our main energy such as sun or wind energy.
Thats what i called as a meaningfull learning process. Meaningfull learning process gain awareness into our student life about things that happened in their life, not only now, but also for their future. Just like what doyle said previously, its not about absorbing information, but its ability to use it. And it would be a great thing if our student able to use their information in order to make a better life. Creating better life is not only about climate change or enviromental issue, but also touch another aspect of life such as awareness about history, belief, disable kids ar another importants issue.
Then, how can we, as a teacher make a meaningfull learning process? By hard work of course. Meaningfull learning process can be done if the students play great role in learning process. Let them become the center of our activity. Just like what Zull (2002) say, if we want our student make their learning process become more meaningfull, then we have to help them feel in control about what they are learning. Learning process will motivated our student if they can see the usefulness of what they are learning and they can share their information to other (give impact to other). The effectiveness of learning happend when we can help them turn failure into a new opportunity to learn. (doyle, 2002)
In the end i just want to say “teaching is not about teacher who share information for the students, but its about how teacher make a change and make a difference in life.”

May 14th 2015

Sensasi Banjir di Belanda

Penulis : Shanti Yanuarini
Elemen : Air

Air adalah elemen yang sangat penting di dunia ini karena kita tidak akan bisa hidup tanpa air. Memasak, mencuci, minum, adalah sedikit contoh dari aktvitas manusia yang berhubungan dengan air. Tapi bagaimana jika air menjadi bencana? Hal itu pernah terjadi di Belanda, sebuah negeri yang wilayah daratnya berada di bawah level permukaan air laut. Untuk mengatasi hal itu, pembangunan tanggul menjadi prioritas bagi wilayah pinggir pantai mereka dengan tujuan mencegah datangnya banjir. Prof Wim van Leussen menyatakan bahwa ada 3 periode waktu pengendalian banjir di Belanda yakni tahun 1200 – 1798; 1798 – 2000 dan abad ke 21. Pada tahun 1200 – 1798, pengendalian banjir di Belanda masih dilakukan secara lokal. Pada masa itu dibangun banyak tanggul dan bendungan baru. Tetapi persoalan banjir masih belum selesai. Pada periode 1798 -2000, pemerintah Belanda mendirikan Rijkswaterstaat (direktorat khusus yang menangani masalah banjir). Di periode ini banyak inovasi pengendalian banjir yang bermunculan baik dari segi material maupun metode pengendalian banjir. Sampai pada akhirnya tahun 1953 tercatat sebagai tahun terakhir terjadinya banjir di Belanda.
Walau penanganan banjir di Belanda dapat dikatakan telah mencapai sukses, pemerintah Belanda merasa inovasi material dan metode penanganan banjir secara fisik saja tidak cukup. Perlu ada upaya lain untuk mencegah datangnya banjir selain dengan tanggul-tanggul yang dibangun. Untuk itu pemerintah berupaya membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk melakukan usaha bersama memelihara wilayah mereka dari bahaya banjir.
Pemerintah Belanda kemudian mengajak salah seorang inovator terkemuka Belanda bernama Daan Roosergarde untuk menciptakan suatu instalasi berbasis teknologi bernama Waterlicht, sebuah instalasi yang mampu menghasilkan persepsi banjir kepada para pengunjungnya. Waterlicht ini adalah alat pencipta gelombang cahaya yang menyerupai aurora borealis yang ditimbulkan dari LED biru. Untuk dapat menciptakan sensasi gelombang itu maka Daan menempatkan sebuah lensa yang diatur dalam kotak hitam yang diletakkan di sekeliling area tanggul yang menciptakan semacam gelombang cahaya di langit langit. Sinar dari lensa akan bergerak dan membuat pola yang berputar bagai aurora borealis dalam daratan diantara cahaya. Angin yang bertiup di sekitar tanggul memperkuat perasaan timbulnya banjir sehingga pengunjung merasakan pengalaman mengambang.
Yang menarik dari Waterlicht ini adalah ide dasar dari pembuatan instalasi ini. Dewan Perairan Belanda yang mengajak Roosergarde untuk membangun Waterlicht ingin agar mereka dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran air yang dimiliki negeri Belanda. Mengutip dari pernyataan Dewan Perairan Belanda Hein Pieper dalam wawancara dengan media dezeen.com “Di Waterlicht, orang akan dapat merasakan seperti apa rasanya hidup tanpa tanggul di Belanda. Kesadaran itu menjadi penting karena itu adalah pondasi utama untuk melakukan pemeliharaan terhadap lingkungan”

Jadi, alih alih hanya membuat tanggul baru atau menanamkan pengetahuan mengenai banjir melalui seminar atau pertemuan di masyarakat, pemerintah Belanda dan Roosergarde memiliki ide kreatif untuk mengajar masyarakat dalam bentuk yang berbeda. Pembuatan Waterlicht ini menyentuh kesadaran psikologis pengunjung dengan memasukkan sensasi banjir ke dalam pikiran mereka sehingga mereka akan berpikir mengenai solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir itu terjadi pada mereka. Kesadaran di level psikologis ini akan memiliki dampak lebih lama dibandingkan dengan hanya menyajikan informasi tertulis sehingga nantinya masyarakat diharapkan dapat terlibat untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan, terutama mengenai banjir disana.
“The only way forward, if we are going to improve the quality of the environment, is to get everybody involved” ~Richard Rogers~

Refrensi
http://www.dutchdailynews.com/dutch-artists-and-innovators-you-need-to-know/
http://www.fastcodesign.com/3043184/slicker-city/this-eerie-virtual-flood-will-scare-you-into-giving-a-damn-about-climate-change
http://www.dezeen.com/2015/02/25/daan-roosegaardes-waterlicht-installation-northern-lights-netherlands/
http://www.newcitiesfoundation.org/interview-month-daan-roosegaarde-clean-landscapes-techno-poetry-story-telling-cities/
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/05/15/800-tahun-menaklukkan-banjir-457571.html
http://www.google.images.com

PM (Paguyuban Mahasiswa)

Semester lalu aku mulai mendaftar kuliah di salah satu PTN di surabaya. Kalau di perkuliahan sebelumnya aku menjadi seorang perantau, maka kali ini aku kuliah di kotaku sendiri dan tinggal bersama kedua orangtuaku.

Bertahun tahun yang lalu, saat kuliah di jogya, awalnya sempat terbersit kekuatiran karena aku tidak memiliki satu keluargapun disana. Tidak cuma aku, ternyata orangtuaku juga kuatir mengingat hanya aku yang menjadi seorang perantau di keluarga kami.

Tapi ternyata kekuatiran kami segera hilang karena adanya bantuan dari Paguyuban. Sudah menjadi kebiasaan buat mahasiswa teologi yang merantau di luar kotanya untuk membentuk sebuah komunitas, atau dalam hal ini istilahnya adalah paguyuban. Karena aku berasal dari GKJW, maka paguyuban kami disebut PM GKJW atau Paguyuban Mahasiswa GKJW. Tidak hanya GKJW, gereja dari berbagai denominasi juga memiliki paguyubannya sendiri. Masing-masing PM memiliki dosen pengampu yang berasal dari denominasi yang sama untuk membimbing kami.

Selain bertujuan untuk membantu proses adaptasi mahasiswa baru, PM ini juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kolegialitas rekan sekerja, karena setelah lulus, umumnya lulusan teologi akan menjadi Pendeta yang tersebar di berbagai daerah. PM juga berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi dari Gereja pusat ke mahasiswa yang sedang studi. Untuk meningkatkan rasa persaudaraan, maka diadakan pertemuan setiap satu bulan sekali. Karena kami mahasiswa teologi, maka pertemuan ini diisi dengan ibadah yng dipimpin per angkatan, lalu dilanjutkan dengan kegiatan rutin seperti menyampaikan info penting atau saling berbagi kesulitan atau perasaan (curhat gitulah).

Paguyuban ini sangat membantu karena akhirnya kami para perantau g merasa sendirian di kota asing. Aku ingat bahwa salah satu tradisi dari PM GKJW adalah mengkoordinir keberangkatan adik kelas dari Sinode GKJW di Sukun Malang, untuk kemudian dijemput di Terminal untuk tinggal di salah satu kontrakan kakak tingkat selama tes masuk. Hal ini kualami di tahun 2001. Ketika aku mengikuti tes masuk di UKDW, kakak kelas menjemput kami dan mengantar kami di rumah kontrakan mereka (dipusatkan di sana), agar kami tidak kesulitan mencari penginapan selama mengikuti tes masuk. Untuk makanpun, kakak kelas mengajak kami makan bersama di warung warung yang ada agar kami tidak kesulitan mencari makan. Saat tes masuk kami sudah merasakan adanya ikatan kekeluargaan dengan PM dan kami tidak merasa sendirian.

Jika aku ingat ingat lagi, itu adalah pertolongan yang luar biasa besar karena aku, yang tidak mengenal siapapun disana, ternyata memiliki tempat untuk bersandar dan tempat untuk meminta bantuan. Merekalah yang membantuku berdaptasi dan merekalah pulalah yang kemudian menjadi keluargaku. Paguyuban tidak hanya ikatan yang bersifat organisatoris, tetapi PM bagaikan sebuah rumah yang dihuni keluarga dengan berbagai karakter dan saling membantu satu dengan yang lain. Sebagai ungkapan terimakasih kami, maka kamipun melakukan hal yang sama pada adik kelas kami. Alih alih menjadi sebuah beban, menjemput adik kelas baru dan membimbing mereka kini memiliki makna baru, yaitu sebagai ungkapan rasa terimakasih karena kamipun pernah berada dalam posisi mereka.

Kini 10 tahun telah lewat. Aku telah berpisah dengan sedulurku di paguyuban mahasiswa, tetapi kadang kami masih saling melakukan kontak. Walau aku bekerja di ladang yang berbeda, tetapi paseduluran tidak mengenal batas jenis pekerjaan. Aku masih tetap merasakan kehangatan pertemanan yang sama dengan mereka.

Ps : buat kamu yang perantau tanpa ada saudara di kotamu yang baru, aku memahamimu karena aku pernah berada di tempat yang sama denganmu.

Happy Shoping at DEAR Time

We have DEAR TIME in our school. Dear time is a time for student to read. We put Dear time after lunch time and it happend for 15 minutes. Unlike any student that hate to read, most of our students read a lot. They enjoy their Dear Time.

In my class room, most of my students love to read, not only in their Dear time but also  in their free time. From their reading, they create their own imagination and also, some of my students have initivative to make some experiment about science.

This week i make our Dear Time in a different way. This week our math lesson is about money. They learn about the value of money, how to count their grocery etc. In our activity, we also make some real situation where they had to pay to buy something. They kinda enjoy this activity. This week i used our dear time as a part of math learning process. I put price on every book that we have in our mini library and i give them Rp 50.000 for them (off course it used toys money that have same value with the real money). All they had to do is buy the books they want and pay with the money that i gave. I also choose a student to become a cashier. For the student who buy the book, they have to count their money, how much they spend and also the change. And for the chashier, he or she had to give their change with a different nominal. They enjoy this activity very much. Some of my student even lend me their book to be “sold” in my classroom.

Day two become more interesting for me. At day two, they know what to do, so they choose their books and count his or her money before they go to cashier. I have books that unlabbeled yet, and they ask about this book. When i told them that its a free book, they just try to get those free book and share the info  to the other friend. This make me feels like im the owner of a bookstrore and my students are my buyer. I even make a rules for the visitor to keep calm during their visit in my store a.k.a in our class. If someone get too noisy, they got reminder from me. If they did it more than 3 time, i give them a time out. About the price itself, some student are asking about the discount. “ms, do you have discount for this book?’ off course i said no. Sometimes its so funny to think about this. Its just a toys and they make it as a real situation by asking discount. I could even see their happy face when they found a free book. Its not even a real money, but they love to keep their money. This make our math become more enjoyable and exciting.

ps : this happend on our 2nd theme (Oct-Dec 2014)

Kebahagiaan itu menular

Semalam dosenku bercerita mengenai antusiasme dan kebahagiaan. Ia pernah mendapat tugas ke Jepang dan ia harus berangkat seorang diri. Awalnya ia sempat merasa takut karena g ada teman. Maka ia berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, mengenai jadwal kereta, jalur yang harus dilalui dan sebagainya. Sesampainya di Osaka, ia harus menuju ke terminal bis. Hal ini masih mudah, tetapi sampai di terminal bis, ia merasa kebingungan karena ia g tau tempat membeli tiket, ataupun bis yang harus dinaiki. Akhirnya ia tanya pada pusat informasi disana. Tak disangka, petugas pusat informasi mau membantunya membeli tiket, memberitahu bis mana yang harus dinaiki, bahkan petugas itu menyemangatinya untuk segera menuju bis itu dengan senyum dan gerakan yang “cheerfull”. Melihat itu, semangatnya langsung segera naik. Ia g lagi merasa takut berada di tempat asing. Sesampainya di tempat yang dituju, ia harus berjalan 800 meter menuju penginapan. Ia hendak mencari taksi, namun ia melihat setiap orang turun dari bis dan melakukan perjalanan dengan bahagia dan dengan tersenyum, walaupun mereka berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Melihat betapa senang mereka melakukan aktivitasnya, iapun bersemangat juga untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, walau sebenarnya ia g terlalu suka untuk berjalan kaki. Cerita diakhiri dengan kalimat “kebahagiaan dan  antusiasme itu menular, terlebih apabila itu dibangun dalam suatu sistem”.

Aku dan kebahagiaan

Belakangan ini aku memiliki kebiasaan yang sedikit berbeda. Dulu, sesulit apapun anak yang kuhadapi, g pernah terlintas sebuah pikiran yang tidak menyenangkan. Aku suka mengajar di kelas kecil. Aku akan menerima mereka dengan tangan terbuka dan bersama-sama merencanakan petualangan di kelas yang menyenangkan. Antusiasme mereka menular padaku. Kelas buatku adalah ruang eksplorasi yang menyenangkan. Tapi belakangan itu berubah. Aku mudah untuk melabel mereka. ungkapan “cinta tak harus memiliki” untuk menunjukkan bahwa anak itu lucu, tapi semoga g jadi muridku, label anak “g menyenangkan”, bahkan label “anak sulit” itu sudah masuk dalam kosakataku. Aku cukup mengenal diriku, jika aku sudah sampai di tahap itu, maka itu menjadi peringatan buatku. Itu tanda bahwa kebahagiaanku sudah menurun. Ibarat batere, maka batereku itu sudah berkurang separuh. Dan aku akan jadi sama dengan guru yang suka melabel anak, seorang guru yang “tidak bahagia”. Seorang guru yang menjadi guru karena ia ingin “bekerja”, dan bukan ingin “berkarya”.

Karena ini sudah mulai terjadi, maka aku kembali mereview diriku dengan pertanyaan “untuk apa aku melakukan ini?”. Pertanyaan untuk apa ini menjadi titik tolak yang penting buatku. Aku kembali harus mengingat lagi motivasi awalku bekerja menjadi seorang guru, perjuangan yang harus aku lalui, penolakan yang pernah aku alami, untuk sampai pada titik bahwa inilah pilihan akhirku, bahwa inilah jalan hidupku.

Kadang kita harus berjuang sendiri untuk merasakan “bahagia”. Kadang disitu kita merasa bahwa diri kita berbeda. Cerita dari dosenku malam mengingatkanku bahwa kebahagiaan itu menular. Kebahagiaan untuk mengajar juga pasti bisa menular. Maka disini aku harus mulai membangun sistem. Sebuah sistem yang tidak mudah, karena sistem itu melibatkan diriku seutuhnya. Sistem itu mensyaratkan penerimaan diri atas apa yang aku jalani dan aku hadapi serta memaintain kebahagiaan itu walau mungkin keadaan sedang tidak membahagiakan. Orang bijak mengatakan “jika kamu ingin mengubah sistem, maka ubahlah dirimu terlebih dahulu”. Maka inilah yang harus aku lakukan, mengubah sistem diri, menekan pilihan tombol “bahagia” dan jalani saja. Jika belum bisa menular ke sesama, aku ga perlu kuatir, setidaknya kebahagiaan itu menular di sistem tubuhku terlebih dahulu. Just do my best and let God finish the rest.

~Surabaya, 28 Maret 2015~