Hasil Seminar Disiplin Positif (part 2)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, disiplin positif bertujuan untuk membantu anak untuk dapat mengembangkan kendali diri. Dalam hal ini, anak diajarkan untuk menjadi orang yang percaya diri dan mampu mengambil keputusan yang tepat.

Pak Bukik Setiawan selaku dosen di Kampus Guru Cikal mengajarkan secara lebih spesifik mengenai beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengembangkan disiplin positif dalam diri anak.

Menurut pak Bukik, mengajarkan disiplin positif pada anak bukan berarti mengajarkan kepatuhan pada anak. Baginya, kepatuhan dapat menjadi berbahaya karena kepatuhan akan membuat seseorang untuk tidak mampu berpikir kritis terhadap keputusan yang telah dibuat. Apabila ornag yang membuat keputusan adalah orang yang baik dan benar, tentu tidak menimbulkan masalah, namun bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang tidak baik, dan anak tidak mampu berpikir kritis, melainkan hanya mengikut keputusan itu saja, maka bisa jadi anak akan masuk dalam lingkungan yang salah.

Maka disiplin positif adalah pola disiplin yang memerdekakan anak, menjadikan anak lebih mandiri dan mampu mengembangkan kesadaran untuk berperilaku positif dalam jangka panjang. Bukan kemampuan untuk patuh melainkan kemampuan untuk menahan diri dan tahan terhadap godaan negatif dan tahan terhadap kesulitan.

Disini peran orangtua dan guru menjadi sangat penting bagi pengembangan perilaku disiplin positif bagi anak. Orangtua memiliki peranan yang krusial karena setiap harinya anak-anak akan tinggal bersama orangtuanya yang mana artinya orangtua akan menjadi role model bagi anak. Untuk itu orangtua perlu untuk belajar mengelola emosinya agar dapat berkeyakinan positif pada anak. Orangtua yang memiliki emosi yang meledak-ledak malah akan menyulitkan anak untuk mengembangkan kesadaran diri karena anak hanya akan merespon emosi orangtua bukan karena kemauannya. Selain pengelolaan emosi, hubungan yang baik antara orangtua dan anak perlu untuk makin ditingkatkan. Orangtua perlu untuk dapat mengamati ekspresi dan perilaku anak, mereka juga perlu untuk banyak mendengar dan memiliki komunikasi yang baik dengan anak. Mereka juga perlu untuk dapat memotivasi anak dalam mengekspresikan hal hal yang positif dari dalam dirinya.

Selain orangtua, guru juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Secara personal, guru perlu dapat memahami anak, bertanya pada mereka mengenai kejadian yang terjadi, mendengarkan cerita anak dan membuat kesepakatan bersama (kesepakatan yang benar-benar dibuat oleh guru dan siswa, dan bukan hanya sekedar aturan sekolah. Kesepakatan juga tidak perlu terlalu banyak karena anak akan makin sulit untuk menjalankan). Guru juga perlu memahami tujuan dari perilaku anak, memberikan pilihan pada anak, mengembangkan kemampuan berefleksi anak, memberikan apresiasi berupa pujian dan memberikan anak konsekuensi apabila melakukan pelanggaran

Menjalankan semua ini adalah sebuah idealisme yang hendak dikembangkan dalam menjalin relasi dengan anak. Namun terkadang ada hambatan hambatan tertentu yang menghalangi orangtua atau guru dalam menerapkan disiplin positif. Pengelolaan emosi menjadi salah satu contohnya. Tidak semua orangtua ataupun guru mampu mengelola emosi dengan baik. Ada kalanya kemarahan tiba-tiba muncul dan menguasai pikiran. Untuk itu pak Bukik dan Bu Neny menjelaskan, apabila mulai muncul kemarahan, maka orangtua atau guru dapat mengambil jeda sebentar. Misal dengan bernafas atau relaksasi, atau diam sejenak untuk menenangkan pikiran yang marah. Kita juga perlu dapat menggunakan kemampuan koginitif kita untuk mengendalikan amarah misalnya dengan tetap memiliki kesadaran akan akibat yang muncul dari kemarahan kita. Apabila orangtua ataupun guru sudah terlanjur marah, maka yang dapat dilakukan adalah menetralisir emosi negatif anak dan berkomunikasi pelan-pelan dengan anak.

Permasalahan lain yang dapat muncul dalam penerapan disiplin positif di kelas adalah adanya anak yang suka untuk memprovokasi temannya. Apabila hal ini terjadi, maka ada beberapa teknik yang dapat dilakukan misalnya dengan mengapresiasi perilaku positif anak dan mengabaikan perilaku negatifnya. Teknik lain bisa diwujudkan dengan menciptakan proses belajar yang menyenangkan sehingga anak-anak yang mendapatkan konsekuensi, maka dia akan rugi karena kehilangan kelas yang menyenangkan. Apabila anak sudah memiliki relasi yang baik dan positif dengan lingkungan kelas, maka akan sulit baginya untuk menjadi provokator karena dia telah merasakan manfaat baiknya.

Selamat mencoba dan selamat berjuang ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s