Hasil Seminar Disiplin Positif (Part 1)

Bisakah mengajarkan disiplin pada anak usia dini? Bagaimana cara mengajarkan anak untuk menjadi disiplin? Perlukah anak dihukum untuk menjadi disiplin?

Pertanyaan itu banyak berkelebat di benak para peserta seminar. Rata-rata menjawab bahwa mereka menggunakan hukuman ataupun imbalan untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin. Mengenai tingkat efektitas penggunaan hukuman atau imbalan itu, merekapun mengakui bahwa si anak yang diberikan hukuman, sering melakukan kembali kesalahan yang sama. Begitu juga dengan anak yang diberikan imbalan. Seringkali imbalan itu makin bertingkat sehingga menjadi makin memusingkan. Lalu, bagaimana caranya agar anak lebih disiplin? Bu Neny selaku dosen psikologi dan perkembangan di Unair mengajarkan dampak dari hukuman atau imbalan bagi seseorang.

Pada umumnya, hukuman berupa bentakan akan mematikan sinapsis (sambungan syaraf pada neuron anak) sehingga kemampuan untuk berpikirnya akan makin berkurang. Akibatnya, anak tidak akan terbiasa untuk merefleksikan perbuatannya. Anak tidak mengenali secara substasial mengapa ia bersalah, tetapi hanya mengenal kata kata negatif atau bentakan yang ditujukan padanya. Apabila hukuman itu melibatkan hukuman fisik, maka yang ada hanyalah sakit baik secara fisik maupun mental anak. Setelah mendapat hukuman, perilaku negatif itu tidak akan diulang dalam jangka pendek, tetapi akan kembali diulang dalam jangka panjang. Anak tidak akan memahami makna substansial dari hukuman fisik itu.

Hukuman sendiri memiliki dampak jangka panjang yaitu anak akan menjadi kurang percaya diri dan kurang berani untuk berekspresi. Kurang percaya diri juga bisa jadi akan memunculkan dependensi atau ketergantungan pada orang lain, karena si anak merasa bahwa dirinya “tidak bisa apa-apa” sehingga anak akan bergantung pada figur yang dapat mendominasi dirinya. Hal itu bisa terbawa sampai ia menjadi dewasa. Bu Neni memberi contoh kasus mengenai seorang yang terlibat dalam kekerasan dalam rumah tangga dimana si korban tidak berani untuk terlepas dari si pelaku karena si korban sudah bergantung pada si pelaku. Tanpa ada pelaku, korban merasa tidak berdaya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena adanya rasa kurang percaya diri dari korban untuk bisa lepas dari jeratan itu.)

Selain hukuman, ada lagi yang seringkali dilakukan oleh orangtua maupun guru untuk membentuk perilaku anak yaitu dengan memberikan imbalan. Imbalan pada umumnya bertujuan untuk membangun perilaku disiplin misalnya iming-iming hadiah ketika anak bersedia melakukan sesuatu. Pada nyatanya, anak hanya akan mengalami kepuasan sementara. Mereka tidak memahami manfaat dari perilaku positif yang dia kembangkan  melainkan hanya memandang imbalan atau reward saja. Pada akhirnya, frekuensi pemberian imbalan akan membuat anak menjadi jenuh. Akibatnya, orangtua akan berusaha untuk memberi peningkatan intensitas imbalan. Lalu siklus ini tidak akan berhenti apabila anak sudah mulai berorientasi untuk mendapatkan imbalan di setiap perilakunya.

Lalu harus bagaimana?

Disiplin positif dapat dijadikan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs mengajak orangtua untuk memandang anak sebagai subjek dan bukan objek semata. Artinya adalah, orangtua juga memiliki kewajiban untuk menghormati anak tetapi di sisi lain juga bertugas untuk mengingatkan anak. Disiplin positif tidak berarti harus memanjakan anak atau membiarkan anak melakukan apapun yang ia inginkan. Disiplin positif juga bukan berarti tidak ada aturan dalam keluarga ataupun mengalihkan rasa kesal pada orang lain. Alih alih melakukan itu, dalam disiplin positif, yang dibantu adalah mengembangkan kendali diri anak. Untuk itu orangtua dan guru harus mampu berkomunikasi dengan anak secara jelas. Orangtua wajib untuk menghargai anak dan mengajarkan anak untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat. Orangtua juga wajib untuk membangun rasa percaya diri anak dan mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.

 

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s