Menciptakan Komunitas Belajar (Learning Community)

– Share dari cuplikan yang dibaca di buku Jere Brophy-

how-to-motivate-students_2

Ada banyak hal yang membuat proses pembelajaran di kelas menjadi berhasil. Pun ada pula standar yang berbeda ketika kita menyebutkan kata berhasil. Ada yang menyebutkan bahwa yang namanya berhasil adalah ketika anak mampu menunjukkan tanggung jawab dalam setiap tugas yang diberikan sehingga ketika kelas tersebut ditinggal oleh gurunya, si murid tetap bisa menunjukkan kemandiriannya. Standar keberhasilan bisa pula berupa peningkatan rasa ingin tahu dan minat belajar yang tinggi. Atau bisa jadi standar lain yang mungkin tidak terpikir bagiku disini. Target guru, itulah yang pada akhirnya menentukan bagaimana pola yang akan digunakan oleh guru untuk menciptakan suasana kelasnya. Karena berhasil adalah salah satu dimensi, maka aku akan menuliskan tentang dimensi yang berbeda yaitu pembelajaran yang optimal.

Dalam buku brophy disebutkan bahwa ada yang disebut sebagai learning comunity atau komunitas belajar. Ada beberapa refrensi yang diberikan oleh brophy sebagai masukan bagi guru untuk menciptakan komunitas belajar di dalam kelasnya. Tapi refrensi yang diberikan itu pada dasarnya sama yaitu menciptakan suasana yang mempuat murid merasa nyaman, dihargai dan aman. Tiga hal ini menjadi penting. Aku setuju dengan ketiga pendapat tersebut bahwa murid perlu untuk merasa nyaman, dihargai dan aman. Pada saat ini, guru tidak bisa lagi mengambil posisi sebagai pusat informasi, pemilik kedudukan tertinggi atau menjadi dominan di kelas. Jika itu yang terjadi, maka siswa hanya akan mengembangkan kepatuhan dari luar karena tuntutan dari guru.

Komunitas belajar yang dikembangkan oleh brophy menunjuk pada dua definisi. Definisi pertama merujuk pada proses pembelajaran, yang mana bukan hanya sekedar indikasi kemampuan menyelesaikan tugas, tetapi adanya kesadaran bahwa murid datang ke sekolah untuk mempelajari hal baru, dan bahwa proses belajar yang mereka jalani adalah untuk memperkaya dan memberdayakan mereka. Definisi kedua menyatakan bahwa proses belajar akan terjadi dalam sebuah komunitas, -sekumpulan siswa yang memiliki koneksi sosial dan tanggung jawab antara satu dengan yang lain sebagai sebuah kesatuan. Definisi kedua ini mensyaratkan adanya kerjasama dan perasaan saling mendukung antara satu siswa dan siswa lain dan adanya usaha untuk saling menghormati nilai nilai yang dimiliki oleh orang lain.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang optimal (namun hanya saya tuliskan dua cara terlebih dulu) :

1. Menjadikan diri kita dan ruang kelas kita lebih menarik bagi siswa

Sebuah ruang kelas harus dapat ditinggali dengan nyaman oleh para muridnya. Ruang yang nyaman tidak hanya berhubungan dengan aspek fisik saja tetapi juga melibatkan aspek non fisik.

a. Aspek non fisik –> Kelas yang memiliki keterlibatan dengan siswa.

Motivasi belajar akan menjadi tinggi ketika siswa merasa bahwa guru terlibat dengan siswa (guru mampu bersikap simpatik dan responsive terhadap kebutuhan siswa). Cara yang dapat dilakukan :

  • Kenali siswa secara individual dan nikmati moment belajar bersama siswa.
  • Bantu siswa untuk mengenal diri dan menghargai diri kita secara personal
  • Bantu siswa untuk saling mengenal satu sama lain dengan membagikan informasi mengenai keluarga mereka, hobi mereka dan pengalaman mereka.

b. Aspek fisik –> Menciptakan lingkungan fisik yang menarik

Ruang fisik dapat ditunjang dengan display dan penataan kelas yang membuat siswa merasa nyaman. Menurut Loisell (dalam Winataputra, 2003), ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menata lingkungan fisiknya yaitu ;

  1. Visibility (keleluasaan pandangan) : penataan ruang dan penempatan barang di dalam kelas hendaknya tidak mengganggu pandangan siswa sehingga siswa dapat memandang guru, benda, papan atau kegiatan yang sedang berlangsung. Guru juga harus dapat memandang semua siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut.
  2. Accesibility (mudah dicapai) : penataan ruang kelas harus memudahkan siswa untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan siswa selama proses belajar. Selain itu juga harus memperhatikan jarak antar tempat duduk agar siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang belajar
  3. Fleksibilitas (keluwesan) : barang di dalam kelas harus mudah ditata dan dipindahkan sesuai dengan jenis atau kegiatan pembelajaran.
  4. Kenyamanan : kelas juga perlu memperhatikan penataan temperatur ruangan, cahaya, suara dan kepadatan di kelas.
  5. Keindahan : langkah ini dilakukan oleh guru untuk menata ruang kelas menjadi menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar.

Selain prinsip dalam penataan dalam lingkungan fisik, guru juga dapat menciptakan suasana pribadi dengan menampilkan data siswa ataupun foto siswa serta karya siswa agar siswa merasa bangga atas pencapaian mereka dan menghargai hasil karya milik temannya. Menciptakan lingkungan fisik juga dapat dilakukan dengan memberi siswa kebebasan untuk menentukan pilihan dalam penataan kelas. Lingkungan belajar yang memberikan kebebasan untuk membuat pilihan akan mendorong mereka untuk terlibat secara fisik, emosional dan mental dalam proses belajar. Dengan begitu siswa akan dapat terlibat dalam kegiatan yang kreatif dan menjadi lebih produktif.

Catatan penting yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan belajar adalah bahwa siswa perlu belajar di suasana dimana mereka memahami apa yang diharapkan oleh guru dan langkah apa yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi harapan tersebut dan bukan dalam suasana mengancam atau menghukum mereka. Untuk mencapai hal itu diperlukan seorang guru kelas yang mampu memiliki kejelasan dan konsistensi dalam menerapkan standar mereka.

2. Mengajarkan pelajaran yang berharga (worth learning) untuk diajarkan dan hal itu didapatkan dengan membantu siswa untuk menghargai nilai diri mereka (value).

Pada konteks pembelajaran yang worth learning siswa tidak akan termotivasi untuk belajar ketika ia terlibat dalam kegiatan yang sia-sia atau tidak berarti seperti berikut : terus mempraktekkan keterampilan yang telah dikuasai, menghafal, mencari atau menyalin definisi dari istilah yang pernah digunakan dalam kegiatan atau tugas, membaca materi yang tidak dipahami, mengerjakan tugas hanya untuk mencari waktu. Untuk dapat mewujudkan pembelajaran yang bermakna, maka guru harus membuat struktur aktivitas dan penugasan di sekitar ide-ide yang kuat (powerful idea). Dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar yang berharga (worth learning) di kelas, kata kunci yang dapat digunakan adalah : cognitive engagement potential atau derajat dimana siswa dapat aktif berpikir tentang ide dan mengaplikasikan ide kunci. Hal itu sebaiknya dilakukan dengan kesadaran dari tujuan belajar mereka dan pengendalian dalam strategi belajar mereka. Akhir dari sebuah kegiatan pembelajaran akan memiliki dampak maksimal ketika guru memperkenalkan mereka dengan cara memperjelas tujuan mereka, melibatkan siswa dalam mencari cara untuk mencapai tujuan tersebut, membantu kinerja siswa, memonitor dan menghasilkan feedback bagi siswa, dan memimpin siswa melalui kegiatan pasca pengerjaan tugas dengan melakukan refleksi dari pembelajaran yang telah dikembangkan.

Sumber :

  1. Brophy, Jere (2004), Motivating Students to Learn, London : Lawrence Erlbaum Asscociates
  2. Winataputra, Udin, S., (2003). Strategi Belajar Mengajar. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Jakarta.

 

 

~bersambung ~

 

Advertisements

One thought on “Menciptakan Komunitas Belajar (Learning Community)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s