Menciptakan Realitas Mengenai Sistem Pendidikan yang Sedang Kualami

KULIAH UNTUK APA????

This time i really get angry and frustated for my life.

Beberapa saat yang lalu aku memutuskan untuk kuliah. Aku mengambil jurusan yang memang kuminati, psikologi pendidikan. Aku sadar, karena ini memang minatku, maka aku memiliki motivasi yang tinggi untuk berkuliah, dan motivasi itu berjalan beriringan dengan ekspektasi yang tinggi juga. Untuk itu aku memilih kampus yang aku anggap terbaik berdasarkan pertimbangan yang telah kubuat. Akhirnya aku mendaftar di sebuah PTN ternama di surabaya.

Ekspektasiku adalah : kami akan mengikuti perkuliahan yang menarik dengan banyak diskusi dan analisa mengenai proses belajar yang terjadi di Indonesia ditinjau dari sudut pandang psikologi ataupun dilihat dari sudut pandang dunia pendidikan. Aku berharap, proses yang kami jalani akan bisa membantu kami untuk kemudian kami terapkan dalam pekerjaan kami nantinya.

Di awal matrikuliasi, aku menikmati proses kami karena disana aku mendapat materi yang benar-benar baru. Aku bahkan sampai belajar mengenai bagian bagian otak karena aku ingin tahu bagian mana otak yang bekerja untuk ini dan itu. Aku dengan serius mengikuti perkuliahan walau model pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan harapan. Tetapi aku meyakinkan diri sendiri, ini hanyalah matrikulasi, nanti akan berbeda.

Diawal perkuliahan semester 1, ekspektasiku semakin jauh dari kenyataan. Aku harus menerima kenyataan bahwa metode mengajar yang dilakukan oleh dosenku adalah metode yang lama, dimana dosen menjadi pusat dan menjadi pembicara untuk setiap hal. Aku heran, padahal kami belajar di jurusan psikologi, pendidikan pula. Sebuah jurusan yang sempurna untuk belajar mengenai metode mengajar yang baru dengan memperhatikan perkembangan peserta didik (dalam hal ini kami) sehingga kami bisa berefleksi pada proses belajar kami sehingga peserta didik kami menjadi berkembang juga. Tapi itu idealismeku.

Well…. things happend like this. Dosen mengajar dengan tidak mengalami perpindahan lokasi, materi banyak kami dapatkan dari power poin yang tidak menarik, 90% waktu digunakan untuk dosen berbicara, materi lebih banyak berupa pemahaman konsep daripada pengembangan skill dan seperti yang diduga, ujianpun berupa hafalan materi (hanya ada 1 mata kuliah yang berupa  analisa).

Tedx

Aku suka menonton acara tedx terutama di bagian pengembangan diri. Aku suka dengan metode penyampaian pesan mereka yang sederhana, tetapi mengena pada sasaran. Aku suka dengan materi yang disampaikan, aku suka dengan fakta bahwa hidup bukan sekedar hapalan teori, tetapi bagaimana teori itu dibuat dari realita sehari hari dan menjadi teori yang berkembang, seperti spiral yang terus berputar dan saling mempengaruhi. Dan aku berpikir, seandainya kuliah kami menjadi seperti itu, dimana dosen menyampaikan pengajaran, pemahaman dan pengalamannya, dan bukan hanya penyampai pesan dari teori teori besar yang harus kami hafalkan. Tapi kembali lagi, itu ekspektasiku.

Salah satu tayangan tedx yang aku suka adalah tentang menciptakan realitas oleh Gary Whitehill. Saat itu dia tidak berbicara mengenai realitas pendidikan. No, he is not. Dia berbicara tentang realitas yang lain, tentang bagaimana kita membangun realitas kita dan usaha apa saja yang perlu dilakukan. Maka ketika menonton itu, aku berefleksi tentang apa yang seharusnya aku lakukan, dan bukan apa yang terjadi di hidupku. Jadi, ini keadaannya (dan aku menyebut ini realitas luar) :

  1. Dosen mengajar teori dengan cara yang membosankan
  2. Aku kesulitan untuk menghubungkan antara teori besar dengan praktek di sekolah
  3. Pertanyaan : apa manfaat dari semua teori yang dijejalkan di perkuliahan?

Membangun realitasku sendiri

Gary Whitehill menyatakan bahwa kita harus membangun realitas sendiri. Darinya, aku merasa ada tiga hal yang aku pelajari :

  1. Mengapa?

Pertanyaan mengapa ini menjadi landasan yang penting karena mengapa mengacu pada alasan kita untuk melakukan segala sesuatu. Untuk itu, kita harus memikirkan dengan sungguh sungguh alasan kita. Pertanyaan “mengapa” pula yang bisa kita jadikan sebagai mercusuar yang akan membantu kita untuk sampai pada tujuan.

  1. Mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai

Dalam hal ini, pihak luar turut berperan untuk membantu memotivasi diri kita. Kadang, justru hal itu tidak kita dapatkan dari teman dekat, orangtua ato rekan kerja kita melainkan dari luar. Seperti misalnya : kita ingin menjadi seorang pemain basket ternama, maka kita harus bergaul di lingkungan orang yang dapat bermain basket sehingga mereka dapat mengajarkan kita cara bermain basket. Jika kita tetap stuck berada di lingkungan yang tidak memahami basket, mana mungkin kita bisa belajar basket?

  1. Print and post it

Tulis apa yang kita inginkan dan menempelkan pada tempat yang paling sering kita lihat sehingga itu menjadi sugesti yang mendalam.

Realita pendidikan yang ditawarkan di kampusku mungkin sangat jauh dari ekspektasiku. Dan masalahnya adalah, aku percaya bahwa itu realitas pendidikan yang g bisa aku hindari, sehingga itu menjadi realitasku juga. Usaha untuk membangun realitasku sendiri selalu terbentur dengan banyak alasan, alasan-alasan yang sebenarnya dapat kuhindarkan. Untuk itu aku harus membangun realitasku dan menyingkirkan alasan alasan itu (untuk itu aku g berkeberatan dengan setiap emosi yang aku alami, karena itu akan membantuku untuk mencari solusi).

Jadi ini realitas yang ingin kubangun : menciptakan suasana belajar yang membantuku untuk dapat menghubungkan antara teori dengan praktik di sekolah yang sehari hari kuhadapi. Terlepas dari realita luartersebut, aku rasa aku perlu mengambil sudut pandang baru dari perkuliahan yang aku alami. Alih-alih menyebut bahwa proses perkuliahan itu membosankan, maka aku harus memandang itu sebagai sebuah kesempatan belajar individual dengan mencari dan membaca banyak sumber belajar. Mengapa? Karena bagiku PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR MENYAMPAIKAN TEORI, tetapi bagaimana aku bisa menghubungkan teori dan realitas sehingga menciptakan GENERASI YANG BARU, yang berbeda dengan apa yang kujalani saat ini. Maka generasi yang ingin kuciptakan adalah GENERASI YANG MAU BELAJAR DAN MENGEMBANGKAN DIRI DENGAN BERBAGAI PENGETAHUAN DAN SPESIALISASI YANG MEREKA MILIKI, apapun bentuk spesialisasi itu. Sounds so theoritical? Might be yes, tapi sayangnya, teori yang sangat sederhana itulah yang terlupakan, bahkan bagi orang yang memiliki gelar tinggi sekalipun. Langkah selanjutnya adalah mengelilingi diri sendiri dengan orang yang sesuai. Untuk menciptakan realita itu, maka aku harus berkumpul dengan “sesamaku” untuk membangun ataupun memperkuat pondasi dalam merealisasikan pertanyaan “mengapa” tersebut. Untuk itu saat ini aku bergabung dengan komunitas guru belajar, ataupun belajar dari buku buku di perpustakaan yang aku rasa sangat menarik untuk aku baca, serta mengerjakan portfolioku dengan sungguh-sungguh. So now…. stop making excuses and start the action. Be stupborn to all i believe to create my own reality. I’M A TEACHER AND I WILL CREATE MY REALITY.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s