We Are Different

Siang ini aku menengok kembali pengalaman di masa lalu waktu kuliah. Di perkuliahan, aku bertemu secara langsung orang dari berbeda daerah. Ada yang dari kupang, ambon, medan, jawa tengah, jakarta, solo, maksar dengen berbagai karakteristik mereka masing masing. Aku sulu sekamar dengan jeniffer dari jakarta, tri yang super halus dari wonosobo, dan angel si gadis cantik dari sumba. Aku ingat jeniffer yang suka memutar lagu jaman 80an supaya bisa konsen belajar (gila…. kadang lagu itu membekas sampe sekarang di otakku), tri n angel yang suka belajar dalam keheningan, dan tentu saja aku… yang g suka belajar (hahahhahahha…).

Menjadi berbeda

Kami hanya berempat dan kami begitu berbeda. Kadang g mudah buatku untuk rajin membaca seperti jeniffer, rajin mencatat seperti tri atopun seperti angel. Kadang aku akan lebih senang berada di perpustakaan kampus untuk baca, ato tanya kepada mbak wati tentang apa yang udah diajarkan. Aku ingat di semester semester akhir kuliahku, aku n rini membeli perekam, untuk merekam kuliah dari dosen, n kmd kami salin perkataan pak dosen.

Pengalaman itu membuatku menyadari bahwa tiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Dan g cuma orang dewasa, anak anak pun mengalami hal yang serupa.  Mengapa harus berbeda? Hal ini dikarenakan latar belakang dan proses masing masing individu.

Dilihat dari gaya belajar, ada anak yang lebih mudah menangkap pelajaran secara audio (seperti yang kulakukan, merekam lalu menyalin perkataan dosen, atopun seperti jeniff yang mendengarkan musik supaya bs lebih nyambung saat belajar), visual (seperti jeniffer yang membuat bagan bagan dan hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya), atopun kinestetik (dengan mencoba secara langsung).

Intelegensiapun memainkan peran disini. Ada IQ, EQ, SQ atopun mulitiple intelligence yang ditawarkan oleh howard gardner. Jika dulu dinyatakan bahwa IQ menjadi patokan keberhasilan, namun sekarang EQ (emotional quotient) dan SQ pun punya peran yang g kalah penting. Dan howard gardner lebih jauh lagi dengan menyatakan ada 8 kecerdasan yang dikuasai anak anak. Ukuran kecerdasan kini bukan hanya dilihat dari nilai matematikannya saja (math intelligence), tapi ada juga language intelligence (kecerdasan bahasa), intra personal (melakukan refleksi diri), interpersonal (berelasi dengan orang lain), natural intelligence (terkait dengan alam atau nature), spatial intelligence (kecerdasan spasial, menyangkut ruangà biasanya siswa teknik atopun arsitektur yang kuat di bidang ini), musical intelligence.

SES (social ekonomi status) juga berperan dalam perbedaan itu. Bagi orang yang memiliki kemampuan lebih, mereka dapat memberikan gizi yang lebih baik bagi anaknya, begitu juga dengan stimulasi yang diberikan. Anak akan dapat difasilitasi untuk ikut dalam berbegai kegiatan les maupun peralatan belajar. Tetapi apakah itu serta merta menjadikan mereka unggul dalam segala hal? Ternyata g seperti itu juga. Banyak juga cerita tentang orangtua yang memiliki kemampuan di bawah rata rata yang tidak mampu melakukan semua itu, tetapi anak mereka justru menjadi anak anak yang hebat dan luar biasa.

Tingkat pendidikan orangtua akan juga mempengaruhi pola pengasuhan anak yang pada akhirnya berpengaruh juga pada bagaimana anak merespon pembelajaran. begitu juga dengan sosial budaya mereka. Sebuah penelitian di amerika menyatakan bahwa orang kulit hitam yang memiliki tingkat pendidikan S1 akan memberikan stimulasi yang berbeda dengan yang lulusan SMU, demikian juga dengan warga kulit putih.

Lingkungan juga memainkan peranan yang sangat penting. Seperti kita tahu, lingkungan mempunyai kaitan yang erat dengan kebiasaan anak karena anak adalah peniru yang unggul (aku g hendak mengesampingkan adanya orang orang yang mampu keluar dari lingkaran kebiasaan di lingkungan). Sebuah lingkungan yang baik dan kondusif dapat membentuk karakter maupun perilaku belajar anak secara positif dibandingkan dengan lingkungan yang buruk.

How about us?

Dulu temanku pernah bercerita tentang anak anak yang belajar di rumahnya. Ada yang kutuan, ada yang badannya bau kaya belum mandi, ada yang kelas 5 tapi g mahir berhitung, singkatnya, semua anak yang ikut belajar di tempatnya menampakkan kekhasan masing masing. Dia menerima mereka semua dengan tangan terbuka. The end of his story is…. mereka jadi senang untuk belajar. Dan buatku… inilah salah satu tolak ukur keberhasilan guru…. membuat anak menjadi senang untuk belajar (krn bagiku…. keberhasilan tidak sekedar nilai raport, tetapi bgmn bs memotivasi mereka untuk belajar).

Menyadari bahwa anak itu berbeda dan unik akan dapat membantu kita untuk mencari cara yang terbaik untuk mengajar anak. Keseragaman atau usaha untuk menjadikan anak seragam dan meniadakan perbedaan perbedaan itu pada akhirnya akan menciptakan generasi yang tidak kreatif, takut untuk mengambil resiko karena takut dianggap berbeda. Setiap anak pasti akan menampilkan potensi mereka yang maksimal, apalagi kalo diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan cara yang mereka pahami.

To provide best thing to educate our children is one part of our responsibility (Shanti).

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s