Pendidikan Entrepreneur : G Sekedar Berdagang Atau Menjadi Pengusaha

Terus terang aku bekerja di tempat yang menarik. Kenapa menarik? G lain dan g bukan karena sekolah ini punya visi yang berbeda yaitu menciptakan generasi entrepreneur. Generasi entrepreneur bukan sekedar generasi pengusaha atau menjadi seorang pebisnis yang andal, tapi lebih dari itu, generasi entrepreneur yang hendak diciptakan adalah generasi yang punya kualitas dan karakter seorang entrepreneur yaitu g gampang nyerah, terbuka terhadap ide ide baru, bisa melihat peluang dan generasi yang berani dan percaya diri. Alih-alih mencetak pengusaha, tapi lebih dalam dari itu, mencetak karakter yang tangguh dan g mudah menyerah. Apakah itu telah dimiliki oleh setiap anak? Tentu permasalahan ini jangan hanya dilihat dari punya atau tidak punya karakteristik itu, karena bagiku pendidikan adalah sebuah proses yang berlangsung secara terus menerus. Aku punya sebuah keyakinan bahwa walau mungkin kualitas itu g nampak saat mereka sekolah, tapi ibarat sebuah spons, pada akhirnya spons yang telah penuh oleh air akan mengeluarkan isinya pada suatu saat. Jadi apa yang dilakukan tidak pernah ada yang sia-sia.

Diawali dengan proses yang menarik yakni mengeksplorasi materi, anak anak diajak untuk lebih dalam mengenal sebuah materi, seperti misalnya materi tentang kebudayaan Indonesia, maka mereka akan mengeksplorasi banyak hal tentang Indonesia, baik makanannya, adat istiadatnya, pakaiannya dan sebagainya. Di akhir masa eksplorasi, mereka diminta untuk memikirkan sebuah ide karya yang akan mereka tampilkan untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi. Karya itu bisa bermacam-macam, seperti misalnya berupa makanan tradisional, tarian, produk tentang adat istiadat budaya yang sudah dipelajari dan sebagainya. Bisa dibayangkan jika dalam satu tahun terdapat 4 tema, maka tahun itu dia akan punya kesempatan untuk berkreasi sebanyak 4 kali. Dan jangan membayangkan kreasi itu harus melulu menggunakan barang baru. Kadang mereka menggunakan barang-barang yang sudah mereka punyai untuk membuat karya mereka. kadang, dari bahan yang sederhanapun bisa mereka buat sebagai karya.

Salah satu hal menarik aku jumpai dari anakku di kelas. Terus terang kelas kami tidak banyak diisi dengan permainan, maka untuk mensiasati itu, salah seorang anakku –bukan aku- berinisiatif untuk membuat mainan ular tangga dari kertas hvs. Dadunya ia buat dari buku gambar yang cukup tebal dan pionnya ia ambil dari berbagai barang kecil yang ia jumpai. Mainan buatannya ini dapat dijadikan alternatif mainan saat free time mereka.

Contoh lain yang menarik adalah inisiatif dari salah satu muridku untuk membuat es krim, dan kemudian dibawanya es itu ke kelas dan ia promosikan di hadapan teman teman lain. Walhasil banyak teman yang tertarik untuk mencoba es buatannya.

Kreasi anak g harus sempurna. Beberapa produk masih perlu dirapikan sana sini, beberapa tampilan masih perlu dipoles lagi, hal itu bagiku adalah wajar karena bagaimanapun juga usia mereka yang masih sangat muda untuk membuat karya. Tapi kembali lagi, bagiku sebuah potensi tidak hanya dilihat dari hasilnya saja, tetapi dari proses yang mereka jalani berulang ulang. Orang biasa menyebutnya “practice make perfect”.

Dan sekarang, hanya satu hal yang kuminta –pada Yang Maha Sempurna-, semoga benih yang telah tertabur ini tertanam mendalam di benak mereka, hingga pada saatnya nanti akan menunjukkan buah-buah yang manis rasanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s