Superkid ?

Buat para orangtua, siapa sih yang g mau punya anak superkid. Sopan, baik, pinter, cantik (ato ganteng), punya segudang bakat dan aktivitas yang menarik, bla bla bla dan semua yang identik dengan kesempurnaan.
Well…. aku rasa setiap orang berharap anaknya memenuhi kriteria tersebut, paling ga, mendekati sempurna lah. Mudah diatur, suka makan sayur, hidup teratur, g suka ngluyur ^_^
But anyway, that’s not easy for us or for the kids also.
Bisakah dibayangkan betapa kita harus berusaha sedemikian rupa membentuk superkid, menempa mereka seolah mereka adalah kertas yang benar benar kosong yang kita coret dengan gambar yang kita inginkan? Apakah mereka benar-benar kertas kosong, yang g punya kepribadian atau karakter sendiri, yang kita coreti baru akan muncul gambaran kepribadian itu? Benarkah Tuhan menciptakan “kertas kosong”?
For some people, the answer might be “yes, they are”. Orangtua yang seperti ini yang pada akhirnya menempa anak sedemikian rupa, dengan dasar argumen, menciptakan karakter dan kepribadian yang baik bagi anak di masa mendatang. Dasar pemikiran seperti itu adalah pilihan dari masing-masing orang.
Membaca buku bukik, yang judulnya “anak bukan kertas kosong”, aku belajar bahwa anak-anak diciptakan Tuhan secara istimewa. Anak-anak punya kodrat sendiri. Coretan yang kita goreskan dalam kehidupan mereka bukanlah coretan di lembaran kosong.
Definisi dari kesempurnaan bagiku bukanlah ketika anak menjadi seorang superkid, tapi ketika sang anak tahu bagaimana dia bisa bermanfaat bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Things we can do is to prepare them for their fullest life. Itu sudah.
Aku belajar banyak dari vio. Ketika bersamanya, aku sadar bahwa dia bukan “kertas kosong” yang harus aku coret coret sedemikian rupa sesuai dengan gambar yang aku –ato orangtuanya- inginkan. Vio punya gaya sendiri, vio punya kepribadian dan karakternya sendiri. Melihat vio, she’s so unique. Menyadari hal ini, kami (setiap orang yang berada dalam lingkup masa tumbuh kembangnya) sadar bahwa yang vio perlukan bukanlah coretan tangan kami yang tajam menggaris kehidupannya, tapi yang kami lakukan adalah mengasah vio, sesuai dengan naturenya untuk menjadi orang yang vio inginkan. Kami ingin vio tahu bahwa dia adalah istimewa.
Apakah vio tahu mau jadi apa di masa depan? Tentu saja enggak, tapi kami disini membantu untuk mempersiapkan kepribadiannya. Bagi kami, vio ga perlu jadi superkid yang pandai dalam segala hal. (untungnya aku dan mamanya vio punya kesamaan persepsi dalam hal ini). Membentuk kepribadian, agar dia dapat membuat pilihan yang baik, yang juga dia sukai dan tidak membebani dirinya (aku mengenal beberapa orang yang membuat pilihan baik, karena image mereka tergantung pada persepsi orang lain, and u know what, its hard for them).
Kami punya cara mendisiplinkan dia, tapi satu hal yang kami hindari adalah memukul atau mengatakan hal yang buruk tentangnya supaya dia g punya gambaran atau label yang buruk tentang dirinya sendiri.
In the end, aku tahu bahwa setiap orangtua punya cara untuk membesarkan anak masing-masing, tapi dua hal yang aku sadari, superkid itu g pernah ada, dan anak bukan kertas kosong.
Surabaya, 20 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s