Mencegah lebih baik daripada mengobati

Kalimat itu sudah sering diperdengarkan sejak aku SD. Waktu itu konteksnya adalah mengenai kesehatan. Kami diajak menjaga kesehatan dengan cara menjaga pola makan dan melakukan pola hidup sehat seperti berolahraga. Ide dasar dari kalimat itu sederhana, supaya kita mempunyai sikap waspada terhadap kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Tapi kalimat mencegah lebih baik daripada mengobati itu g cuma berlaku di dunia kesehatan aja. Kalimat itu juga dapat diberlakukan secara efektif di kelas. How to do it? Well, thats why every teacher must know about classroom management.
Classroom management
Saat ini classroom managemen bukan lagi sekedar tindakan untuk mencegah keributan di kelas, menciptakan suasana belajar mengajar yang aman, tenteram dan damai sehingga siswa bisa belajar secara optimal. Suasana belajar yang optimal tidak ditandai dengan level suara atopun ketenangan di kelas saat belajar. Suasana belajar yang optimal bagiku adalah ketika siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar di kelas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam proses belajar itu.
Di setiap tahun ajaran baru, kita –sebagai guru- pasti akan memberitahukan peraturan, tata tertib, ataupun konsekuensi di depan murid kita. Tujuannya sudah jelas, supaya anak-anak bisa tahu apa “aturan main” yang berlaku di kelas selama setahun. Terkait dengan managemen kelas, ada hal penting yang patut menjadi perhatian guru yang biasa disebut motivasi belajar siswa (ternyata g cuma orang dewasa aja yang berhubungan dengan motivasi, suasana kelaspun juga berkaitan dengan motivasi)
Dalam teori motivasi, ada dua teori motivasi yang dapat diberlakukan di kelas
1. Behaviorist model of motivation
Kaum behavioris menekankan pada reinforcement untuk membentuk dan mempertahankan perilaku siswa. Reinforcement ini dapat berupa reinforcement positif (untuk meningkatkan perilaku) ato reinforcement negatif (untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan). Misalnya pujian ato pemberian hadiah ketika siswa bisa menunjukkan perilaku yang diharapkan guru, ato mengurangi hak siswa ketika mereka menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan.
Kontrol guru menjadi peran yang penting bagi kaum behavioris. Kontrol guru inilah yang membentuk perilaku siswa di kelas. Kontrol guru ini pada akhirnya berakibat pada terpinggirkannya peran motivasi siswa dalam proses belajar. Kalo perilaku yang diharapkan dari siswa sudah muncul, maka yang perlu dilakukan oleh guru selanjutnya adalah mempertahankan perilaku itu dengan konsistensi menerapkan peraturan di kelas. Manipulasi perilaku inilah yang sering diterapkan di sekolah dan terkadang manipulasi perilaku ini disalahpahami dengan menyebutnya sebagai managemen kelas. Padahal managemen kelas lebih dari sekedar pembentukan perilaku melalui kontrol perilaku yang diterapkan oleh kaum behavioris.
2. Cognitive model of motivation
Dalam model kognitif, kebutuhan siswa, target atau motivasi siswa menjadi hal yang sangat penting. Model ini juga menekankan pada reinforcement, hanya saja dalam tujuan yang berbeda. Brophy menuliskan dalam bukunya bahwa :
These cognitive models of motivation include the concept of reinforcement but portray its effects as mediated through learners’ cognitions. That is, the degree to which task engagement can be motivated by reinforcer availability depends on the degree to which learners value the reinforcer, expect its delivery upon completion of the task, believe that they are capable of completing the task successfully, and believe that doing so in order to gain access to the reinforcer will be worth the costs in time, effort, and foregone opportunities to pursue alternative courses of action.
Kalau di model behavioris lebih menekankan pada otoritas guru sebagai pemegang kontrol utama dalam kelas, maka di model kognitif, guru juga mempertimbangkan aspek lain yaitu peran siswa yang didasarkan pada kebutuhan, target (yang bukan hanya sekedar menuliskan target dan menuliskan step step untuk mencapai target saja, tetapi siswa benar benar terlibat dan berusaha untuk mencapai target itu) serta peningkatan motivasi intrinsik siswa untuk terus belajar.
What are we doing as a teacher?
Seorang guru g hanya mempunyai tugas untuk mengajar saja, tapi lebih dari itu. Membantu siswa untuk meningkatkan motivasinya agar siswa lebih terlibat dalam proses belajar di kelas menjadi salah satu kunci keberhasilan dari guru. Kelas yang tenang tidak dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan guru (kita tentu tahu ada beberapa sekolah yang suka dengan siswa yang tenang, tapi di luar sekolah, siswanya berulah), tapi keterlibatan siswa dengan aktivitas kelas, perubahan karakter yang didasarkan pada motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri siswa, itulah yang dapat menjadikan kelas kita berhasil. Jika siswa dapat terlibat secara aktif dan motivasi intrinsik siswa telah muncul untuk lebih terlibat dalam kegiatan belajar, maka perilaku negatif akan hilang dengan sendirinya. Siswa akan punya kemampuan memilah mana hal yang menyenangkan (belajar di kelas) dan hal yang mengganggu (tidak bisa terlibat secara penuh di kelas).
So how we gonna do it? By keep learning new things and new strategy. Sekolahku mempunyai tugas penelitian kelas yang disebut dengan portfolio. Kalo mau dilihat secara positif, ini adalah kesempatan bagus buat guru untuk melakukan berbagai eksperimen termasuk eksperimen motivasional. Kalo gagal (well, portfolioku sebelumnya kurasa gagal karena secara nilai (scoring) tidak sesuai target yang kuharapkan, tapi diluar portfolio itu, aku bisa berbangga karena anak-anakku menampilkan semangat belajar yang luar biasa), well…. it means that we have to learn more dan kita juga tetep ingat bahwa banyak belajar, kalo hanya mandeg di level kognitif kita sebagai guru, maka itu g akan merubah banyak hal. Tapi belajar banyak hal baru, disertai dengan hati maka hasilnya akan jadi luar biasa. Selamat menempuh tahun ajaran baru buat para guru ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s