Kebahagiaan itu menular

Semalam dosenku bercerita mengenai antusiasme dan kebahagiaan. Ia pernah mendapat tugas ke Jepang dan ia harus berangkat seorang diri. Awalnya ia sempat merasa takut karena g ada teman. Maka ia berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, mengenai jadwal kereta, jalur yang harus dilalui dan sebagainya. Sesampainya di Osaka, ia harus menuju ke terminal bis. Hal ini masih mudah, tetapi sampai di terminal bis, ia merasa kebingungan karena ia g tau tempat membeli tiket, ataupun bis yang harus dinaiki. Akhirnya ia tanya pada pusat informasi disana. Tak disangka, petugas pusat informasi mau membantunya membeli tiket, memberitahu bis mana yang harus dinaiki, bahkan petugas itu menyemangatinya untuk segera menuju bis itu dengan senyum dan gerakan yang “cheerfull”. Melihat itu, semangatnya langsung segera naik. Ia g lagi merasa takut berada di tempat asing. Sesampainya di tempat yang dituju, ia harus berjalan 800 meter menuju penginapan. Ia hendak mencari taksi, namun ia melihat setiap orang turun dari bis dan melakukan perjalanan dengan bahagia dan dengan tersenyum, walaupun mereka berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Melihat betapa senang mereka melakukan aktivitasnya, iapun bersemangat juga untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, walau sebenarnya ia g terlalu suka untuk berjalan kaki. Cerita diakhiri dengan kalimat “kebahagiaan dan  antusiasme itu menular, terlebih apabila itu dibangun dalam suatu sistem”.

Aku dan kebahagiaan

Belakangan ini aku memiliki kebiasaan yang sedikit berbeda. Dulu, sesulit apapun anak yang kuhadapi, g pernah terlintas sebuah pikiran yang tidak menyenangkan. Aku suka mengajar di kelas kecil. Aku akan menerima mereka dengan tangan terbuka dan bersama-sama merencanakan petualangan di kelas yang menyenangkan. Antusiasme mereka menular padaku. Kelas buatku adalah ruang eksplorasi yang menyenangkan. Tapi belakangan itu berubah. Aku mudah untuk melabel mereka. ungkapan “cinta tak harus memiliki” untuk menunjukkan bahwa anak itu lucu, tapi semoga g jadi muridku, label anak “g menyenangkan”, bahkan label “anak sulit” itu sudah masuk dalam kosakataku. Aku cukup mengenal diriku, jika aku sudah sampai di tahap itu, maka itu menjadi peringatan buatku. Itu tanda bahwa kebahagiaanku sudah menurun. Ibarat batere, maka batereku itu sudah berkurang separuh. Dan aku akan jadi sama dengan guru yang suka melabel anak, seorang guru yang “tidak bahagia”. Seorang guru yang menjadi guru karena ia ingin “bekerja”, dan bukan ingin “berkarya”.

Karena ini sudah mulai terjadi, maka aku kembali mereview diriku dengan pertanyaan “untuk apa aku melakukan ini?”. Pertanyaan untuk apa ini menjadi titik tolak yang penting buatku. Aku kembali harus mengingat lagi motivasi awalku bekerja menjadi seorang guru, perjuangan yang harus aku lalui, penolakan yang pernah aku alami, untuk sampai pada titik bahwa inilah pilihan akhirku, bahwa inilah jalan hidupku.

Kadang kita harus berjuang sendiri untuk merasakan “bahagia”. Kadang disitu kita merasa bahwa diri kita berbeda. Cerita dari dosenku malam mengingatkanku bahwa kebahagiaan itu menular. Kebahagiaan untuk mengajar juga pasti bisa menular. Maka disini aku harus mulai membangun sistem. Sebuah sistem yang tidak mudah, karena sistem itu melibatkan diriku seutuhnya. Sistem itu mensyaratkan penerimaan diri atas apa yang aku jalani dan aku hadapi serta memaintain kebahagiaan itu walau mungkin keadaan sedang tidak membahagiakan. Orang bijak mengatakan “jika kamu ingin mengubah sistem, maka ubahlah dirimu terlebih dahulu”. Maka inilah yang harus aku lakukan, mengubah sistem diri, menekan pilihan tombol “bahagia” dan jalani saja. Jika belum bisa menular ke sesama, aku ga perlu kuatir, setidaknya kebahagiaan itu menular di sistem tubuhku terlebih dahulu. Just do my best and let God finish the rest.

~Surabaya, 28 Maret 2015~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s