Bagaimana jika aku seorang difabel

Seminggu yang lalu aku naik ke gunung Penanggungan. Itu adalah pendakian pertamaku. Selama ini aku lebih banyak menikmati pantai dan candi daripada gunung. Perjalanan kami sebenarnya tidak jauh, jika diukur secara vertikal, kami hanya berjalan selama beberapa ratus meter, tetapi berhubung karena ini di gunung, maka kami tidak bisa langsung vertikal melainkan mencari jalan memutar.

Perjalanan yang kami lakukan memakan waktu 5 jam untuk naik dan 5,5 jam untuk turun. Kalau biasanya turun gunung lebih cepat daripada mendaki, namun bagi kami, hujan, jalan licin plus kakiku yang sakit malah menghambat perjalanan turun kami. Bagi aku yang g pernah melakukan latihan fisik, tentu ini menjadi sangat berat. Waktu turun rasanya lututku mau copot. Sepanjang perjalanan aku berpikir, “mungkinkah ini yang dirasakan oleh mamaku?”

Selama ini mamaku menderita osteoarthritis dimana penyakit itu menyerang di bagian sendi lutut mamaku. Ibarat kaki adalah mesin, maka butuh pelumas agar bisa tetap stabil, sayangnya, pelumas mamaku sudah aus sehingga mamaku mengalami kesulitan untuk berjalan. Aku g pernah tau bagaimana rasa sakit yang dirasakan. Aku tahu mamaku sakit, tapi aku g pernah tau seberapa sakitnya kaki mamaku sampai aku ngalami lututku hampir mau lepas dan aku ngalami kesulitan berjalan waktu turun gunung.

Aku dan disabilitas

Kakiku njarem selama beberapa hari. Terutama di hari pertama mengajar. Dan yang cukup “menyenangkan” bagiku adalah di hari itu kami ada pelajaran komputer yang berada di gedung sebelah di lantai 2 dan aku harus piket. Yang mana artinya aku harus sering naik turun lantai 2. Saat itu aku membayangkan bagaimana seandainya aku adalah seorang difabel? Seandainya aku terlahir cacat atau cacat setelah dewasa, bagaimana aku akan menghadapi ini.

Kadangkala, kita yang memiliki fungsi tubuh yang normal, jarang memikirkan kebutuhan sederhana seperti ini, karena memang terus terang, seluruh bagian kita berfungsi dengan baik. Tetapi seandainya kita menempatkan diri pada posisi seorang difabel, maka kita akan mampu memahami apa yang mereka rasakan.

Dosenku pernah menceritakan dua hal yang menarik mengenai orang difabel. Yang pertama adalah penelitiannya beberapa tahun lalu mengenai kaum tunanetra di jogya dimana ditemukan fakta bahwa jarak aman bagi mereka untuk berjalan hanyalah sepanjang 30 meter dari rumah. Dengan kata lain, lingkungan yang mereka anggap aman bagi mereka hanyalah sepanjang 30 meter dari rumah, selebihnya sudah menjadi area tidak aman lagi. Yang kedua adalah mengenai sekolah tertentu di Amerika yang mempunyai program menarik untuk siswanya. Saat itu siswa diberi project mengenai disabilitas, dimana mereka diminta untuk mencoba merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang difabel. Orangtua mendapat surat dari sekolah untuk mendukung program ini. Orangtua diminta untuk tidak membantu anaknya apabila mereka mengalami kesulitan saat menjadi seorang “difabel”. Pada akhir project, mereka adalah menentukan langkah apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu orang dengan kebutuhan khusus seperti kaum difabel. Dan hasilnya cukup menarik karena mereka merasakan kesulitan untuk hidup dalam keadaan yang sangat bertolak belakang dari kehidupan normal mereka. Dari sanalah empati mereka dibangun. Dari sana pula muncul berbagai ide membantu kaum difabel.

Tuna daksa dalam dunia pendidikan

Anak penyandang disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, mempunyai banyak ragamnya. Selain tuna netra (ketunaan yang berkaitan dengan penglihatan), tuna rungu (ketunaan yang berkaitan dengan pendengaran), tuna wicara (ketunaan yang berkaitan dengan bicara), tuna daksa (ketunaan yang menyangkut gangguan fisik dan gerak), tuna laras (ketunaan yang berkaitan dengan aspek perilaku), tuna grahita (ketunaan yang berkaitan dengan kapasitas intelektual), anak gifted, anak yang memiliki kelainan akademik seperti misalnya disgrafia, diskalkulia ataupun disleksia, slow learner, juga ada kasus anak ADHD, Autisme, mutisme selektif dan tuna ganda.

Kejadian yang aku alami minggu lalu berkaitan dengan fisik. Jika dikaitkan dengan ketunaan, maka yang memiliki kasus yang hampir serupa adalah tuna daksa. Penyebab tuna daksa dapat beragam, ada yang sejak lahir, namun ada pula yang terjadi karena kecelakaan. Lalu pikiranku melayang ke gedung-gedung di Surabaya. Ada berapa banyakkah gedung di Surabaya yang ramah terhadap kaum difabel, seperti misalnya bagi penderita tunadaksa? Atau lebih spesifik lagi, berapa banyakkah gedung sekolah yang ramah terhadap penderita difabel? Bagaimana dengan sekolah umum yang memiliki murid difabel? Sudahkah sekolah sekolah tersebut menyediakan fasilitas yang juga memudahkan kaum tuna daksa untuk bergerak. Seperti yang kita tahu, bagi penyandang tunadaksa, mereka membutuhkan tempat bergerak yang berbeda dibanding orang umum. Misalnya kaum tunadaksa yang memiliki cacat pada kakinya, bagaimana caranya ia bergerak dengan baik apabila gedung sekolahnya hanya memiliki tangga dibanding dengan alat bantu lainnya, begitu juga dengan toilet yang tersedia di sekolah. Bagi kaum tuna daksa yang memiliki ketunaan pada bagian kaki, tentu mustahil bagi mereka apabila mereka harus menggunakan toilet jongkok. Apakah sekolah menyediakan fasilitas berupa pegangan pada dinding supaya untuk membantu mereka bergerak? Hal itu tampaknya adalah kebutuhan yang sepele namun sangat berarti bagi penyandang tuna daksa. Sudah saatnya kita peduli pada mereka.

Surabaya, 27 maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s