Seminar mengenali keberbakatan pada anak

Minggu lalu aku mengikuti seminar mengenali dan mengembangkan keberbakatan pada anak. yang menjadi pembicara di seminar ini adalah ibu Evy, seorang dosen Ubaya yang juga menjadi psikolog pada Yohanes Surya institute. Menurutnya, anak berbakat atau yang disebutnya sebagai cerdas istimewa (gifted) berbeda dengan yang disebut sebagai anak jenius walaupun keduanya sama sama memiliki iq diatas rata rata. Seorang dapat dikatakan jenius jika ia memiliki sumbangsih bagi kehidupan manusia. Hal ini cukup berbeda dengan anak cerdas istimewa, atau yang aku persingkat dengan sebutan gifted. Karakteristik anak gifted Gifted, seperti namanya “gift” merupakan anak anak yang istimewa. Istimewa karena ia memiliki gen atau bawaan biologis yang menjadikan dia berbeda dengan orang pada umumnya. Untuk menyebutk seorang anak adalah gifted atau bukan, ia harus memenuhi  tiga komposisi yang dipersyaratkan. Yang pertama dia haruslah seorang anak yang memiliki kreativitas yang luar biasa, lalu ia harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan yang terakhir, dia harus memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Melalui diskusiku dengan ibu Evy, cerdas berbakat itu tidak terlepas dari penggunaan otak kiri dan kanan secara seimbang. Seorang anak gifted mampu menswicth peran otak sedemikian cepat dibanding dengan anak pada umumnya. Otak kiri terkait dengan penggunaan logika analisa matematika dan segala hal yang berkaitan dengan keteraturan dan instruksi yang step by step. Sementara itu, otak kanan terkait dengan daya kreativitas yang tinggi, kemampuan menyerap hal hal abstrak, seni dan sebagainya. Sebagian besar manusia banyak memanfaatkan satu bagian otak secara dominan, entah itu otak kanan ataupun kiri. Namun anak gifted berbeda. Mereka mampu menggunakan keduanya secara seimbang. Dari sisi emosional mereka, seorang anak yang gifted memiliki perasaan yang sensitif dan cenderung perfeksionis. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap sesamanya. Sementara itu dari segi kreativitas, ia menghargai keindahan dan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Seorang anak gifted suka menciptakan sesuatu dan suka berekperimen. Gagasan yang dikemukakannya selalu orisinal dan out of the box. Karena tingkat kreativitas yang luar biasa ditambah dengan kemampuan analisa dan berpikir logis itulah yang terkadang menyebabkan masalah bagi si anak itu sendiri. Anak gifted cenderung menjadi anak yang berbeda dari kebanyakan orang. Kecerdasan mereka yang diatas rata rata kadang membuat proses penyerapan materi mereka diatas teman teman, bahkan mungkin diatas gurunya. Karena itu g heran kalo mereka memasuki kelas akselerasi. Berhadapan dengan anak gifted sendiri tidak selalu mudah, terutama bagi kelas regular. Anak gifted selalu membutuhkan tantangan yang beberapa tingkat di atas mereka, karena kalo mereka mengikuti program belajar regular, mereka akan mudah bosan. Ada dua kemungkinan yang muncul jika berhadapan dengan anak gifted. Yang pertama adalah guru akan mendapat tantangan yang luar biasa karena kecerdikan dan kecerdasan mereka, atau bahkan mereka akan menjadi anak yang tidak menonjol sama sekali. Yups… jangan salah… terkadang justru ada beberapa anak gifted yang tidak menonjol sama sekali walau dia memiliki kecerdasan diatas rata rata. Biasanya hal ini terjadi karena dia mendapat tekanan atau pressure baik secara mental ataupun psikis dari teman sebayanya. Bahkan, ada juga anak anak kasus khusus seperti disleksia, hiperaktivitas maupun autis yang juga seorang gifted (kasus khusus ini biasa disebut dual exceptional, gifted tetapi mempunyai kesulitan belajar) Dari sisi emosional mereka, seorang anak yang gifted memiliki perasaan yang sensitif dan cenderung perfeksionis. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap sesamanya. Sementara itu dari segi kreativitas, ia menghargai keindahan dan memiliki daya imajinasi yang tinggi ia suka menciptakan sesuatu dan suka berekperimen. Gagasan yang dikemukakannya selalu orisinal dan out of the box. Lalu kapankah anak kita dapat dikatakan gifted? Seperti yang telah dituliskan diatas, seorang anak gifted harus memiliki 3 kriteria diatas. Namun kembali, kita harus mampu melihat secara bijak dan obyektif. Untuk itu perlu dilakukan pembuktian tertentu seperti mengetes tingkat kecerdasan mereka, maupun mengetes psikologi mereka. Jika kita memiliki anak, kita perhatikan dengan sungguh sungguh, apakah kemampuan anak kita itu diatas rata rata anak seumuran mereka (untuk itu dapat dilihat pada tabel KMS atau {Kartu Menuju Sehat} sebagai pembanding atau googling di internet). Seorang anak gifted punya proses maupun hasil yang berbeda dengan anak yang terstimulasi maksimal. Seorang anak terstimulasi maksimal mungkin akan mampu memiliki kecerdasan diatas rata rata, tetapi dia membutuhkan usaha yang lebih, konsistensi dan kerja keras untuk mendapatkan itu. Sementara anak gifted berbeda. Mereka akan mampu menyerap, memproses maupun mengkomunikasikan informasi dengan mudah (namun bukan berarti seorang anak 2 tahun selalu mampu menggambarkan pengetahuan seperti anak berumur 6 tahun). Kita harus memiliki daftar isian perilaku cerdas istimewa sebagai acuan, dan untuk mengisinya, kita harus benar benar obyektif dalam menilai. Agar semakin obyektif, kita dapat bertanya kepada pihak yang lebih ahli, seperti psikolog, misalnya dengan cara meminta untuk diberikan pemeriksaan psikologis yang mencakup observasi, interview dan psikotes. Jumlah anak yang terdeteksi gifted saat ini tidak terlalu banyak. Untuk itu kita perlu benar benar peka dan jeli. Jangan sampai kita memiliki anak gifted, namun karena tidak terdeteksi, maka gift-nya tersia siakan begitu saja, atau sebaliknya, anak yang biasa saja, dengan mudah kita beri stigma gifted, hanya demi menuruti kepuasan hati orangtua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s