Anak dan Memori mereka

Stimulus –> sensori memory –> short term memory –> long term memory

Itu yang aku pelajari di kelas beberapa waktu yang lalu. Berbicara tentang memori menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan, apalagi dibimbing sama dosen yang enak pula cara ngajarnya. Pak fendi, sebut saja namanya begitu (karena memang itu namanya), menjelaskan bagaimana proses stimulasi apapun yang bisa masuk ke otak kita lalu disimpan, baik secara sementara maupun dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Awalnya adalah stimulus. Stimulus ini adalah rangsang apapun yang kita terima dari luar, yang dirasakan oleh indera kita, baik penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba maupun perasa. Stimulus dari luar ini akhirnya dikirimkan ke bagian sensori di otak kita lalu kemudian kita membuat persepsi atasnya. Otak kita kemudian menyimpan memori dalam ruang short term, dan jika stimulus ini memiliki kesan yang mendalam dan sudah kita beri makna, maka stimulus ini akan masuk dalam ruang longterm memory. Contohnya : seorang anak yang melihat mainan bola di etalase toko. Jika si anak hanya melihatnya sepintas saja, maka yang tersimpan adalah gambar bola selama 3-5 detik saja, tetapi jika ia melihatnya secara sungguh sungguh, apalagi jika ia sampai meminta mama untuk melihat dan membelikannya, dan ada kejadian tertentu yang menyertai seperti misal penolakan ataupun penerimaan yang sangat berkesan dalam hati anak maka gambar bola itu akan tersimpan di otak lebih lama.

Well… kita sudah mengetahui itu. Tetapi sekarang kita mau mengkoneksikan memory dengan hal yang lain, contohnya dengan pelajaran. Ada teman yang bertanya di kelas, kenapa anak jaman sekarang mudah lupa terhadap pelajaran ya? Diskusi menjadi menarik, dan aku menyimpulkan beberapa hasil diskusi itu.

Ada ha-hal yang mempengaruhi daya ingat anak terhadap pelajaran.

  1. Banyaknya materi yang diajarkan

Jika kita amati, kita akan melihat bahwa pelajaran anak di jaman sekarang sangat berbeda dengan pelajaran yang diserap oleh kita di periode yang sama. Materi yang diajarkan saat ini banyak yang merupakan materi turunan, dalam artian, yang dulu diajarkan di kelas 4 ato 5, sangat mungkin sekali diajarkan di kelas 3. Term “sangat mungkin” ini g hendak merujuk pada tingkat penyerapan anak, tetapi pada term bahan ajar yang terangkum dalam kurikulum yang dibuat pemerintah. Karena itu jamak kita lihat anak kelas 4 belajar tentang macam macam benda seni dan peninggalan budaya, ato anak kelas 2 belajar tentang dokumen pribadi (seingatku sih dulu aku baru tahu yang namanya KTP atau dokumen pribadi itu di kelas atas, bukan di kelas 1-2 SD).

  1. Metode penyerapan informasi

Seperti kita tahu, setiap anak mempunyai metode penyerapan informasi yang berbeda terhadap pelajaran. Jika kita belajar tentang teori dari howard gardner tentang multiple inteligense, disana akan dijelaskan bahwa ada berbagai macam metode yang perlu digunakan untuk mencakup pemahaman setiap anak.  Ada yang pintar math, ada yang pintar bahasa, ada yang pandai menyerap info dengan melalui gerakan dan sebagainya.  Dengan kata lain, guru dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan materinya, agar setiap anak di kelas, yang memiliki kecerdasan yang berbeda beda itu, dapat memahami materi (U know what…. If we are dedicated enough to teach, we will always try to find a way to teach and educate our kids :D)

  1. Stimulus dari luar

Parents, ini penting sekali untuk diperhatikan. Sebelum kita masuk pada topic, coba kita ingat lagi, bagaimana respon kita, ketika melihat ada tulisan dalam bentuk yang besar, dan berwarna mencolok,  atau melihat mobil yang merah menyala, ataupun mendengar berbagai keriuhan suara di mal.l. manakah yang akan kita perhatikan? Secara alamiah, kita akan memperhatikan rangsangan yang paling menonjol.. Suara keras, warna atau corak yang mencolok,, tulisan yang besar dengan warna mencolok, semua itu akan mempengaruhi kerja otak kita. Begitu juga dengan anak. semua hal yang paling menonjol itulah yang akan mempengaruhi anak.

Kita tahu sekarang betapa mudahnya orangtua membelikan gadged untuk anak. Banyak anak SD bahkan yang masih di kelas 1, sudah memiliki hape yang canggih dan orangtua juga mengijinkan anak untuk bermain di ipad, tab ataupun gadged lain. stimulus dari luar itu juga sangat mempengaruhi kerja otak anak. walaupun kita sudah membatasi dengan memberikan aturan jam untuk bermain, tetapi tetap saja yang diingat oleh anak adalah hal yang menarik hatinya, yaitu games games yang ada di gadged. Apalagi jika anak belum mampu menyelesaikan games sampai di level tertentu, atau anak senang ngobrol dengan teman di medsos, percayalah, itu sangat mempengaruhi kerja otak anak. Selain gadged, stimulus yang lain bisa berupa kemudahan untuk memakai alat transportasi. Kita bisa lihat orangtua yang mengijijnkan anak untuk menggunakan kendaraan bermotor untuk ke area manapun, akibatnya, hal itu mendorong anak untuk mengeksplor lingkungannya, sehingga yang terekam dalam memori anak bukanlah mengenai apa yang dia pelajari di kelas, tetapi apa yang bisa dilakukan untuk mengeksplor dunia mereka. Masih untung jika anak-anak itu dapat mengingat 20 – 30% pelajaran di sekolah. So…. Berhati hatilah jika hendak memberikan stimulasi pada anak. jangan jangan itu malah akan mengalihkan perhatian dari apa yang sudah diajarkan di kelas.

  1. Beban tambahan

Ada banyaknya les les juga akan membuat beban tambahan di otak anak. anak yang kelelahan, pada akhirnya hanya mampu menyimpan sedikit memori di otak mereka.

  1. Tidak merecall

Kadang orangtua atopun guru tidak merecall pengetahuan anak. Otak kita itu ibaratkan storage atau tempat penyimpanan. Informasi apapun yang masuk akan secara otomatis disusun dalam otak, baik secara acak maupun dalam rangkaian tertentu (apabila kita sudah menggunakan coding saat menyimpan. Coding bisa berupa jembatan keledai, highlight info, kata yang paling berkesan, kode penting dsb). Jika kita tidak merecall atau memanggil kembali info tersebut, maka info tersebut lambat laun akan menjadi hilang,. Begitu juga dengan pelajaran. Jika pelajaran yang disampaikan tidak di recall, maka lampat laun informasi itu akan hilang dalam otak. Jangankan anak-anak, orang dewasapun sering mengalami kejadian yang sama. Ada memori memori yang hilang dari otak kita karena kita tidak merecall ingatan kita tersebut, apalagi untuk hal hal yang sudah lama tidak berkaitan dengan kehidupan kita.

5 hal yang aku tuliskan itu hanya sekelumit dari alasan mengapa anak mudah melupakan pelajaran yang diberikan oleh guru.  Dari pengalaman mengajar di beberapa sekolah sih pada akhirnya sekolah memfasiltasi hal itu dengan cara memberikan portfolio atopun nonportfolio ke mereka. Hal ini sebagai rekaman catatan hasil belajar anak. ini berguna supaya anak bisa merecall pelajaran mereka bahkan setelah mereka dewasa sekalipun (dengan catatan, portfolio dan nonportfolio mereka ga hilang :D). Untuk sekolah sekolah yang belum memakai system portfolio, mungkin ide ini bisa dipertimbangkan dengan cara menyimpan secara rapi semua file hasil belajar anak dalam satu folder tertentu. Tidak harus selalu guru yang menyimpankan, tetapi bisa dengan cara meminta mereka untuk memasukkan dalam folder tertentu untuk hasil ulangan ataupun hasil lembar kerja mereka.

SEMANGAT MENGAJAR 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s