bahagia itu sedehana

Mengajar di upper grade bukanlah sesuatu yang mudah bagiku. Terlebih lagi di sekolah baru yang memiliki system yang berlainan dengan sekolahku yang sebelumnya. Jadilah aku harus belajar system baru… plus belajar cara mengajar di upper grade.

The first two month its been like a hell. Bulan juli aku mengajar, anak anak masih belum menampakkan kemampuan ataupun ketidakmampuannya karena memang masih baru saja masuk, sehingga belum ada pelajaran yang terlalu berat. Minggu minggu awal adalah minggu brainstorming. Masalah baru mulai nampak jelas di bulan agustus yang mana pada saat itu pelajaran sudah mulai lebih kompleks dan sudah mulai teratur dan terukur. Banyak anak yang masih menayakan instruksi yang kuberikan secara personal walau saat diberi penjelasan mereka sudah banyak sekali bertanya. Nampaknya dari 2 jam pelajaran, 40 menit tidaklah cukup hanya untuk memberikan penjelasan. Keterlambatan dalam pemahaman instruksi itu berpengaruh pada manajemen waktu. Pada akhirnya g dapat dipungkiri, kelasku selalu menjadi kelas paling akhir yang menampakkan diri di area penjemputan. Sudah tak terhitung beberapa kali aku diingatkan oleh rekan kerjaku mengenai masalah ini.

Its been like a hell for the two of us, dimana aku memaksa anak anak untuk bekerja dengan lebih cepat sementara mereka mencobai kesabaranku dengan kemampuan mereka yang pas pasan. Tak jarang aku mengeluarkan volume suara yang menurutku cukup keras hanya untuk mengingatkan mereka bahwa mereka sudah banyak tertinggal. Yeap… I realizing something….. maybe im not as good as I imagine.

I read a lot about class management. Rasanya aku sudah menerapkan semua standar yang ada di sekolah, baik standar waktu, standar suara ataupun standar pekerjaan, maupun apa yang dituliskan dalam panduan classoom management. Selama beberapa minggu aku berada pada titik nol, bahkan minus. Aku menyerah.

Old trick g selamanya kuno

Di sekolahku yang dulu, aku memberi rangsangan kepada murid untuk dapat mencapai target yang kutetapkan dengan pemberian reward berupa smile card ataupun star card. Reward ini sudah beberapa kali kutuliskan dalam beberapa catatanku. Idenya sedehana. Mereka mendapatkan kartu dengan beberapa syarat yang aku tentukan, dan di akhir hari kartu yang mereka miliki akan dihitung jumlahnya dan itu akan menentukan star of today. Inspirasi ini kudapatkan dari partnerku mengajar di kelas 1. Aku sedikit merubah aturannnya di kelas 4 ini. Jika mereka sudah mengumpulkan 5 kartu yang kuberi nama bee card, maka mereka akan dapat menukarkan 5 kartu tersebut dengan kartu yang disebut I am awesome card.

Awalnya aku memang masih ragu menggunakan kartu ini mengingat mereka sudah di upper grade. Aku kuatir dengan respon dingin mereka. Aku kuatir kartu ini tidak berjalan seperti yang aku inginkan. Kartu ini sudah berlaku selama 3 minggu dan untunglah saat ini respon mereka cukup oke, walau ada beberapa anak yang menanggapi dengan biasa saja. Di kelas 4 yang lain, mereka menggunakan poin untuk menarik minat anak anak.

Pemberian reward

Pemberian reward di sekolah biasanya dibatasi dan dikenakan syarat dan aturan tertentu. Di beberapa sekolah, pemberian rewad berupa pensil ataupun alat tulis masih dimungkinkan. Tetapi tentu ini tidak dapat diberlakukan terlalu sering karena itu akan menguras anggaran sekolah. Pemberian poin relative cukup aman karena tidak memerlukan dana tertentu. Ada juga yang memberikan reward berupa stempel ataupun stiker. Namun dalam beberapa kasus, akhirnya banyak anak yang membeli stempel ataupun stiker yang lebih bagus daripada yang dimiliki oleh gurunya. Sementara aku menggunakan reward berupa kartu yang dibagikan di sepanjang hari dengan ketentuan khusus, namun dikembalikan di akhir hari.

Pemberian reward ini cukup efektif, terutama di lower level dimana mereka sangat memerlukan dukungan eksternal agar mereka dapat menunjukkan potensi mereka. Untuk upper grade, masih dapat berlaku di kelas 4, namun itupun terkadang tidak semua terlihat antusias. Ada saja beberapa anak yang menganggap dirinya sudah cukup besar sehingga tidak menginginkan hal tersebut, atau bisa jadi adanya kesadaran bahwa diri mereka tidak akan mungkin mendapatkan reward tersebut, sehingga pada akhirnya mereka acuh terhadap semua reward yang ditawarkan.

Namun diluar semua itu, pada akhirnya semuanya bermuara pada satu hal yaitu penghargaan terhadap karya atau kinerja dari seorang anak. jika anak mau mengusahakan yang terbaik dari dirinya, maka dia berhak untuk mendapatkan penghargaan dari pihak lain. Tentu saja pemberian reward ini perlahan lahan dikurangi instensitasnya setelah dirasa karakter positif yang hendak dibentuk sudah mulai terlihat.

Menghargai anak

Selama mengajar di kelas yang baru ini, aku sepertinya lupa pada nilai nilai positif yang berusaha untuk aku kembangkan. Jika aku melihat ke bulan juli – September pada periode ini, aku menyadari bahwa aku lebih banyak mengeluhkan keadaan daripada melihat sisi positif anak. Jika aku bercermin, maka mungkin cerminku itu akan retak melihat kegalauan yang selalu nampak di wajah. Tidak ada senyuman, yang ada hanyalah keluhan mengenai betapa susah mengajar anak anak ini. Belum lagi mereka selalu tampak tak berdosa ketika sedang bermain, seolah mereka tak mau tahu betapa sang guru memikirkan mereka, bahkan sampai terbawa mimpi.

Aku lupa bahwa mereka juga manusia, bahwa usia mereka adalah sepersekian dari usiaku. Rentang usia kami adalah 20 tahun, yang mana artinya, aku sudah memiliki 20 tahun pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak daripada mereka. Saat ini mereka sedang dalam tahap menyerap dan mengolah informasi baru yang aku ajarkan. Mereka belum mempunyai pemahaman materi secara mendalam. Beberapa diantara pengetahuan yang aku ajarkan itu merupakan pengembangan ataupun hal yang benar benar baru buat mereka. Itu sebabnya mereka membutuhkan waktu untuk memproses ataupun mengolah informasi itu. Bisa dikatakan bahwa selama proses di tema 1 ini aku ibarat menyeret mereka dengan tali tambang agar mereka dapat mengikuti ritmeku. Proses yang kami alami, aku ataupun mereka tidaklah mudah.

Menghargai anak berarti menghargai setiap usaha yang mereka lakukan. Kesenjangan informasi antara orang dewasa dan anak anak ini harus benar benar disadari, tidak hanya secara teori tetapi juga dalam prakteknya. Kita perlu untuk belajar untuk menilai kemampuan anak anak secara individu. Aku jadi ingat motto sekolahku yang sebelumnya yang berbunyi small step big step. Setiap langkah kecil dari seorang anak, itu adalah awal dari langkah besar yang mereka ciptakan. Menghagai setiap proses dan kemajuan anak, sekecil apapun itu, maka itu akan menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya sehingga dia bisa lebih percaya diri untuk memulai langkah besar mereka. Semoga aku tetap diberi kesadaran untuk hal seperti ini. Dan aku pahami, yang dapat kulakukan saat ini adalah terus menerus belajar untuk mengenali kemampuan mereka, menghargai setiap usaha ataupun proses yang mereka lakukan dan kemudian memacu agar mereka tetap bersemangat untuk melakukan yang terbaik sehingga pada akhirnya kami akan sama sama berbahagia.

Yeap…. Bahagia itu memang sederhana…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s