kumpulan tulisan pendek

  1. Ekspresi

aku tak dapat menangkap makna dari apapun yang ada di sekitarku. dulu sewaktu aku kecil, orang bermain cilukba untuk membuatku tertawa, tapi sungguh, aku tak dapat tertawa, karena aku memang tak tahu apa yang sedang mereka lakukan..
mereka mengajarkanku berbagai ekspresi. kami mencoba ekspresi senang, sedih, marah, bingung dan berbagai ekspresi lain. tapi terkadang aku bingung untuk menempatkan berbagai ekspresi itu pada waktu yang tepat. mereka menyebut ekspresi-espresi itu akan muncul sebagai sesuatu yang alamiah… padahal bagiku itu tidaklah mudah.
mereka juga mengajarkanku bahwa seseorang sedih apabila….. seseorang merasa senang apabila…… dan aku tak dapat menangkap maknanya. aku hanya tau di permukaan saja, bahwa sesuatu itu disebut sedih ataupun senang, tapi aku tak benar2 dapat merasakan kesedihan ataupun kesenangan, baik yang terjadi pada diriku terlebih pada orang lain.
sungguh…. aku tak mengerti. apakah aku hanyalah cacat rasa atau aku punya apa yang disebut seseorang sebagai autisma? entahlah….
*edisi kebanyakan baca buku donna williams*

 

2. Edisi mengenang anak kesayangan

Dia bergerak begitu cepat. melompat bagaikan kelinci dengan kedua kakinya berjinjit. senyum menghias wajahnya ketika dia berkeliling ruangan. namun dia tak tersenyum padaku. dia tersenyum pada dunianya. tiba-tiba dia menangis ketika aku membuka pintu. di luar sana suasana sedang ramai karena kami sedang mengadakan acara. banyak orang yang datang, musik berdentum dengan cukup kencang. badut yang berkeliling menawarkan keceriaan. tapi itu tidak berlaku untuknya. dia tidak menyukai semua itu. dia menangis ketakutan. aku bisa merasakan badannya menggigil di pelukanku dan suara tangisnya yang semakin mengencang. dia memelukku dengan sangat erat. tangisan itu selalu terjadi jika aku membawanya di tengah keramaian ataupun ketika ada keramaian di luar dirinya. terkadang dia muntah ketika dia merasa takut, sehingga aku harus memeluk ataupun menggendongnya agar dia merasa tenang…
ahhh.. kejadian itu seperti baru kemarin rasanya

 

3. Menjadi Dewasa

kita saling berpegangan tangan sambil terdiam. aku tak tahu apa yang kamu pikirkan. bagiku, kamu tetaplah sama seperti orang yang kukenal 15 tahun yang lalu. kanak-kanak dengan segala emosimu. kamu merasa dirimu berubah? tidak sayangku… kamu tidak berubah, dan itulah yang kuherankan darimu. setiap orang bertambah dewasa, tetapi kamu tetap orang yang sama.

 

4. Aku dan cermin di hatiku

aku memandang cermin sekali lagi untuk memastikan bahwa itu adalah wajahku. dulu ketika aku bercermin, wajah yang nampak adalah wajah cantik seperti artis yang selalu tersenyum. dulu aku selalu melihat “wajahku” namun bukan wajahku yang sesungguhnya, sehingga senyumku, tangisku, sedihku ataupun tawaku, adalah ekspresi dari “wajahku”. tidak hanya wajah, tetapi juga tubuhku. aku selalu bercermin dari oranglain mengenai tubuhku. ketika bersama orang yang tinggi, aku tak pernah merasa bahwa tubuhku tak setinggi mereka, ataupun sebaliknya, ketika bersama dengan orang yang lebih mungil dariku, aku tak pernah merasa bahwa aku lebih tinggi dari mereka. setelah sekian lama baru aku menyadari bahwa aku memiliki tubuh dan wajahku sendiri, dengan segala lekuk-lekuknya yang khas. awalnya aku merasa cukup asing dan aneh dengan hal ini. tubuh dan wajahku yang selalu menemaniku, kini baru menampakkan kehadirannya, ataukah.. mereka sudah ada, hanya saja aku tak menyadarinya?

 

5. Edisi mengenang hidup

dia kembali menekuri buku-buku bacaannya. aku dapat melihat berbagai kelebatan ide yang melompat-lompat riang dipikirannya. mereka merindu untuk dituangkan dalam bentuk yang lebih nyata. mereka ingin hadir di dunia. mereka ingin dianggap ada…
terkadang senyum mengambang di bibirnya, namun terkadang pula wajahnya tenggelam dalam sendu dan rindu merayu. Namun tak jarang pula sumpah serapah keluar dari bibirnya.
aku ingin berkata padanya… usah kau tanggung beban dunia di pundakmu. nikmatilah adanya hidupmu. tersenyumlah pada hari ini….tapi aku sadar bahwa itu percuma…. karena dia hanya hidup di dunianya. ah anakku.. andai kau tahu betapa indahnya duniamu….

 

6. Duel

dia berusaha mendekat kepadaku. jarak kami waktu itu hanya terpisahkan 5 buah bangku. semakin lama dia makin mendekat dan selanjutnya yang kurasakan adalah panas di pipiku. aku yang terpaku selama beberapa milidetik segera membalas perbuatannya. akupun segera mengepalkan tanganku dan meninju wajahnya. jantungku yang berdebar sangat kencang setiapkali aku merasa gugup, kali itu berdebar lebih kencang dari biasanya. nafasku memburu dan aku bisa melihat dia merasakan hal yang sama. selama beberapa menit selanjutnya kami saling bertukar tinju.. dia.. laki-laki 15 tahun yang tubuhnya lebih besar daripada tubuhku, melawan seorang perempuan yang hanya 2/3 tinggi badannya. yang kutakutkan saat itu bukan lebam-lebam di tubuhku, tetapi aku takut kehilangan harga diriku. kami melanjutkan hobi kami sampai kemudian seorang guru datang dan melerai kami berdua. akhirnya pertunjukanpun selesai dan tirai segera ditutup. hari itu kami menjadi bintang pertunjukan di kelas kami….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s