Writing competition

Minggu lalu aku membuka situs gogle.com untuk searching tentang lomba menulis. Aku menemukan salah satu lomba yang-awalnya- kukira menarik karena bertemakan pendidikan. Aku mebuka situsnya dan mendapati bahwa yang mengadakan lomba itu adalah kemendiknas. Temanya adalah “menjangkau yang terjangkau”

Akupun segera mencari data dan mencari ide artikel macam apa yang hendak kubuat. Pencarian dataku mengajarkanku beberapa hal antara lain betapa besar anggaran yang sudah diberikan oleh pemerintah untuk bidang pendidikan ini yakni sekitar 75,79 triliun rupiah. Aku juga membaca data mengenai mobil pintar yang digagas oleh ibu Ani Yudhoyono. Aku melihat adanya usaha dari pemerintah untuk meningkatkan pendidikan yakni dengan usaha sertifikasi guru untuk peningkatan kualitas guru, mengadakan sekolah gratis bagi tingkat SD sampai SMU, namun mengapa dunia pendidikan di Indonesia seolah tidak mengalami perbaikan apapun?

Selain data-data tersebut, aku pun membaca di beberapa koran mengenai sekolah yang masih saja menarik pungutan dari masyarakat walau sudah diberi dana BOS dengan alasan bantuan yang diberikan pemerintah tidak mencukupi kebutuhan operasional sekolah. Begitu juga banyaknya dana kurang tepat sasaran dan berbagai permasalahan yang lain.

Aku pernah berbincang dengan temanku mengenai masalah pendidikan di indonesia. Jika kita melihat keadaan jaman sekarang, banyak generasi muda indonesia yang tidak bersekolah dengan alasan biaya yang mahal. Temanku berpendapat “untuk apa bersekolah lha sekolah juga ga bikin mereka bisa dapat uang”. Sangat mudah bagi kita untuk mematahkan anggapan ini dengan menunjukkan banyaknya orang sukses yang berasal dari kalangan tidak mampu. Tapi orang-orang tersebut  benar-benar memiliki mentalitas yang sekuat baja. Sementara jika kita melihat rakyat indonesia, sepertinya awan pesimisme yang menggayut di atas kepala, karena kita dijejali dengan berita bahwa banyak juga sarjana yang menganggur karena lapangan pekerjaan yang tersedia sedikit.

Akhirnya stuck dengan semua itu. Entah ini yang disebut pesimisme atau bukan, tak pernah benar2 yakin. Teman yang lain mengatakan bahwa anggaran harus diperbesar agar dapat memberbaiki saran dan prasarana pendidikan. Tapi kita sama-sama tahu bahwa koripsi sudah mendarah daging di negeri ini. Perbesar anggaran pendidikan, maka jumlah uang yang akan dikorupsi juga makin besar. Pembenahan sistem, apapun itu, jika tidak disertai dengan pembenahan mental, maka tidak akan ada hasilnya. Ah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s