anak berkebutuhan khusus (autis) di sekolah umum

Di kelasku terdapat seorang anak berkebutuhan khusus karena dia mengidap autisme. orangtuanya telah menterapinya dengan sangat baik sehingga ketika dia masuk di kelas kami, perilaku autismenya -walau masih sangat nampak- tapi setidaknya dia sudah bisa berkomunikasi dengan kami. dia bisa menjawab pertanyaan kami walau masih belum adanya kontak mata darinya. dia juga mampu mengikuti instruksi yang kami berikan dan menjawab soal-soal yang kami berikan dalam waktu yang cepat walau kadang pada saat mengajar dia terlihat sibuk menggambar ataupun meraut pensil, spidol ataupun alat tulisnya. dia tertarik untuk melihat berbagai alat tulis milik temannya, untuk kemudian dia bawa kemana-mana, tidak bermaksud untuk merusaknya, hanya ingin melihatnya saja. terkadang dia mencoret wajahnya karena katanya dia ingin membuat face deco.. he’s so special for us with his special needs.

definisi anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra (individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan), tunarungu( individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen), tunagrahita ( individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku), tunadaksa(individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muscular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan), tunalaras (individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial), kesulitan belajar(individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexian dan afasia perkembangan), gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan (sumber dari wikipedia).

memahaminya tentulah bukan perkara mudah bagi aku dan partnerku di kelas karena diantara kami tidak ada yang memiliki latar belakang sekolah psikologi ataupun memiliki standar seorang terapis autis, sehingga kamipun berusaha bekerja sama dengan orangtuanya agar kami dapat mengetahui treatment apa yang sedang dijalankan oleh keluarga dan apa yang dapat kami lakukan di sekolah. kami juga beruntung karena memiliki psikolog sekolah, dan beberapa teman juga merupakan lulusan psikologi. kamipun pada akhirnya juga berusaha untuk menambah informasi dengan membaca di situs-situs tertentu ataupun buku refrensi untuk mengajar anak berkebutuhan khusus terutama autisme.

kadang aku bertanya dalam hati. bisakah anak berkebutuhan khusus ini masuk ke dalam kelas reguler seperti layaknya anak biasa? standar yang diterapkan di sekolah normal umumnya mengacu pada standar anak dengan kemampuan normal. di sekolahku yang memiliki aspek penilaian akademis maupun life skill, jelas kurang memungkinkan anak ini memperoleh nilai yang baik terutama di bagian life skill karena memang life skill inilah yang menjadi masalah utamanya. latar belakang pendidikan guru SD juga kebanyakan bukan berlatar belakang sarjana psikologi.bagaimana seharusnya sikap sekolah terhadap anak berkebutuhan khusus ini??

aku pernah membaca dalam sebuah buku mengenai autisme (aku lupa judul bukunya), yang pernah menyatakan bahwa jika anak autis ini sudah diterapi dengan cukup baik sehingga dia dapat berkomunikasi dengan baik dan menunjukkan perilaku yang -cukup- normal, maka dia dapat bersekolah di sekolah umum karena pada dasarnya sekolah umum yang akan membantu kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan sosialisasinya. sudah beberapa kali aku menjumpai adanya anak autis yang bersekolah di sekolah umum. walau perilaku autisnya masih nampak, namun tampaknya ada sedikit perubahan yang dapat diamati. hal ini aku lihat dalam diri muridku. perilaku autisnya masih sangat nampak, dia akan berlari-lari di dalam kelas saat kami mengajar, dia terkadang menggunting2 kertas dan kadang menggunting spidol ataupun marker kami untuk melihat seperti apa bentuk marker kami setelah digunting. namun dia menyadari kehadiran teman-temannya di kelas. dia ingin selalu berada bersama teman-teman kelasnya walau terkadang dia hanya bermain sendiri. teman-temanpun mendukungnya dengan mengajaknya bercanda ataupun bermain bersama. terkadang mereka mengajaknya bermain bersama. kebersamaan yang muridku ciptakan sunggu lucu dan mengharukan.. tapi tetap saja, pergumulan tak pernah usai karena kami masih harus berjuang keras untuk membantunya.

kami pernah bertanya pada psikolog sekolah, apakah ini dapat disembuhkan, dia menyatakan tidak karena ini bukanlah termasuk dalam definisi penyakit, tetapi perilaku orang autis ini dapat diusahakan untuk semirip mungkin dengan perilaku orang pada umumnya dengan melalui terapi dan diet yang ketat. bagaimanapun jika, seorang yang memiliki kecenderungan autis, jika disekolahkan pada sekolah umum bagai menjadi dilema karena :

1. tidak semua guru memiliki latar belakang untuk mengajar anak berkebutuhan khusus

2. tidak banyak sekolah yang memiliki standar ganda bagi anak berkebutuhan khusus. contohnya adalah apabila anak autis ini dapat dikategorikan pintar maka tidaklah menjadi masalah yang besar bagi nilai akademis mereka, namun jika anak autis ini mempunyai kemampuan akademis yang kurang, ditunjang lagi dengan kebutuhan khususnya, maka akan menjadi sulit bagi anak tersebut untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya

3. di lain pihak memang ada kebutuhan bagi anak autis ini untuk dapat bersekolah di sekolah umum agar dapat membantu dia dalam kebutuhan interaksi sosialnya dengan teman sebaya

lalu bagaimanakah sekolah harus menyikapinya? apa yang harus kami lakukan sebagai seorang guru?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s